Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Menjalani peran sebagai orang tua memang bukan perjalanan yang selalu mudah ya, Moms & Dads. Setiap harinya, kita dihadapkan pada berbagai pilihan tentang bagaimana cara terbaik untuk mendidik dan membesarkananak. Sering kali, rasa cinta yang begitu besar membuat kita ingin melindungi Si Kecil dari segala kesalahan dan kegagalan. Niat baik ini kadang tanpa sadar mengarahkan kita pada pola asuh yang sangat ketat.
Moms mungkin pernah mendengar istilah strict parents yang belakangan ini sering diperbincangkan di media sosial. Nah, berikut ini penjelasan lengkap mengenai apa arti sebenarnya dari pola asuh strict parents, ciri-cirinya dalam keseharian, dan bagaimana dampaknya terhadap kesehatan mental dan emosional anak di masa depan.
Apa itu pola asuh strict parents?
Pola asuh strict parents merujuk pada gaya pengasuhan otoriter, di mana orang tua menetapkan aturan yang sangat kaku dan menuntut kepatuhan mutlak dari anak mereka. Orang tua dengan pola asuh ini umumnya memiliki ekspektasi yang sangat tinggi terhadap prestasi dan perilaku anak, tetapi memberikan ruang yang sangat minim bagi anak untuk berdiskusi, memberikan pendapat, atau membuat pilihannya sendiri.
Dalam pendekatan ini, disiplin sering kali ditegakkan melalui hukuman alih-alih pemahaman atau bimbingan positif. Anak diharapkan untuk mengikuti aturan tanpa banyak bertanya. Meski tujuannya sering kali bermula dari keinginan kuat untuk melihat anak sukses dan terhindar dari pergaulan buruk, pendekatan yang satu arah ini justru bisa menghambat perkembangan karakter anak secara alami.
Baca juga: Screamfree Parenting, Pola Asuh agar Orang Tua Bisa Kendalikan Emosinya
Ciri-ciri pola asuh strict parents
Berikut ini beberapa karakteristik utama dari pola asuh strict parents.
1. Aturan ketat tanpa kompromi
Orang tua menetapkan serangkaian aturan rumah yang kaku dan tidak dapat diganggu gugat. Ketika anak melakukan kesalahan atau melanggar aturan, fokus utama orang tua tertuju pada pemberian sanksi atau hukuman, bukan pada mencari tahu akar masalah atau memberikan penjelasan mengapa tindakan tersebut salah.
2. Tuntutan tinggi pada anak
Terdapat tekanan yang terus-menerus bagi anak untuk selalu tampil sempurna, baik dalam bidang akademis, olahraga, maupun perilaku sosial. Orang tua sering kali menetapkan standar yang tidak realistis dan sulit dicapai oleh anak sesuai dengan usia dan kemampuannya, sehingga anak merasa tidak pernah cukup baik di mata orang tuanya.
3. Kurangnya dukungan emosional
Komunikasi yang terjalin biasanya hanya bersifat satu arah, yaitu dari orang tua ke anak. Anak jarang diberikan kesempatan untuk mengutarakan perasaannya. Jika anak menangis atau menunjukkan rasa frustrasi, hal tersebut kerap kali dianggap sebagai bentuk kelemahan atau pembangkangan, bukan sebagai emosi valid yang butuh divalidasi dan ditenangkan.
Baca juga: Tanpa Kekerasan dan Ancaman, Ini 10 Teknik Disiplin Positif untuk Anak
Dampak strict parents pada perkembangan anak
Gaya pengasuhan yang kita terapkan akan membentuk cara anak memandang dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya, Moms & Dads. Pengasuhan yang terlalu ketat dan minim kehangatan dapat membawa beberapa dampak signifikan pada anak, seperti:
1. Rentan mengalami stres dan kecemasan
Tekanan untuk selalu menjadi sempurna dan ketakutan akan hukuman membuat anak hidup dalam kewaspadaan tinggi. Anak rentan mengalami kecemasan sosial, stres kronis, bahkan depresi karena merasa selalu diawasi dan tidak memiliki tempat yang aman untuk berekspresi, bahkan di rumahnya sendiri.
2. Kesulitan mengambil keputusan sendiri
Karena terbiasa diatur dalam segala hal, anak kehilangan kesempatan untuk melatih insting dan kemampuannya dalam membuat keputusan. Saat anak tumbuh dewasa dan harus menghadapi situasi dunia nyata, ia cenderung merasa ragu-ragu, tidak percaya diri, dan selalu bergantung pada persetujuan orang lain.
3. Berpotensi memiliki perilaku memberontak
Alih-alih menjadi anak yang penurut, lingkungan yang terlalu mengekang justru sering memicu rasa marah yang terpendam. Saat anak mulai beranjak remaja dan mencari jati diri, ia sangat mungkin menunjukkan perilaku memberontak secara sembunyi-sembunyi, atau bahkan mencari kebebasan di tempat yang salah.
Itulah penjelasan mengenai pola asuh strict parents dan dampaknya pada anak. Sebagai orang tua, wajar jika kita ingin memberikan yang terbaik dan menetapkan batasan demi kebaikan anak. Namun, batasan tersebut idealnya diimbangi dengan kehangatan, empati, dan komunikasi dua arah. Memberikan ruang bagi anak untuk melakukan kesalahan dan belajar darinya adalah bagian penting dari proses tumbuh kembangnya, Moms & Dads. (MB/SW/Foto: Peoplecreations/Freepik)
