Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Menjalin hubungan yang harmonis dengan mertua adalah dambaan setiap pasangan. Namun, proses ini tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan yang mungkin dihadapi adalah ketika Anda merasa mertua terlalu perhitungan. Istilah "perhitungan" di sini bukan hanya soal uang, tetapi juga mencakup tenaga, waktu, dan perhatian yang mereka berikan. Kondisi ini, jika tidak dihadapi dengan bijak, bisa menjadi sumber konflik dan ketegangan dalam keluarga lho, Moms.
Dengan mengenali tanda-tandanya, Anda dapat mempersiapkan diri untuk merespons dengan lebih tenang, menetapkan batasan yang sehat, dan pada akhirnya, melindungi keharmonisan rumah tangga Anda. Lalu, apa saja ciri mertua yang perhitungan? Bagaimana cara yang tepat untuk menghadapinya? Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel ini, Moms!
Apa sebenarnya mertua perhitungan itu?
Mertua perhitungan adalah istilah untuk menggambarkan orang tua pasangan yang cenderung mengukur segala sesuatu, baik materi maupun nonmateri, dengan sangat detail. Setiap bantuan yang mereka berikan seolah memiliki "catatan" yang harus dibayar kembali, baik dalam bentuk uang, balas budi, maupun kepatuhan.
Sikap ini sering kali lahir dari berbagai faktor, seperti pengalaman hidup yang sulit, kecemasan finansial, atau bahkan kepribadian yang memang cenderung sulit memberi tanpa mengharapkan imbalan. Perilaku ini berbeda dari sekadar hemat atau bijak dalam mengelola keuangan. Batasannya terletak pada apakah tindakan tersebut menciptakan rasa tidak nyaman, memicu perasaan berutang budi secara terus-menerus, dan mengganggu dinamika hubungan keluarga yang sehat.
Ciri-ciri mertua perhitungan
1. Selalu mengungkit bantuan yang diberikan
Ini adalah ciri yang paling mudah dikenali. Setiap kali mereka memberikan bantuan, baik itu pinjaman uang, menjaga anak, atau bahkan sekadar memberi hadiah, hal tersebut akan selalu diingat dan diungkit di kemudian hari. Ungkapan seperti, "Ingat kan, dulu Mama yang bantu bayar uang muka rumah," atau "Kalau bukan karena Ayah jaga anakmu, kamu tidak akan bisa kerja," sering kali muncul, terutama saat ada perbedaan pendapat atau ketika mereka menginginkan sesuatu dari Anda.
2. Memberi dengan ekspektasi balasan langsung
Bantuan yang diberikan oleh mertua perhitungan jarang sekali tulus sepenuhnya. Di baliknya, selalu ada harapan akan imbalan yang setimpal atau bahkan lebih. Misalnya, setelah membelikan cucunya mainan mahal, mereka mungkin akan secara terang-terangan meminta Anda untuk membelikan mereka sesuatu atau meminta bantuan yang lebih besar di kemudian hari. Hal ini menciptakan siklus "utang budi" yang tidak pernah selesai.
Baca juga: 7 Ciri-Ciri Mertua Pura-Pura Baik yang Perlu Diwaspadai
3. Terlalu fokus pada harga dan uang
Pembicaraan mereka sering kali berpusat pada uang, harga barang, dan biaya hidup. Mereka sangat sadar akan setiap rupiah yang dikeluarkan, baik oleh diri sendiri maupun oleh Anda. Saat Anda membeli barang baru, komentar pertama mereka mungkin bukan tentang kualitas atau fungsinya, melainkan tentang harganya. "Berapa harganya? Mahal sekali," atau "Kenapa tidak beli merek yang lebih murah saja?" adalah kalimat yang mungkin sering Anda dengar.
4. Enggan mengeluarkan uang untuk kepentingan bersama
Ketika ada acara keluarga atau kebutuhan bersama yang memerlukan biaya, mereka cenderung menghindar atau berkontribusi seminimal mungkin. Mereka mungkin akan menyarankan alternatif yang paling murah, bahkan jika itu mengorbankan kenyamanan bersama. Sebaliknya, mereka tidak ragu untuk menikmati hasil dari kontribusi orang lain tanpa merasa perlu berpartisipasi secara adil.
5. Membandingkan pemberian Anda dengan orang lain
Sikap perhitungan mereka juga tercermin dari cara mereka membandingkan apa yang Anda berikan dengan apa yang diberikan oleh menantu lain, anak lain, atau bahkan tetangga. Jika Anda memberikan hadiah, mereka mungkin akan berkomentar, "Si Anu dikasih lebih bagus sama menantunya." Perbandingan ini bertujuan untuk menciptakan tekanan agar Anda memberi lebih banyak di masa depan.
Baca juga: Ciri-Ciri Mertua Sombong dan Cara Menghadapinya dengan Bijak
6. Menghitung tenaga dan waktu yang dikeluarkan
Perhitungan tidak hanya terbatas pada materi. Mereka juga menghitung setiap tenaga dan waktu yang mereka curahkan untuk Anda. Misalnya, jika mereka membantu menjaga anak Anda selama beberapa jam, mereka akan memastikan Anda tahu betapa lelahnya mereka dan betapa berharganya waktu yang telah mereka korbankan. Ini membuat Anda merasa tidak enak hati dan sulit untuk meminta bantuan lagi.
7. Sangat kritis terhadap gaya hidup finansial Anda
Mertua perhitungan sering kali merasa berhak untuk mengomentari dan mengkritik cara Anda dan pasangan mengelola keuangan. Mereka mungkin menganggap pengeluaran Anda untuk liburan, makan di luar, atau membeli barang-barang tertentu sebagai pemborosan. Kritik ini sering kali disertai dengan nasihat yang menyiratkan bahwa Anda tidak cukup bijak dalam mengelola uang, yang secara tidak langsung meremehkan kemampuan Anda.
8. Jarang memberi apresiasi yang tulus
Karena segalanya diukur, apresiasi yang tulus menjadi barang langka. Pujian atau ucapan terima kasih sering kali terasa hambar atau diikuti dengan "tapi". Misalnya, "Terima kasih sudah dibelikan baju, tapi sebenarnya warnanya kurang cocok." Hal ini membuat Anda merasa bahwa apa pun yang Anda lakukan tidak pernah cukup baik di mata mereka.
Cara menghadapi mertua yang perhitungan
Menghadapi mertua dengan ciri-ciri di atas memang tantangan yang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Kunci utamanya adalah mengelola ekspektasi dan menetapkan batasan yang jelas. Komunikasikan secara terbuka dengan pasangan Anda, karena dukungan darinya adalah hal terpenting dalam menghadapi kondisi ini.
Fokuslah untuk membangun kemandirian finansial agar Anda tidak perlu bergantung pada bantuan mereka, sehingga mengurangi peluang mereka untuk mengungkit-ungkit di kemudian hari. Saat mereka mulai menghitung-hitung, tanggapi dengan tenang dan jangan terbawa emosi.
Anda bisa mengubah topik pembicaraan atau sekadar mengucapkan terima kasih tanpa merasa perlu membela diri. Yang terpenting, lindungi keharmonisan rumah tangga Anda dari tanda-tanda yang tidak sehat. Hubungan Anda dengan pasangan harus tetap menjadi prioritas utama. (MB/GP/Foto: Shurkin_son/Freepik)