FAMILY & LIFESTYLE

Road to Pulse Day 2026 Ajak Masyarakat Kenali Aritmia dengan Meraba Nadi Sendiri


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Moms, pernahkah Anda tiba-tiba merasakan jantung berdetak terlalu cepat, tidak beraturan, atau justru melambat tanpa sebab yang jelas? Gejala seperti ini sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi tanda awal aritmia atau gangguan irama jantung yang bisa menyebabkan risiko lebih serius, lho!

Aritmia masih menjadi salah satu penyebab utama gangguan kardiovaskular yang sering luput dari perhatian masyarakat. Aritmia atau penyakit gangguan irama jantung masih kalah populer dibandingkan penyakit jantung koroner atau penyakit jantung bawaan, padahal dengan melakukan deteksi dini secara sederhana dapat menyelamatkan banyak nyawa.

Langkah sederhana seperti memeriksa denyut nadi sendiri sebagai deteksi dini sudah dapat mendeteksi aritmia. Hal inilah yang menjadi dasar dari kampanye “MEraba NAdi SendiRI (MENARI)”, sebagai bagian dari gerakan global Pulse Day 2026, yang mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap irama jantung mereka sebelum terlambat dan berakibat fatal.

Kampanye ini hadir sebagai gerakan global dan fokus utama Pulse Day 2026 untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap irama jantungnya sendiri dan melakukan deteksi dini gangguan irama jantung sebelum berakibat fatal. Pulse Day sendiri diperingati setiap 1 Maret, sebagai pengingat bahwa 1 dari 3 orang di dunia mengalami aritmia serius sepanjang hidupnya.

Kenali tanda aritmia dan pentingnya deteksi dini

Dr. dr. Dicky Armein Hanafy, Sp.JP(K), FIHA, FAsCC, Head of Pulse Day Task Force, Chairperson of Public Affairs Committee Asia Pacific Heart Rhythm Society (APHRS), menyatakan, “Salah satu fokus utama Pulse Day adalah deteksi dini Atrial Fibrillation (AF), salah satu jenis aritmia yang paling sering ditemukan dan menjadi penyebab utama stroke yang sebenarnya dapat dicegah. AF sering kali tidak menimbulkan gejala khas, sehingga banyak yang tidak menyadari bahwa dirinya berisiko. Melalui kampanye MENARI, kami ingin mengingatkan bahwa langkah kecil seperti memeriksa nadi bisa berdampak besar, bahkan menyelamatkan hidup.”

Dokter Dicky juga menambahkan cara sederhana untuk mengecek irama jantung sendiri. “Cara mengecek denyut jantung, yaitu dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah di pergelangan tangan atau leher, hitung denyutnya selama 30 detik dan kalikan 2 untuk mendapatkan denyut per menit. Denyut normal biasanya berada di kisaran 60 hingga 100 detak per menit,” jelas dr. Dicky.

Waspadai sudden cardiac death dan pentingnya bantuan hidup dasar

Pada kesempatan yang sama dr. Agung Fabian Chandranegara, Sp.JP(K), FIHA, Sekretaris Jenderal PERITMI/Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS), menyoroti Sudden Cardiac Death (SCD) atau kematian jantung mendadak sebagai masalah kardiovaskular serius.

“SCD menyumbang 10-15 persen dari seluruh kematian global setiap tahunnya. Ini artinya, jutaan nyawa hilang secara tiba-tiba akibat gangguan irama jantung yang sering tidak terdeteksi sebelumnya,” ujarnya dr. Agung. Ia juga menambahkan bahwa pencegahan dan deteksi dini tetap menjadi langkah paling efektif, termasuk mengenali faktor risiko pribadi, melakukan pemeriksaan rutin, dan memperhatikan tanda-tanda gangguan irama jantung, seperti nyeri dada, sesak, mudah lelah, atau detak jantung tidak teratur.

Selain itu, dr. Agung menekankan pentingnya Bantuan Hidup Dasar (BHD) seperti resusitasi jantung paru (CPR) dan penggunaan AED. “Pada kasus henti jantung di luar rumah sakit/OHCA, setiap menit tanpa CPR menurunkan peluang hidup secara signifikan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa CPR oleh bystander CPR (penolong/orang di sekitar pasien) dapat meningkatkan peluang hidup 3-4 kali lipat, sedangkan penggunaan AED (Automated External Defibrillator) oleh masyarakat bisa meningkatkan peluang hidup hingga 5 kali lipat,” ungkap dr. Agung.

Cetak biru aritmia Nasional untuk layanan kesehatan jantung yang merata

Sebagai lanjutan dari upaya peningkatan kesadaran publik terhadap pentingnya deteksi dini dan penanganan gangguan irama jantung, pembahasan mengenai Aritmia kini juga perlu ditangani dengan lebih strategis, yaitu bagaimana sistem kesehatan nasional dapat merespons tantangan ini secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Hal ini yang memunculkan Blueprint Nasional Aritmia (Cetak Biru Rencana Pengembangan Aritmia Nasional), sebuah inisiatif yang dirancang untuk menjadi panduan strategis dalam memperkuat sistem pelayanan untuk aritmia, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan fasilitas kesehatan, hingga integrasi teknologi deteksi dan tata laksana aritmia di seluruh lapisan masyarakat.

Dokter Erika Maharani, Sp.JP(K), Ketua PERITMI/Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) menjelaskan, “Berdasarkan data Asia Pacific Heart Rhythm Society (APHRS) White Book 2023, Indonesia hanya mencatat 0,30 implantasi defibrillator kardioverter implan (DKI) dan 0,51 tindakan ablasi fibrilasi atrium (FA) per satu juta penduduk, masing-masing 239 kali dan 1.280 kali lebih rendah dibandingkan Selandia Baru dan Jepang. Kondisi ini menjadi cerminan bahwa akses terhadap layanan diagnosis dan terapi aritmia di Indonesia masih sangat terbatas, dan hal ini berisiko meningkatkan angka kejadian dan kematian.”

“Langkah-langkah strategis ini diharapkan tidak hanya memperkuat posisi Indonesia dalam jejaring regional dan global dalam penanganan aritmia, tetapi sekaligus mewujudkan visi besar kita: Bersatu Menjaga Irama Negeri. Semangat ini tentunya sejalan dengan kampanye global Pulse Day 2026, yang mengajak seluruh dunia untuk mengenali irama jantungnya sendiri,” tutup dr. Erika. (MB/RA/SW/Foto: Dok. Eugenia)