FAMILY & LIFESTYLE

Mom of the Month: dr. Ria Yoanita, Sp.A., CIMI, CBS, AIFO-K


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Menyusui adalah jalinan istimewa antara ibu dan buah hatinya. Menurut dr. Ria Yoanita, Sp.A., CIMI, CBS, AIFO-K, mendapatkan air susu ibu (ASI) adalah fondasi kehidupan bagi seorang anak. Inilah salah satu alasan ia memilih untuk memberi dukungan lebih terhadap para ibu dalam memberikan ASI untuk buah hatinya.

Dokter Ria Yoanita, Sp.A., CIMI, CBS, AIFO-K bukan hanya dokter anak. Ia juga dikenal aktif dalam memberikan edukasi soal mengASIhi, baik di media sosial maupun melalui seminar.

Di balik kesibukannya sebagai tenaga kesehatan, dr. Ria juga seorang ibu dari tiga orang anak, Dominick Darrent Wijaya (14), Darryn Ridelia Wijaya (11), dan Emrich Darrel Wijaya (7). Lantas, bagaimana dr. Ria membagi prioritas antara profesi dan keluarganya? Yuk, simak wawancara M&B dengan dr. Ria Yoanita, Sp.A., CIMI, CBS, AIFO-K yang menjadi Mom of the Month Agustus 2025 berikut ini, Moms!

Selain dikenal sebagai dokter anak, dr. Ria juga memiliki gelar CIMI, CBS, dan AIFO-K. Boleh dijelaskan masing-masing apa itu CIMI, CBS, dan AIFO-K?

CIMI = Certified Infant Massage Instructor atau instruktur pijat bayi bersertifikat yang mengajarkan teknik pijat untuk mendukung tumbuh kembang dan bonding bayi. CNS = Certified Breastfeeding Specialist atau konsultan menyusui bersertifikat internasional yang membantu ibu menyusui dengan edukasi, teknik, dan solusi masalah laktasi. Sedangkan AIFO-K = ahli ilmu faal olahraga klinis, atau tenaga ahli yang menerapkan fisiologi olahraga dalam konteks klinis untuk rehabilitasi dan pencegahan penyakit.

Saya ingin benar-benar hadir sebagai pendukung utama proses menyusui. Memahami laktasi secara klinis membuat saya lebih siap mendampingi ibu dan menjawab keraguannya dengan ilmu, mengenali masalah, memberi intervensi, mencegah kegagalan menyusui, serta memastikan bayi mendapat hak nutrisinya secara optimal terutama di masa krusial kehidupan bayi.

Memilih untuk mengambil sertifikat CBS (Certified Breastfeeding Specialist). Kenapa dr. Ria menaruh perhatian besar terhadap hal yang berkaitan dengan menyusui?

Sebagai dokter spesialis anak, saya menyadari bahwa keberhasilan menyusui sangat menentukan kesehatan dan tumbuh kembang bayi. Sayangnya, banyak keluhan menyusui tidak tertangani dengan baik karena kurangnya pemahaman klinis yang mendalam. Itulah alasan saya mengikuti pelatihan Certified Breastfeeding Specialist (CBS).

Bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tapi saya ingin benar-benar hadir sebagai pendukung utama proses menyusui. Memahami laktasi secara klinis membuat saya lebih siap mendampingi ibu dan menjawab keraguannya dengan ilmu, mengenali masalah, memberi intervensi, mencegah kegagalan menyusui, serta memastikan bayi mendapat hak nutrisinya secara optimal terutama di masa krusial kehidupan bayi. Bagi saya, ini bukan pilihan tambahan, tapi bagian tak terpisahkan dari profesi saya sebagai dokter spesialis anak.

Menurut dr. Ria, kenapa seorang ibu harus memberikan ASI dan menyusui buah hatinya?

Sebagai ibu dan dokter spesialis anak, saya meyakini bahwa menyusui bukan sekadar memberi makan, tapi memberi fondasi kehidupan. ASI adalah nutrisi alami yang dirancang sempurna oleh tubuh ibu untuk melindungi, menutrisi, dan membentuk sistem imun serta perkembangan otak bayi sejak hari pertama.

Bagi ibu, menyusui mempercepat pemulihan, menurunkan risiko penyakit, dan memperkuat ikatan emosional yang tak tergantikan. Oleh sebab itu, mendukung ASI eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga usia minimal 2 tahun bukan hanya anjuran, tapi bagian dari tanggung jawab kita dalam memastikan generasi yang lebih sehat dan kuat.

Menyusui itu bukan soal “ASI atau tidak”, tapi tentang proses, perjuangan, dan bonding antara ibu dan bayi. Kita perlu lebih banyak mendukung, bukan menghakimi.

Sebagai dokter sekaligus certified breastfeeding specialist, bagaimana dr. Ria melihat kesadaran para ibu masa kini dalam memberikan ASI bagi buah hatinya?

Senang sekali, karena makin banyak ibu yang sadar pentingnya ASI dan ingin menyusui. Tapi, di sisi lain, saya juga melihat banyak yang merasa tertekan, takut dianggap gagal kalau tidak bisa menyusui secara penuh. Menyusui itu bukan soal “ASI atau tidak”, tapi tentang proses, perjuangan, dan bonding antara ibu dan bayi. Kita perlu lebih banyak mendukung, bukan menghakimi.

Agustus dikenal sebagai Breastfeeding Month. Menurut dr. Ria, dukungan seperti apa yang diperlukan para ibu agar bisa sukses menyusui?

Yang paling ibu butuhkan sebenarnya sederhana, yaitu didengarkan, dipercaya, dan ditemani. Bukan hanya soal teknik menyusui, tapi soal rasa. Rasa aman, rasa cukup, rasa dicintai. Suami, keluarga, dan tenaga kesehatan, semua bisa berperan besar, karena satu ibu butuh dukungan satu desa untuk kuat.

Selain sebagai dokter, dr. Ria merupakan ibu dari tiga orang anak ABG. Nah, mana nih yang lebih sulit, mengurus anak di fase bayi, balita, atau saat ini ketika sudah besar?

Mengurus bayi, lelah di fisik. Mengurus balita, lelah secara emosi. Tapi ABG? Lelah di hati dan logika! Hehehe… Namun, semua fase itu indah kalau dijalani dengan hati. Yang penting kita terus belajar menyesuaikan cara mendekatkan diri ke anak, bukan memaksakan satu pola.

Bagaimana gaya parenting yang diterapkan oleh dr. Ria?

Saya mencoba menerapkan gaya parenting yang hangat, tapi tetap tegas. Prinsip saya, hubungan dengan anak itu harus dibangun lewat komunikasi dua arah. Jadi, saya tidak hanya memberi tahu, tapi juga mau mendengar.

Saya ingin anak-anak merasa aman jadi diri mereka sendiri, punya ruang untuk tumbuh, dan tahu bahwa rumah selalu jadi tempat mereka bisa pulang tanpa takut dihakimi. Tentu tidak selalu mulus, tapi saya percaya, bonding lebih penting daripada sekadar kontrol. Oleh sebab itu, saya juga terus belajar, introspeksi, dan evaluasi diri, karena menjadi orang tua yang nyaman bagi anak adalah proses sepanjang hayat.

Mengurus bayi, lelah di fisik. Mengurus balita, lelah secara emosi. Tapi ABG? Lelah di hati dan logika! Hehehe… Namun semua fase itu indah, kalau dijalani dengan hati. Yang penting kita terus belajar menyesuaikan cara mendekatkan diri ke anak, bukan memaksakan satu pola.

Apakah ada keinginan agar anak mengikuti jejak sebagai dokter?

Rasa ingin, pasti ada. Menjadi dokter adalah jalan hidup yang penuh makna. Tapi, saya sadar, jalan tersebut belum tentu menjadi jalan yang mereka pilih. Kalau suatu hari, mereka ingin jadi dokter, saya akan dukung sepenuh hati.Namun, kalau mereka memilih jalannya sendiri, saya tetap bangga, karena tujuan saya bukan membuat mereka jadi seperti saya, tapi membuat mereka berani jadi dirinya sendiri, dengan nilai-nilai yang baik, yaitu punya empati, tanggung jawab, dan hati untuk sesama. Bagi saya, itu jauh lebih penting daripada sekadar gelar atau profesi.

Sejauh ini, apa momen paling membahagiakan sebagai seorang ibu?

Buat saya, momen paling membahagiakan itu bukan yang besar atau luar biasa, tapi justru yang sederhana, seperti saat mereka tiba-tiba memeluk dan bilang, “Mama capek, enggak?” Atau waktu malam-malam saya terbangun dan sadar selimut saya sudah diselimuti ulang oleh mereka.

Tidak banyak bicara, tapi diam-diam anak tuh, memperhatikan. Di sinilah saya merasa ternyata saya dicintai balik oleh anak dan itu rasanya dalam sekali. Diam-diam mereka care. Dan buat saya, itu cukup. Lebih dari cukup.

Apa harapan Anda untuk anak di masa depan?

Mami ingin kalian tumbuh jadi manusia yang bersyukur, punya empati, dan tetap rendah hati saat berhasil, yang tahu nilainya bukan dari nilai rapor akademik atau pencapaian, tapi dari bagaimana kalian memperlakukan orang lain. Semoga kalian bisa memilih jalan hidup kalian sendiri dengan berani, tapi tetap pulang kalau lelah. Dan yang paling penting, apa pun yang terjadi nanti, kalian selalu punya rumah di hati Mami. I love you, Nak!

(M&B/WR/Photographer: Lintang Sukmana/Digital Imaging: Raghamanyu Herlambang/Stylist: Gabriela Agmassini/MUA: Inez (@inezfab)/Hairstylist: Ella (@hairdobyella)/Wardrobe: Onycha (@onycha.id)/Location: Morrissey Hotel Jakarta (@iammorrissey))