Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Sebuah toko kue yang buka 24 jam. Halte dengan papan hitung mundur kedatangan bus. Jalur khusus bagi penyandang disabilitas netra. Kereta yang tersambung langsung ke gedung. Itulah sebagian dari "kota ajaib" yang dibayangkan anak-anak dalam sesi menggambar yang digelar ITDP (Institut Kebijakan Transportasi dan Pembangunan) Indonesia berkolaborasi dengan Komunitas Buibu Baca Buku dan juga didukung oleh Clean Mobility Collective Southeast Asia (CMCSEA) di Taman Bendera Pusaka, Jakarta, untuk memperingati Hari Anak Nasional.
Lewat gambar-gambar tersebut, anak-anak justru menyoroti hal-hal yang kerap luput dari perhatian orang dewasa: akses yang mudah, ruang yang aman, udara bersih, hingga transportasi yang nyaman digunakan semua orang. Qiana (8) membayangkan kota dengan halte yang informatif dan parkir sepeda. Nakami (9), menggambar jalur khusus bagi pejalan kaki dan penyandang disabilitas netra serta kereta yang melintas di atas ai. Sementara Raditya (10), menghadirkan bus listrik, kereta yang terhubung langsung ke bangunan, dan jalanan yang rindang.
Yustinus Prastowo, Wakil Koordinator Staf Khusus Gubernur Provinsi DKI Jakarta, menilai benang merah dari gambar-gambar tersebut adalah imajinasi anak tentang kota ideal yang sudah semestinya menjadi bagian dari perencanaan kota.
"Anak-anak punya imajinasi tentang bagaimana kota ideal menurut mereka, dan itu perlu menjadi bagian dari perencanaan yang baik. Kesadaran mereka terhadap kualitas udara dan ruang kota justru sangat menarik," ujar Yustinus.
Ia menegaskan, Pemprov DKI Jakarta memilih memperkuat apa yang sudah tersedia ketimbang memulai dari nol: legacy Transjakarta diperkuat dengan target 10.000 bus listrik pada 2030, stasiun dan Jembatan Penyeberangan Orang di kawasan Jakarta International Stadium terus dilengkapi, sementara RPTRA, termasuk Taman Bendera Pusaka, terus direvitalisasi untuk memenuhi kebutuhan warga akan ruang publik dan mempererat kerekatan sosial, seiring perbaikan trotoar untuk meningkatkan aksesibilitas, dan penambahan shelter. Baginya, masukan anak-anak ini menjadi pengingat bahwa penting untuk tidak hanya menyediakan sarana, tetapi juga memperhatikan kebutuhan penggunanya.
Bagi ITDP Indonesia, imajinasi tersebut bukan sekadar karya menggambar, melainkan masukan bagi perencanaan transportasi yang lebih inklusif.
Kota Ajaib: Saat anak melihat kota dari sudut pandang berbeda
Deliani Siregar, Deputi Direktur ITDP Indonesia, menjelaskan tema "Kota Ajaib" dipilih karena anak melihat kota dari sudut pandang yang berbeda. "Kami melihat anak-anak memiliki perhatian yang luar biasa terhadap detail yang sering terlewat oleh orang dewasa. Mereka memandang kota dari tinggi mata sekitar 95 sentimeter, sehingga pengalaman mereka terhadap ruang kota juga berbeda," ujarnya.
Gonggomtua Sitanggang, Direktur Asia Tenggara ITDP Indonesia menambahkan bahwa transportasi publik selama ini lebih banyak dirancang untuk kebutuhan orang dewasa yang bekerja. Padahal, jika kota dirancang ramah bagi anak dan kelompok rentan, manfaatnya akan dirasakan oleh seluruh masyarakat.
Menurutnya, momentum transisi menuju bus listrik juga menjadi kesempatan untuk memastikan aspek inklusivitas, seperti ruang bagi stroller dan barang bawaan, diintegrasikan dalam armada bus listrik yang baru.
Sebagai ibu sekaligus ilustrator, Puty Puar, Pendiri dan Direktur Eksekutif Buibu Baca Buku Book Club, juga mengajak peserta melihat kota dari perspektif anak. Ia menilai anak cenderung menggambar hal-hal yang benar-benar mereka alami sehari-hari, mulai dari stroller hingga akses menuju transportasi umum. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa perencanaan kota perlu lebih banyak mendengarkan suara anak dan keluarga.
Sebagai bentuk apresiasi sekaligus perayaan Hari Anak Nasional pada 23 Juli, 16 karya anak tentang kota ajaib versi mereka dipajang di dalam 8 armada bus listrik TransJakarta Koridor 1 selama 1 bulan ke depan.
Melalui kegiatan ini, ITDP Indonesia berharap perspektif anak dapat menjadi salah satu masukan dalam mewujudkan sistem transportasi yang lebih inklusif, ramah lingkungan, dan berpusat pada kebutuhan masyarakat. (MB/RF/Foto: Dok. ITDP)
