FAMILY & LIFESTYLE

Mengenal Lighthouse Parenting: Gaya Asuh Penuh Cinta tapi Tetap Tegas


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Semua orang tua pasti ingin menerapkan gaya parenting yang paling sesuai dengan karakter anak mereka. Untuk itu, tak ada salahnya mengenal berbagai gaya parenting sampai menemukan yang paling cocok diterapkan. Salah satu gaya parenting yang sedang ramai dibahas dan menjadi tren di 2025 ini adalah lighthouse parenting atau pola pengasuhan mercusuar.

Penasaran mau tahu seperti apa lighthouse parenting dan seperti apa ciri-cirinya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini, Moms!

Apa itu lighthouse parenting?

Lighthouse parenting adalah gaya pengasuhan yang makin populer di 2025, karena dianggap seimbang antara kasih sayang dan batasan yang jelas. Istilah ini diperkenalkan oleh Dr. Kenneth Ginsburg, dokter anak dan pakar perkembangan remaja dari The Children’s Hospital of Philadelphia.

Dalam lighthouse parenting, orang tua berperan sebagai mercusuar (lighthouse) yang:

  • Berdiri kokoh di tempat yang aman
  • Memberikan cahaya dan arahan
  • Tapi tidak ikut masuk ke laut dan mengendalikan "kapal" anaknya.

Dengan kata lain, orang tua yang menerapkan lighthouse parenting memberikan panduan dan nilai hidup untuk anaknya, tapi tetap memberikan ruang bagi anak untuk membuat pilihan dan belajar dari kesalahannya sendiri.

Baca juga: Mengenal Gentle Parenting, Pola Asuh untuk Membentuk Anak Mudah Berempati

Prinsip-prinsip lighthouse parenting

Tidak membebaskan, tapi juga tidak mengekang anak. Berikut ini beberapa prinsip yang diterapkan dalam lighthouse parenting, Moms.

1. Fokus pada koneksi emosional, bukan kontrol. Anak yang merasa dipahami lebih terbuka menerima nasihat dibandingkan anak yang merasa dikontrol atau dikekang.

2. Menjadi contoh, bukan diktator. Orang tua yang menerapkan lighthouse parenting lebih memilih menunjukkan nilai-nilai kehidupan lewat tindakan, bukan ceramah tanpa batasan.

3. Memberi batasan yang sehat. Anak tetap butuh batasan, lho. Pastikan batasan yang Moms berikan jelas, konsisten, dan bisa dipahami oleh logika anak.

4. Mendorong kemandirian. Mandiri dan memiliki ketahanan mental atau resilience adalah prinsip lighthouse parenting. Anak perlu mencoba tantangan, kegagalan, bahkan frustrasi, tapi tetap mendapat dukungan penuh dari orang tuanya.

5. Say no to overparenting! Orang tua yang menerapkan lighthouse parenting tidak terlalu mencampuri hal-hal yang bisa diselesaikan anak sendiri. Dipandu, diberi arahan, tapi tidak ikut campur dalam penyelesaian masalah anak.

Baca juga: 5 Dampak Pola Asuh Otoriter bagi Perkembangan Anak

Dampak positif lighthouse parenting

Dengan penjelasan yang sudah dijabarkan di atas, Moms tentu sudah mulai mengenai lighthouse parenting. Kira-kira cocok tidak diterapkan ke Si Kecil? Coba pertimbangkan dampak positif lighthouse parenting berikut ini, Moms.

  • Anak memiliki daya juang lebih tinggi (resilience) saat menghadapi stres atau kegagalan.
  • Anak merasa aman secara emosional, tapi juga tahu cara mandiri dan menyelesaikan masalah sendiri.
  • Mengurangi risiko anxiety dan perfectionism akibat tekanan berlebihan dari orang tua.
  • Anak cenderung memiliki self-esteem yang baik dan stabil, karena ia merasa dipercaya dan selalu mendapat dukungan penuh dari orang tuanya.

Contoh nyata lighthouse parenting

Bingung contoh penerapan lighthouse parenting dalam membersamai tumbuh kembang Si Kecil? Coba simak beberapa contoh nyata ini, Moms!

Contoh 1: Moms memberi kesempatan anak untuk memilih les apa saja yang disukainya. Mau lebih dari satu les? Boleh saja, tapi sebelumnya tetap dibekali dengan diskusi mendalam mengenai tanggung jawab dan komitmen dalam mengikuti les.

Contoh 2: Ketika anak sedih karena tidak menang lomba, Moms tidak memaksa anak untuk ceria, tapi mendengarkan keluh kesahnya dan memvalidasi perasaannya. Setelah mood anak membaik, barulah Anda memberi semangat dan refleksi performa anak.

Contoh 3: Saat anak baru mengerjakan tugas prakarya di waktu yang sangat mepet deadline, Moms tidak serta merta mengambil alih tugasnya agar cepat selesai dengan baik. Anda hanya menemani anak untuk menyelesaikan tugasnya sendiri dan menerima konsekuensinya (risiko tugas tidak selesai dengan sempurna).

Di tengah derasnya arus informasi dan tekanan sosial, anak-anak kita tak butuh orang tua yang sempurna, mereka butuh “lighthouse” yang menerangi jalan tanpa memaksa arah. Dengan menjadi orang tua ala lighthouse, Moms bisa tetap hadir, membimbing dengan cinta, tapi memberi ruang bagi anak untuk belajar, jatuh, dan bangkit.

Inilah gaya asuh masa kini yang bukan hanya relevan, tapi juga membentuk generasi tangguh dan percaya diri. Yuk, jadi mercusuar bagi Si Kecil, bukan nakhoda yang terus memegang kendali, Moms. (M&B/TW/Foto: Canva)