FAMILY & LIFESTYLE

Anggia Kharisma: Work Life Balance Itu Kita Sendiri yang Ciptakan


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Menjadi seorang produser sekaligus Chief of Content Strategy di Visinema Studios merupakan tantangan untuk Anggia Kharisma. Namun, kecintaannya terhadap dunia perfilman, membuat Anggia mendalami profesi tersebut.

Menurut Anggia, menjadi seorang produser apalagi berfokus pada tema keluarga dan anak, membangun inner child yang ada dalam dirinya. Hal itu justru membuatnya menjadi lebih mudah untuk memahami alur, keadaan, serta rasa. Selain itu, Anggia yang memiliki putra bernama Angkasa Rigel Sasongko (Rigel) yang saat ini berusia 9 tahun, merupakan istri dari Angga Dwimas Sasongko yang merupakan Founder & CEO Visinema. Meskipun Anggia dan Angga sering terlibat dalam satu project yang sama, profesionalitas tetap nomor satu bagi mereka.

Lantas bagaimana Anggia membagi waktu antara keluarga dan profesinya? Simak ceritanya secara eksklusif kepada Mother & Beyond dalam Working Moms Lyfe berikut ini!

Sebagai seorang produser film, apakah Anggia suka menonton film?

Sangat suka. Menonton film bagi saya sama saja dengan belajar, memahami manusia, dan membuka perspektif. Di balik setiap film, ada gagasan, ada refleksi, dan ada pengalaman paling personal yang disematkan oleh kreatornya.

Menjadi seorang produser tentu banyak tantangan, pengalaman apa yang paling membekas untuk Anggia?

Yang paling membekas untuk saya justru momen-momen ketika kami berdiskusi dengan development kreatif dan harus terus berdaya menyelesaikan tahapan produksi berkarya. Tapi, kami bertahan untuk menemukan solusi yang berujung kepada banyak possibilities, karena kami percaya dalam membuat karya yang punya makna bukan hanya tentang disiplin. Yang tidak kalah pentingnya adalah memaknai serta menikmati juga bersabar dalam prosesnya, one step at a time. What else is possible.

Menonton film bagi saya sama saja dengan belajar, memahami manusia, dan membuka perspektif.

Selain di Visinema, apa kesibukan Anggia saat ini?

Saat ini saya sedang fokus mendalami berbagai pendekatan modalitas pengembangan diri, dan memimpin tim kreatif juga butuh kapasitas emosional yang stabil. Saya belajar lewat pengalaman, self-study, dan tetap hadir untuk keluarga, dan tentunya juga menikmati momen bersama keluarga.

Bagaimana cara tetap profesional bekerja dengan suami yang juga punya profesi di bidang sama?

Kuncinya ada di komunikasi yang jujur dan transparan. Kami menyadari bahwa peran di rumah dan di kantor berbeda. Di rumah, kami pasangan. Di kantor, kami rekan kerja yang punya tanggung jawab masing-masing. Kami sering berdiskusi tentang banyak hal, termasuk impian-impian kami dan saling mendukung untuk mewujudkannya. Namun, kami juga memberi ruang untuk berbeda pendapat. Prinsipnya adalah terus mau belajar mengenal satu sama lain serta memahami dengan berempati tanpa mencampuradukkan ego pribadi ke dalam keputusan profesional.

Film Jumbo sudah tembus 10 juta penonton, apa makna film ini bagi Anggia?

Jumbo bagi saya adalah ruang pengingat bahwa kita semua punya inner child yang butuh dirawat. Film ini adalah cerminan tentang rasa aman, tentang keberanian bermimpi, dan tentang pentingnya kasih sayang dalam kehidupan kita.

Melihat Jumbo diterima begitu hangat di Indonesia dan akan segera tayang di lebih dari 30 negara adalah validasi bahwa cerita lokal dengan nilai-nilai universal bisa melampaui batas budaya dan bahasa. Ini bukan hanya soal film, tapi tentang memperkuat identitas kita sebagai bangsa pencerita, juga langkah awal untuk industri animasi yang berkelanjutan.

Bekerja dengan pasangan kuncinya ada di komunikasi yang jujur dan transparan. Prinsipnya adalah terus mau belajar mengenal satu sama lain serta memahami dengan berempati tanpa mencampuradukkan ego pribadi ke dalam keputusan profesional.

Kenapa tertarik mewujudkan cerita Jumbo ke layar lebar?

Karena saya merasa ada kekosongan serta kurangnya film anak yang tidak hanya menghibur, tapi juga membangun karakter. Saya ingin membuat film yang bisa menjadi ruang belajar bersama keluarga tentang keberanian, tentang empati, dan tentang menerima diri sendiri, tentang belajar mendengarkan sepenuh hati serta mencintai lebih baik lagi. Dan untuk Jumbo menjadi penting untuk hadir sebagai evergreen IP.

Menurut Anggia, work life balance itu bisa enggak, sih?

Work life balance itu saya memaknainya enggak harus fifty-fifty. Ketika kamu cuma punya waktu 5 menit aja buat diri kamu, you have to claim it, and actually, kamu udah punya work life balance. Ketika kamu sudah memaknai itu, buat aku itu udah work life balance, kok. Jadi, work life balance itu kita sendiri yang ciptakan.

Saya percaya film yang baik haruslah memberi ruang untuk refleksi, membuka percakapan, dan menjadi pengalaman yang mempererat hubungan antara orang tua dan anak, juga terhubung dengan diri sendiri.

Apa makna keluarga untuk Anggia?

Buat saya, keluarga memang ada dari keluarga internal, tapi juga ada keluarga yang lebih superinternal, dan keluarga yang kamu temui saat kamu menjalani hidup kamu. Jadi, keluarga itu segala-galanya untuk saya.

Apa pesan Anggia untuk anak dan orang tua tentang pentingnya menonton film sesuai usia?

Film bukan hanya hiburan, ia adalah media belajar yang sangat kuat, terutama bagi anak-anak. Apa yang mereka tonton akan memengaruhi cara mereka berpikir, merasakan, dan mengenal dunia. Karena itu, penting bagi orang tua untuk selektif memilih tontonan yang sesuai dengan usia anak, bukan hanya aman, tapi juga punya nilai dan pesan yang baik.

Sebagai produser dan juga orang tua, saya percaya film yang baik haruslah memberi ruang untuk refleksi, membuka percakapan, dan menjadi pengalaman yang mempererat hubungan antara orang tua dan anak, juga terhubung dengan diri sendiri. (M&B/Gianti Puteri/SW/Photographer: Lintang Sukmana/Digital Imaging: Erlangga Namaskoro/MUA: Atika Sakura (@atikasakuramakeup)/Hairstylist: Siti Nurlaila)