Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Indonesia tengah menghadapi tantangan serius dalam kesehatan anak. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2024, tercatat 23,8% balita mengalami anemia. Sementara itu, data Survei Status Gizi Indonesia dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan hampir satu dari lima anak, tepatnya 19,8%, masih menderita stunting.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan jangka pendek, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Anak yang mengalami stunting, anemia, maupun gangguan gizi lainnya berisiko mengalami keterlambatan kognitif, penurunan produktivitas, bahkan menambah beban biaya kesehatan nasional.
Fakta ini menunjukkan bahwa nutrisi sejatinya bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama dari strategi pencegahan penyakit. Kesadaran akan pentingnya pencegahan inilah yang mendorong Danone Specialized Nutrition Indonesia berpartisipasi dalam Healthcare Innovation Leaders Asia 2025, yakni sebuah forum internasional yang berlangsung di Jakarta pada 27-28 Agustus 2025.
Forum ini mempertemukan pemimpin kesehatan, pembuat kebijakan, serta inovator global untuk membahas berbagai isu, mulai dari transformasi digital kesehatan, rumah sakit pintar berbasis kecerdasan buatan (AI), hingga kemitraan publik-swasta guna memperkuat sistem kesehatan berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, selaku Medical & Scientific Affairs Director Nutricia Sarihusada, menekankan bahwa pencegahan adalah investasi penting yang mampu menyelamatkan lebih banyak orang sekaligus menekan biaya kesehatan.
“Riset menunjukkan intervensi preventif efektif jika biayanya terjangkau, dapat menjangkau populasi dalam skala besar, dan mencegah perawatan lanjutan yang mahal. Hal ini relevan dengan situasi Indonesia, di mana stunting, anemia, kelahiran prematur, hingga alergi protein susu sapi masih menjadi tantangan besar. Dengan inovasi seperti Iron Calculator dan pemeriksaan digital non-invasif, risiko kesehatan anak dapat dikenali lebih cepat sehingga intervensi tepat bisa dilakukan sebelum terlambat,” jelasnya.
Studi Departemen Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia juga mendukung pandangan ini. Skrining dini dan intervensi nutrisi terbukti penting untuk menurunkan risiko masalah kesehatan anak serta mengurangi biaya perawatan jangka panjang.
Dr. Ray menambahkan, “Pencegahan anemia dapat dilakukan dengan suplementasi zat besi, vitamin C, dan fortifikasi makanan. Stunting bisa ditekan sejak masa kehamilan dengan pemenuhan nutrisi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, serta asupan protein hewani pada anak di atas enam bulan. Sedangkan kelahiran prematur dapat dicegah melalui pola makan sehat, suplementasi zat besi dan asam folat, serta identifikasi alergi sejak dini untuk memberikan alternatif nutrisi yang aman.”
Komitmen jangka panjang Danone Indonesia
Partisipasi Danone Specialized Nutrition Indonesia dalam forum ini merupakan wujud komitmen untuk mendukung pemerintah dalam mencegah stunting dan anemia. Melalui edukasi, riset ilmiah, dan program kolaboratif, Danone menegaskan keyakinannya bahwa investasi pada pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan dengan biaya pengobatan yang mahal.
Lebih dari sekadar menghadirkan produk bergizi seperti SGM Eksplor, Lactamil, Bebelac, dan Nutrilon Royal, Danone juga aktif menjalankan berbagai program edukasi masyarakat, termasuk program Bicara Gizi, Isi Piringku, Bunda Mengajar, serta Rumah Bunda Sehat. Semua program tersebut ditujukan untuk mendukung 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang dikenal sebagai periode emas tumbuh kembang anak.
Dengan pendekatan holistik dan berkelanjutan, Danone Specialized Nutrition Indonesia berharap strategi kesehatan preventif bisa menjadi prioritas nasional, sehingga generasi mendatang tumbuh lebih sehat, cerdas, dan produktif.(MB/GA/Foto: Dok. Banyu Communication)