FAMILY & LIFESTYLE

Jangan Tunda Konsultasi dan Terapi, Gangguan Bipolar dan Skizofrenia Tak Boleh Diabaikan!


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Gangguan bipolar dan Skizofrenia cenderung sering dialami di masyarakat kita akhir-akhir ini. Untuk itu, masyarakat diimbau untuk tidak menunda konsultasi dan terapi jika menyadari adanya gangguan bipolar (GB) dan Skizofrenia, baik pada diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan sekitar. GB dan Skizofrenia memerlukan penanganan medis secara tepat dan cepat, untuk mencegah perburukan penyakit pada pasien. Konsultasi dan terapi sebaiknya segera dilakukan pada spesialis kedokteran jiwa (psikiatri).

Penatalaksanaan Skizofrenia dan GB sebaiknya bersifat komprehensif. Yang paling utama adalah memperbaiki kekacauan kimia otak melalui pengobatan serta melibatkan orang terdekat untuk mendukung penderita berobat dengan baik dan teratur.

Apa itu Skizofrenia dan gangguan bipolar?

Dokter Ashwin Kandouw, Sp.KJ, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa menyatakan, “Skizofrenia merupakan gangguan mental berat, bersifat kronis dan memengaruhi pikiran perasaan dan perilaku penderita. Gangguan pikiran pada penderita bisa berupa kekacauan proses pikir yang terlihat melalui cara bicara yang kacau, bisa juga terganggunya isi pikir yang tampak sebagai waham yaitu keyakinan yang salah dan tidak sesuai dengan realita yang ada, tapi diyakini oleh penderita.”

“Gangguan perasaan bisa berupa penumpulan emosi atau bahkan mood yang kacau. Gangguan perilaku biasanya berupa perilaku yang kacau, bahkan bisa agresif. Sering juga ada gangguan persepsi panca indra berupa halusinasi, yaitu adanya persepsi panca indra (pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan, rabaan) tanpa ada sumber rangsangnya,” lanjutnya.

“Sedangkan GB merupakan gangguan mood atau suasana perasaan. ‘Bi’ artinya dua dan ‘polar’ artinya kutub. Jadi, penderita bipolar akan mengalami mood yang berubah-ubah secara ekstrem, dari kutub manik ke kutub depresi, dan juga sebaliknya. Beberapa gejala yang muncul pada fase manik seperti rasa gembira dan rasa percaya diri yang berlebihan, merasakan peningkatan tenaga dan semangat yang berlebihan, serta cenderung menjadi sembrono, nekat, dan menyerempet bahaya,” jelas dr. Ashwin.

“Sedangkan pada fase depresi, gejalanya berupa rasa sedih yang berlebihan dan sulit dikendalikan, kehilangan kesenangan dari hobi yang biasanya menyenangkan, terjadinya penurunan tenaga dan konsentrasi, perubahan nafsu makan, gangguan tidur, menurunnya keinginan sosialisasi dan kepercayaan diri, kecenderungan melukai diri sendiri, bahkan ingin mengakhiri hidup,” tambahnya.

Kesamaan gangguan bipolar dan Skizofrenia

“Walaupun GB dan Skizofrenia merupakan dua gangguan yang berbeda, ada juga beberapa kesamaannya, yaitu sama-sama terjadi gangguan keseimbangan kimia otak, bersifat kronis, artinya perjalanan penyakitnya lama, dan bersifat kambuhan, artinya ada saat gejala bisa berkurang tapi juga ada saatnya bisa kambuh lagi. Kedua gangguan ini juga mengganggu fungsi dan produktivitas penderita, menyebabkan penderitaan, baik bagi penderita maupun keluarga penderita dan juga orang-orang di sekitar,” lanjut dr. Ashwin.

Menurut dr. Ashwin, makin cepat penderita mendapatkan pertolongan medis yang tepat, maka hasil pengobatannya juga akan jauh lebih baik. Sebaliknya, makin lambat penderita mendapat pertolongan medis maka peluang untuk pulih pun makin berkurang. Makin sering terjadi kekambuhan, maka hasil pengobatannya juga cenderung akan kurang baik bila dibandingkan dengan penderita yang jarang kambuh.

“Perlu diperhatikan bahwa pada setiap kekambuhan juga akan terjadi kerusakan sel otak yang tidak bisa diperbaiki lagi. Artinya, makin jarang kambuh, maka makin banyak sel otak yang terselamatkan. Dan makin sering kambuh, maka makin banyak sel otak yang mengalami kerusakan. Perlu diketahui bahwa sel otak yang sudah rusak cenderung tidak bisa pulih lagi,” urainya.

Ada beberapa kendala yang kadang menyulitkan penderita untuk segera bisa mendapatkan pelayanan medis yang tepat sesuai kondisinya, seperti ketidakpahaman, akses pengobatan terbatas dan sulit, keengganan penderita dan keluarga untuk berobat ke dokter, penyangkalan penderita dan atau keluarga, stigma gangguan jiwa yang masih kuat di mata masyarakat, dan kecenderungan masyarakat untuk mencari pengobatan alternatif terlebih dahulu.

“Dengan memahami masalah di atas maka dapat terlihat bahwa setiap pihak yang terkait dengan gangguan-gangguan ini perlu berkontribusi agar penderita bisa cepat mendapatkan pertolongan yang terbaik sesuai kondisinya. Ketidakpahaman bisa diatasi dengan sosialisasi dan edukasi kepada seluruh masyarakat,” tutup dr. Ashwin. (M&B/SW/Foto: Freepik)