Type Keyword(s) to Search
KID

Waspada Strabismus, Kondisi Mata Juling yang Memengaruhi Penglihatan Anak

Waspada Strabismus, Kondisi Mata Juling yang Memengaruhi Penglihatan Anak

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Strabismus atau yang dikenal dengan mata juling merupakan kondisi ketika satu mata melihat satu objek, namun mata lain menyimpang dengan pergeseran yang mengarah ke dalam, ke luar, ke atas, atau ke bawah. Strabismus sendiri terjadi pada 148 juta orang di seluruh dunia. Sementara di Indonesia sendiri belum ada angka yang pasti mengenai jumlah penderitanya. 

Meski angka prevalensinya cukup tinggi, sayangnya masih banyak pasien strabismus yang menganggap sepele masalah ini. Beberapa pasien bahkan pasrah dengan kondisi tersebut dan hidup dengan gangguan ini sepanjang usianya. Padahal, strabismus lebih dari sekadar masalah estetika.

“Selain memengaruhi fungsi penglihatan, strabismus juga dapat berdampak secara psikososial. Pada anak, kondisi ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan meningkatkan risiko perundungan,” ucap Dr. Referano Agustiawan, SpM(K), Direktur Utama RS Mata JEC @ Menteng, yang ditemui di Jakarta, pada Senin (10/8/2026).

Kenali penyebab dan tanda strabismus

Strabismus dapat dibedakan berdasarkan arah pergeseran mata (deviasi). Esotropia terjadi ketika mata bergeser ke arah dalam atau mendekati  hidung, sedangkan exotropia terjadi ketika mata bergeser ke arah luar. Pergeseran mata ke atas disebut hypertropia, sementara pergeseran ke bawah disebut hypotropia. 

Selain berdasarkan arah deviasi, strabismus juga dapat dikenali berdasarkan pola kemunculannya, antara lain:

  • Strabismus manifest atau nyata, yaitu ketidaksejajaran mata yang terlihat jelas dan dapat muncul terus-menerus.
  • Strabismus latent atau tersembunyi, yaitu kecenderungan mata bergeser (berdeviasi) yang biasanya tidak terlihat dalam kondisi sehari-hari dan baru terdeteksi melalui pemeriksaan tertentu.
  • Strabismus intermittent atau hilang-timbul, yaitu mata juling yang hanya muncul pada waktu tertentu, misalnya ketika anak lelah, mengantuk, melamun, sakit, atau kehilangan fokus.
  • Strabismus alternating atau bergantian, yaitu ketidaksejajaran yang dapat berpindah antara mata kanan dan kiri.

“Pada bayi berusia sekitar tiga hingga empat bulan, mata terkadang tampak belum sepenuhnya terkoordinasi karena sistem penglihatan masih berkembang. Namun, apabila ketidaksejajaran menetap setelah usia empat bulan, mata juling umumnya tidak membaik dengan sendirinya dan dapat memengaruhi penglihatan tiga dimensi, persepsi jarak, serta meningkatkan risiko ambliopia,” ucap DR. Dr. Lely Retno Wulandari, SpM(K), Wakil Ketua INAPOSS dan Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics.

Lebih lanjut Dr. Lely menambahkan, orang tua sebaiknya segera memeriksakan anak ke dokter jika anak sering memiringkan kepala, menutup salah satu mata, menyipit ketika melihat, kesulitan menangkap benda, sering menabrak, sulit memperkirakan jarak, atau mengeluh penglihatan ganda. Selain itu, juling yang muncul mendadak, terlebih jika disertai sakit kepala, muntah kelopak mata turun, kelemahan anggota tubuh, dan gangguan saraf lainnya juga perlu segera diperiksa.

Strabismus dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain riwayat keluarga, kelahiran prematur, berat lahir rendah, kelainan refraksi yang tidak terkoreksi, perbedaan ketajaman penglihatan antara kedua mata, serta gangguan pada otot atau saraf penggerak mata. Kondisi neurologis, trauma, diabetes, hipertensi, dan penyakit sistemik tertentu juga dapat menyebabkan strabismus, khususnya yang muncul pada usia dewasa.

Saat ini masih banyak mitos yang beredar di masyarakat terkait kondisi mata juling, mulai dari anggapan bahwa mata juling membawa keberuntungan, disebabkan oleh posisi menyusui yang salah, tidak dapat ditangani, hingga dapat sembuh sendiri seiring bertambahnya usia. Padahal, strabismus merupakan kondisi medis yang perlu diperiksa untuk mengetahui penyebab, dampak terhadap fungsi penglihatan, serta pilihan penanganannya.

Pentingnya penanganan masalah mata juling

Bertepatan dengan World Strabismus Day (Hari Strabismus Sedunia) yang diperingati setiap 10 Agustus, RS Mata JEC @ Menteng meresmikan Pusat Operasi Mata Juling, layanan khusus untuk penanganan strabismus atau mata juling bagi pasien anak dan dewasa. Didukung Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC, layanan ini mencakup pemeriksaan diagnostik, koreksi kelainan refraksi, terapi ambliopia dan latihan penglihatan, hingga operasi otot mata berdasarkan diagnosis dan kebutuhan klinis pasien.

Penanganan strabismus disesuaikan dengan penyebab, usia pasien, arah dan besar deviasi mata, ketajaman penglihatan, kelainan refraksi, keberadaan ambliopia atau mata malas, fungsi penglihatan binokular, serta kondisi kesehatan yang menyertai. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, penanganan dapat berupa penggunaan kacamata hingga operasi sesuai indikasi medis. Keberhasilannya tidak hanya dilihat dari perbaikan posisi mata, tetapi juga dari meningkatnya fungsi penglihatan dan koordinasi kedua mata, berkurangnya penglihatan ganda, serta kemampuan pasien menjalani aktivitas sehari-hari.

“Keputusan operasi tidak dibuat hanya untuk memperbaiki penampilan, namun lebih jauh untuk memperbaiki fungsi mata secara menyeluruh, sedapat mungkin dicapai penglihatan binokular tunggal. Oleh karena itu, sebelum melakukan tindakan, kami perlu menilai pola dan besar deviasi, fungsi kedua mata, usia, penyebab, serta kondisi kesehatan pasien. Apabila operasi dibutuhkan, perencanaannya disusun secara individual (sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasien) dan disertai pemantauan sesudah tindakan secara berkesinambungan. Penanganan ini relevan bagi anak untuk memfasilitasi perkembangan penglihatan, serta bagi pasien dewasa yang mengalami penglihatan ganda akibat perubahan posisi mata sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari,” jelas Dr. Gusti G. Suardana, SpM(K), Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus sekaligus Ketua Layanan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics. 

Itulah beberapa penjelasan mengenai penyebab dan tanda mata juling pada anak yang dapat mengganggu fungsi penglihatan. Deteksi dini menjadi langkah penting yang harus dilakukan agar mata juling dapat segera diatasi dengan penanganan yang tepat. (MB/RF/Foto: Freepik & Dok. JEC @ Menteng)