Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Moms, pernahkah Anda mendengar desas-desus tentang arti hari pertama haid? Misalnya, ada anggapan bahwa jika haid dimulai pada hari Jumat, itu pertanda akan mendapat kejutan menyenangkan, atau jika mulai pada tanggal tertentu, itu tanda ada yang rindu. Mungkin Anda pernah mendengar hal seperti ini, ya.
Sangat wajar jika kita ingin mencari makna di balik peristiwa tubuh kita. Sebagai wanita, siklus bulanan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Namun, di tengah banyaknya informasi simpang siur dan mitos budaya yang beredar, sering kali kita bingung membedakan mana yang sekadar hiburan, mana adat istiadat, dan mana yang merupakan panduan agama yang sesungguhnya.
Dalam Islam, setiap tetes darah yang keluar, setiap rasa nyeri yang dirasakan, dan setiap waktu istirahat dari salat memiliki aturan dan hikmahnya sendiri. Daripada terjebak pada ramalan yang belum tentu kebenarannya, yuk, ketahui bagaimana sebenarnya Islam memandang waktu, tanggal, dan hari datang bulan, sehingga Anda bisa memahami tubuh dan kewajiban agama dengan lebih tenang dan bijak.
Adakah makna khusus pada hari dimulainya haid?
Jawabannya secara singkat adalah: Dalam Islam, tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa hari atau tanggal tertentu dimulainya haid membawa nasib baik atau buruk.
Banyak ramalan yang beredar di masyarakat—seperti haid hari Senin artinya akan mendapat keuntungan, atau haid hari Sabtu akan ada kejadian mengejutkan—umumnya bersumber dari Primbon Jawa atau kepercayaan budaya lokal, bukan dari Al-Qur’an maupun Hadis. Islam mengajarkan kita untuk tidak menggantungkan nasib atau percaya pada ramalan (tathayyur), karena segala takdir baik dan buruk datangnya murni dari Allah SWT.
Islam memandang hari-hari dalam seminggu sebagai waktu yang baik untuk beribadah. Tidak ada hari yang dianggap “sial” untuk mulai menstruasi. Haid adalah ketetapan biologis (sunnatullah) yang diberikan Allah SWT kepada kaum Hawa untuk mempersiapkan rahim dan membersihkan tubuh. Jadi, kapan pun tamu bulanan itu datang, sikapi dengan positif dan prasangka baik kepada Allah.
Pentingnya mencatat tanggal: Bukan untuk ramalan, tetapi untuk ibadah
Meskipun Islam tidak mengaitkan nasib dengan tanggal haid, bukan berarti kita boleh abai dengan kalender. Justru, Islam sangat menganjurkan wanita untuk teliti mencatat siklusnya. Mengapa hal ini begitu penting?
1. Membedakan haid dan istihadah
Mencatat tanggal dan durasi sangat krusial untuk membedakan darah haid (darah kebiasaan) dengan darah istihadah (darah penyakit). Dalam fikih wanita, ini sangat menentukan status ibadah kita
Haid: Haram salat dan puasa
Istihadah: Tetap wajib salat (dengan berwudu setiap masuk waktu) dan puasa.
Jika Moms memiliki siklus yang teratur (misalnya 7 hari setiap awal bulan), maka ketika darah keluar di luar kebiasaan tersebut atau melebihi batas maksimal haid (15 hari menurut mazhab Syafi’i), catatan tanggal Anda akan menjadi acuan hukum untuk menentukan apakah Anda sudah harus mandi wajib dan salat kembali.
2. Menghitung masa suci
Mengetahui kapan darah berhenti sama pentingnya dengan mengetahui kapan dimulai. Ini berkaitan dengan kewajiban mandi junub (mandi besar). Sering kali kita ragu, “Apakah ini sudah bersih atau belum?” Dengan memantau pola tanggal setiap bulannya, kita bisa lebih peka mengenali tanda-tanda suci (cairan bening) agar tidak menunda-nunda ibadah wajib.
3. Perencanaan ibadah (meng-qada puasa)
Bagi Moms yang memiliki utang puasa Ramadan, mencatat tanggal haid membantu memprediksi kapan waktu yang aman untuk membayar utang puasa (qada) tanpa terputus di tengah jalan.
Baca juga: Normalkah Bila Sudah Haid Tapi Haid Lagi? Ini Jawabannya!
Batasan waktu haid menurut pandangan Fikih
Menurut mayoritas ulama, terutama dalam mazhab Syafi’i yang banyak dianut di Indonesia:
Masa minimal haid: Sehari semalam (24 jam). Jika darah keluar hanya setetes lalu berhenti total kurang dari 24 jam, itu dianggap darah kotor biasa, bukan haid, sehingga tetap wajib salat.
Masa maksimal haid: 15 hari 15 malam. Jika darah terus keluar melebihi 15 hari, maka darah yang keluar di hari ke-16 dan seterusnya dikategorikan sebagai istihadah.
Masa umumnya haid: 6 sampai 7 hari.
Memahami durasi ini jauh lebih bermanfaat bagi ketenangan hati Anda dibandingkan menebak-nebak arti ramalan tanggal. Jika siklus Moms berubah-ubah tetapi masih dalam rentang waktu tersebut, insya Allah kondisi Anda sehat dan normal secara hukum Islam.
Baca juga: Arti Mimpi Haid, Pertanda Hamil atau Rezeki?
Tetap terhubung dengan Allah meski sedang haid
Salah satu perasaan yang sering muncul saat datang bulan—terutama di hari-hari awal—adalah rasa “jauh” dari Allah SWT karena tidak bisa salat dan membaca Al-Qur’an (memegang mushaf). Padahal, haid bukanlah penghalang untuk mendulang pahala.
Justru, saat seorang wanita menaati larangan Allah untuk tidak salat saat haid, itu sendiri adalah bentuk ibadah (ketaatan). Berikut ini amalan-amalan yang bisa Moms lakukan untuk menjaga hati tetap bersinar meski sedang berhalangan.
1. Perbanyak zikir dan doa
Tidak ada larangan bagi wanita haid untuk berzikir. Moms bisa membasahi lisan dengan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil sembari memasak, menyusui, atau bekerja. Doa-doa harian pun, seperti doa makan, doa tidur, atau doa memohon perlindungan anak, tetap dianjurkan untuk dibaca.
2. Mendengarkan lantunan Al-Qur’an
Meski mayoritas ulama melarang wanita haid membaca Al-Qur’an dengan niat tilawah (menyentuh mushaf), Moms tetap bisa mendengarkan murattal (rekaman bacaan Al-Qur’an). Ini bisa menjadi obat penenang hati yang ampuh saat emosi sedang tidak stabil akibat perubahan hormon.
3. Bersedekah dan berbuat baik
Pintu kebaikan tidak pernah tertutup. Menyiapkan makanan untuk orang yang berpuasa, menyantuni anak yatim, atau sekadar tersenyum dan berkata lembut kepada suami dan anak-anak adalah ladang pahala yang luar biasa.
4. Menuntut ilmu
Masa “libur” salat bisa dimanfaatkan untuk membaca buku-buku agama, mendengarkan kajian parenting Islam, atau memperdalam ilmu fikih wanita. Makin kita paham ilmunya, makin berkualitas ibadah kita nanti setelah suci.
Memahami datang bulan, tanggal, dan harinya menurut Islam sesungguhnya adalah perjalanan mengenal diri sendiri dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Kita tidak perlu risau dengan mitos “hari buruk” atau “tanggal sial”. Setiap hari adalah kesempatan baru dari Allah untuk menjadi hamba yang lebih baik.
Jadikanlah catatan siklus haid Anda sebagai alat bantu ketaatan—untuk memastikan salat kita sah, puasa kita terjaga, dan kesehatan reproduksi kita terpantau. Jika Moms merasa ada ketidakteraturan yang ekstrem pada tanggal atau siklus haid, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. (MB/AY/SW/Foto: Senivpetro/Freepik)