Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Moms, pernahkah Anda mendapati balita Anda sering bengong dan terdiam, pandangannya kosong menatap satu titik, dan kadang tidak mendengar panggilan Anda? Momen seperti ini sering kali membuat orang tua merasa cemas. Apakah ia sedang memikirkan sesuatu? Apakah ia kelelahan? Atau jangan-jangan, ada masalah kesehatan yang serius di balik tatapan kosong itu?
Sebagai orang tua, wajar jika kita merasa khawatir melihat perubahan perilaku pada anak, sekecil apa pun itu. Balita yang sering bengong atau melamun sebenarnya adalah pemandangan yang cukup umum. Dunia anak-anak penuh dengan hal baru, dan otak mereka bekerja sangat keras untuk memproses semua informasi tersebut.
Namun, memahami perbedaan antara bengong yang normal dan kondisi medis yang memerlukan perhatian khusus adalah langkah pertama agar Moms bisa memberikan penanganan yang tepat. Simak apa saja alasan di balik kebiasaan bengong pada balita dan bagaimana cara menyikapinya berikut ini!
Mengapa balita sering bengong?
Ada banyak alasan mengapa seorang balita suka bengong dan tampak “hilang” dalam pikirannya sendiri. Berikut ini beberapa penyebab umumnya, Moms.
1. Sedang memproses informasi
Otak balita berkembang dengan kecepatan yang luar biasa. Setiap hari Si Kecil belajar kata baru, melihat warna baru, atau memahami konsep emosi. Terkadang, saat ia terlihat bengong, otaknya sebenarnya sedang sibuk menyusun informasi tersebut. Ini adalah momen istirahat mental yang ia butuhkan sebelum kembali berinteraksi dengan lingkungannya.
2. Kelelahan atau mengantuk
Sama seperti orang dewasa, anak-anak juga bisa merasa lelah. Setelah seharian bermain lari-larian atau beraktivitas fisik, tubuh dan otak mereka membutuhkan jeda. Bengong sering kali menjadi sinyal alami tubuh bahwa baterai energi Si Kecil sudah hampir habis dan ia membutuhkan waktu tidur siang atau istirahat malam yang lebih awal.
3. Imajinasi yang sedang berkembang
Usia balita adalah masa emas bagi perkembangan imajinasi. Ketika Si Kecil menatap kosong ke arah jendela atau mainannya, bisa jadi ia sedang bertualang di dunia fantasinya sendiri. Ia mungkin sedang membayangkan menjadi pahlawan super atau berbicara dengan teman khayalan. Jenis “bengong” ini justru sehat karena menandakan kreativitasnya sedang bekerja.
4. Overstimulasi (terlalu banyak rangsangan)
Lingkungan yang terlalu berisik, terlalu banyak mainan, atau paparan layar gadget yang berlebihan bisa membuat otak anak mengalami overload sensorik. Bengong menjadi mekanisme pertahanan diri mereka untuk menutup diri sejenak dari kebisingan atau kekacauan di sekitarnya agar bisa merasa tenang kembali.
5. Absence seizure
Inilah yang sering dikhawatirkan oleh banyak orang tua. Dalam beberapa kasus, bengong bisa menjadi tanda absence seizure atau kejang absans (dulu dikenal sebagai petit mal). Berbeda dengan bengong biasa, pada kondisi ini anak benar-benar tidak sadar akan sekitarnya selama beberapa detik (biasanya kurang dari 15 detik).
Tanda khas dari kondisi ini adalah anak tidak akan merespons meskipun Anda melambaikan tangan di depan wajahnya atau menyentuhnya. Keadaan ini bisa terjadi berulang kali dalam sehari. Jika Moms mencurigai hal ini, konsultasi dengan dokter spesialis anak adalah langkah terbaik.
Tips mengatasi balita sering bengong
Jika dokter sudah memastikan bahwa tidak ada masalah medis seperti kejang, maka kebiasaan bengong ini umumnya bisa ditangani dengan perubahan pola asuh dan interaksi sehari-hari, seperti:
1. Cek respons anak
Langkah pertama adalah memastikan apakah ia sekadar bengong atau mengalami sesuatu yang lain. Panggil namanya dengan lembut atau sentuh bahunya. Jika ia menoleh, tersenyum, atau kaget, maka kemungkinan besar ia hanya sedang melamun biasa. Lakukan ini dengan nada yang tenang agar ia tidak merasa dimarahi.
2. Kurangi paparan gadget
Paparan gadget yang berlebihan sering membuat anak menjadi pasif dan mudah bengong. Cahaya dan pergantian gambar yang cepat pada layar bisa menghipnotis otak anak. Cobalah untuk membatasi screen time sesuai rekomendasi usia dan ganti dengan aktivitas fisik atau permainan interaktif yang melibatkan komunikasi dua arah.
Baca juga: Waspada Kecanduan Gadget pada Anak, Ini 7 Cara Simpel Mengatasinya
3. Pastikan tidur anak cukup
Anak yang kurang tidur akan sulit berkonsentrasi dan lebih sering bengong di siang hari. Perbaiki jadwal tidur Si Kecil. Pastikan ia mendapatkan tidur malam yang berkualitas dan waktu tidur siang yang cukup. Rutinitas tidur yang konsisten akan membantu memulihkan energi otaknya.
Baca juga: Moms, Ini Pola Tidur Sehat untuk Anak Usia 1-5 Tahun
4. Ajak berkomunikasi dan bermain
Alihkan perhatian balita dengan mengajaknya ngobrol. Tanyakan apa yang sedang ia pikirkan atau apa yang sedang ia lihat. Moms bisa berkata, “Wah, Kamu sedang lihat apa sih, kok serius sekali? Ada burung lewat, ya?”
Pertanyaan seperti ini tidak hanya menghentikan lamunannya, tetapi juga melatih kemampuan bahasanya dan memvalidasi perasaannya. Ajak juga ia bermain membaca buku cerita untuk merangsang fokusnya kembali ke dunia nyata.
5. Ciptakan lingkungan yang tenang
Jika Moms merasa Si Kecil bengong karena overwhelmed atau terlalu banyak rangsangan, cobalah bawa ia ke tempat yang lebih tenang. Redupkan lampu, matikan televisi, dan biarkan ia duduk santai atau memeluk boneka kesayangannya. Ketenangan ini bisa membantunya menata ulang emosi dan pikirannya tanpa harus “kabur” dengan cara bengong.
Kapan harus membawa anak ke dokter?
Meskipun sebagian besar kasus bengong adalah normal, insting Moms tetaplah yang utama. Jangan ragu untuk membawa Si Kecil ke dokter spesialis anak atau neurolog anak jika Anda menemukan tanda-tanda berikut:
1. Balita sering bengong di tengah aktivitas (misalnya tiba-tiba berhenti makan atau berhenti bicara di tengah kalimat).
2. Mata berkedip-kedip cepat atau bola mata berputar ke atas saat ia bengong.
3. Terjadi gerakan mulut seperti mengecap atau mengunyah tanpa sebab.
4. Balita sama sekali tidak merespons sentuhan atau panggilan saat periode bengong terjadi.
5. Durasi bengong terjadi sangat sering dalam satu hari (bisa berkali-kali).
Itulah penjelasan mengenai balita sering bengong. Dengan penanganan yang tepat, Moms bisa membantu Si Kecil tumbuh sehat, ceria, dan aktif. (MB/SW/Foto: Freepik)