FAMILY & LIFESTYLE

Mom of the Month: drg. Stella Lesmana, Sp.KGA


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Bergelut dengan banyak aktivitas tidak membuatnya lupa bahwa prioritas utamanya adalah membersamai tumbuh kembang anak. Begitulah sosok drg. Stella Lesmana, Sp.KGA, dokter gigi spesialis anak yang dikenal aktif mengedukasi orang tua tentang pentingnya kesehatan gigi sejak dini. Lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia ini melanjutkan pendidikan spesialis kedokteran gigi anak di kampus yang sama, dan kini aktif berpraktik di Rumah Sakit Pondok Indah. Selain merawat pasien kecilnya, ia juga mendirikan Kejora Indonesia Foundation, sebuah platform edukasi kesehatan anak.

Namun, di balik jas dokter dan kesibukannya sebagai praktisi kesehatan, drg. Stella juga menjalani peran lain yang tak kalah penting: seorang ibu. Saat ini ia merupakan ibu dari dua anak dan tengah menantikan kelahiran anak ketiganya. Pengalaman menjadi ibu inilah yang banyak memengaruhi cara pandangnya terhadap kesehatan anak, bahwa kesehatan tidak hanya tentang perawatan medis, tetapi juga tentang kebiasaan, emosi, dan keseharian keluarga. Stella bahkan menuangkan refleksi tentang perjalanan motherhood dalam buku memoarnya Break A Leg, yang mengangkat bagaimana kejadian naas bisa menjadi pengingat untuk slowing down agar hidupnya lebih mindful.

Dalam wawancara bersama Mother & Beyond, drg. Stella berbagi pandangannya seputar motherhood dan pengalaman pribadinya menyeimbangkan peran sebagai dokter, penulis, educator, dan tentunya ibu. Simak perbincangan hangat dengan drg. Stella Lesmana, Sp.KGA, soon-to-be mom of 3 yang menjadi Mother & Beyond Mom of the Month – Maret 2026.

Apa saja kesibukan Anda saat ini?

Tentunya kesibukan saya sehari-hari adalah mengurus rumah, anak, keluarga, sambil praktik walau tidak setiap hari. Saya juga terkadang mengedukasi secara online, karena itu adalah passion saya, makanya 11 tahun lalu saya mendirikan Kejora Indonesia Foundation, sebuah platform untuk edukasi soal kesehatan anak. Kebetulan saya juga penulis buku, sejauh ini saya sudah menulis 11 buku. Jadi kesibukan saya berkutat di sekitar itu.

Dari sekian banyak kesibukan Anda, yang mana yang paling menantang dan paling seru?

Yang menantang dan paling seru tentunya menjadi ibu, ya. Karena punya anak lebih dari satu itu harus tahu personality dari masing-masing anak, beda anak tentunya beda karakter, beda interest, sehingga cara pendekatannya pun beda-beda. Lalu, namanya memiliki anak, pasti ada saatnya harus menghadapi mereka yang sedang mengenal emosinya, jadi kita harus membersamai mereka. Sedangkan sebagai dokter gigi spesialis anak, di tempat praktik itu kan sehari-hari bertemu dengan anak-anak, jadi memang energi untuk interaksi sama anak itu harus dijaga, karena di pekerjaan sudah bertemu dengan pasien anak, di rumah bertemu anak. Menurut saya ini paling menantang sekaligus paling seru.

Tidak apa untuk berjalan melambat dan berjalanlah sesuai dengan pace kita masing-masing.

Dalam 3 kata, Anda adalah ibu yang…

Mau terus belajar.

Apa prinsip parenting yang paling dokter pegang sampai sekarang?

Ingin mendampingi anak mengeksplor minatnya masing-masing, dan ingin bisa jadi teman dengan anak-anak agar bisa terus bercerita bareng, terlebih karena anak-anak saya kan perempuan semua, jadi maunya bisa membersamai mereka sebagai seorang teman.

Saya juga ingin sebagai orang tua tetap firm tapi terbuka untuk diskusi. Misal anak yang besar minta les sesuatu, kami bertanya kenapa dia mau mencoba, alasannya apa. Setelah dicoba sekian lama dia minta berhenti, kami tanya lagi kenapa alasannya berhenti, sambil saya amati juga saat menemani les. Ternyata memang interest-nya kurang, bukan sekadar bosan atau capek lalu minta berhenti. Saya, suami, dan anak diskusi lagi di rumah sampai memutuskan apakah lanjut atau tidak dan kami senang dia terekspos beberapa kegiatan dan minat sampai akhirnya tahu mana yang benar-benar dia suka.

Bagaimana Anda menetapkan batasan antara pekerjaan dan keluarga agar tetap work-life balance?

Menurut saya, work-life balance is a myth. Semuanya pasti kembali lagi pada prioritas dan pilihan, meskipun setiap orang punya privilege yang berbeda tapi kan semua manusia punya 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu, maka pasti ada sesuatu yang diprioritaskan dan yang dikorbankan. Selama ini saya pegang prinsipnya seperti itu, yang penting kita diskusikan terlebih dahulu dengan pasangan atau dengan support system seperti keluarga. Dengan begitu kita jadi sudah sepakat dan satu suara, sudah tahu kelebihan dan kekurangan dari keputusan yang kita ambil.

Perlukah menjadi supermom yang bisa semuanya?

Menurut saya, kita tidak perlu untuk menjadi supermom. Percayalah walau kita mampu, tapi harus bisa mindful juga dan mendengar bila diri mulai merasa kelelahan. Tak semua kita kerjakan dalam satu waktu dan jangan ragu untuk meminta bantuan jika merasa diperlukan.

Apa yang memotivasi Anda menulis buku di tengah kesibukan praktik dan motherhood?

Jadi kebetulan ayah saya adalah dosen, suka menulis buku, suka mengedukasi, jadi sejak kecil memang saya suka meniru ayah yang suka menulis. Sejak kecil saya suka ikut menulis di buku, membuat cerita. Jadi dari 11 tahun lalu mendirikan Kejora Indonesia Foundation sampai hari ini saya sudah membuat 12 buku cerita anak. Buku cerita anak ini tentang kesehatan, tentang karakter baik, baru kemarin di Hari Ibu 22 Desember kemarin saya menulis buku tentang diri sendiri. Buku terbaru saya sebuah memoir tentang perjalanan saya menjadi ibu.

"Menurut saya, work-life balance is a myth. Pasti ada sesuatu yang diprioritaskan dan yang harus dikorbankan."

Buku terbaru Anda Break A Leg: A Memoir tentang apa?

Sebenarnya itu dipicu karena tahun lalu mengalami musibah patah kaki saat sedang menggendong anak kedua. Itu menjadi momen titik balik saya dalam perjalanan motherhood saya. Kenapa begitu? Karena sebelumnya tuh saya masih lumayan perfeksionis dalam menjadi ibu. Sebelumnya saya ibu yang maunya bisa melakukan banyak hal, padahal akhirnya jadi serba terburu-buru, jadi tidak mindful. Saya sadar kalau ini menjadi contoh yang tidak baik juga untuk kedua anak saya.

Di masa patah kaki itu menjadi sebuah pengingat bagi saya untuk take a moment, berhenti sejenak, dan mengatur lagi prioritas saya. Jadi saya bisa berjalan lebih pelan, dan dari situ saya bisa menuangkan ke dalam sebuah buku untuk berbagi. Tidak menyangka karena ternyata banyak ibu lain yang merasakan hal yang sama dengan saya, banyak yang merasa “aku tidak sendiri dan yang aku rasakan juga valid.”

Ada kalanya menjadi ibu mengubah diri kita dari yang dulu menjadi yang sekarang, dengan prioritas yang berbeda. Banyak yang ingin kita lakukan, tapi kalau menurut saya lebih baik fokus pada satu atau dua kekuatan kita saja. Kalau kita merasa orang lain seperti serba bisa, percayalah pasti ada yang ia korbankan.

Apa pelajaran hidup yang ingin dibagikan dari buku tersebut?

Tidak apa untuk berjalan melambat, apalagi saat anak-anak masih kecil. Setiap manusia juga kan pasti punya prioritas yang berbeda, jadi tidak apa-apa jika kita tidak sama dengan orang lain, dan berjalanlah sesuai dengan pace kita masing-masing.

Setelah saya memakai kursi roda dan tongkat selama 4 bulan, saya cukup merasa bersalah dengan anak-anak saya. Dari yang biasanya selalu hands-on, kemarin dengan segala keterbatasan tersebut jadi enggak bisa gendong, memandikan anak, menggantikan baju, dan segala rutinitas lainnya.

Di 4 bulan ini, berhubung suami saya juga hands on mengurus anak, jadi kalau suami di rumah dia yang pegang anak-anak. Kalau suami bekerja, anak dititip di daycare. Biasanya kan di daycare hanya saat saya kerja atau ada keperluan, ini jadi lebih sering mengunjungi daycare. Sempat merasa bersalah apalagi setelah sekian lama, saya merasa koneksi emosional dengan anak sepertinya berkurang, seperti jadi kurang memahami apa maunya anak, terutama anak yang kedua yang waktu itu usianya 1.5 tahun. Maka setelah sembuh dan tidak pakai tongkat, saya cutikan dari daycare agar benar-benar banyak waktu berkualitas dengan anak-anak. Puji Tuhan koneksi itu kembali.

Jadi, pelajaran yang ingin saya bagikan adalah harus tahu batas cukupnya kita itu seberapa, karena kalau tidak tahu batasnya itu menjadi seperti kewalahan sendiri dengan banyaknya aktivitas yang ingin kita lakukan. Harus tahu kapasitas diri untuk saat ini itu seberapa. Pelajaran lain yang ingin saya bagikan lewat buku Break A Leg adalah untuk tidak mencoba serba sempurna atau menjadi perfeksionis, karena tidak semuanya harus berjalan sempurna dan ideal.

Penting untuk punya circle sesama ibu yang sepemahaman dengan kita, jadi benar-benar mom support mom, bukan yang saling menjatuhkan.

Sedang hamil anak ketiga. Adakah perbedaan yang dirasakan dari kehamilan sebelumnya?

Kalau hamil anak pertama pastinya lebih fokus, ya, karena kehadirannya sudah dinanti-nanti selama lebih dari 2 tahun. Hamil anak pertama pastinya saya membaca semua buku, webinar, pokoknya fokus mempersiapkan yang terbaik untuk Si Kecil. Kalau anak kedua, dari segi pengasuhan anak sih sudah lebih percaya diri, tapi saat masih di kandungan itu banyak diwarnai rasa bersalah dan khawatir. Khawatirnya apa? Seperti bisakah saya adil, bisa membagi waktu dengan baik, karena belum terbayang akan seperti apa punya dua anak, kan.

Nah, kalau kehamilan anak ketiga ini saya sudah yakin kalau serepot apapun nanti, pasti tetap bisa membagi waktu dengan baik, sudah lebih percaya diri. Saya sangat merasa kalau cinta saya tidak akan terbagi, karena justru hatinya yang lebih besar dan luas, jadi memang bisa mencintai mereka semua satu per satu dengan sama dan adil. Kalau dari segi fisik, pastinya berbeda karena dari segi usia juga sudah bertambah, pasti ada rasa lebih capek. Tapi di satu sisi cukup kaget karena ternyata saya bisa dan kuat menjalani kehamilan ketiga sambil mengurus dua anak yang masih kecil-kecil.

Apa bentuk self-care sederhana yang membantu dokter tetap mindful sebagai ibu dan profesional?

Sekadar baca buku, olahraga, atau massage sudah happy banget. Juga jangan lupa waktu berdua pasangan, saya pribadi tidak pernah pergi ke luar kota hanya berdua pasangan. Kami sepakat selama anak-anak masih kecil, belum waktunya ditinggal terlalu lama, karena mereka masih tidur dengan kami. Jadi biasa nge-date berdua sebentar, paling lama setengah hari saja atau sekadar ngobrol berkualitas di malam hari setelah anak-anak tidur. Hal sederhana seperti ini saja sudah berarti banget bagi saya.

Adakah pesan untuk para ibu yang sedang berjuang mengejar karier tanpa meninggalkan perannya sebagai ibu?

Kalau pesan saya adalah: You do you. Ingat, setiap orang punya prinsip dan prioritas masing-masing. Menurut saya penting banget untuk punya circle sesama ibu yang satu suara dan sepemahaman dengan kita, jadi benar-benar mom support mom, bukan yang seperti julid atau saling menjatuhkan. Lingkungan yang positif itu bikin kita juga berkembang jadi lebih positif.

Satu lagi, dari kondisi ayah saya yang demensia saya jadi belajar bahwa kita harus punya suatu life purpose atau tujuan hidup yang kita pegang sampai tua. Menjadi ibu tentunya punya banyak banget hal yang harus kita pikirkan, dari jadwal makan anak sampai urusan finansial dan masa depan keluarga. Saat kita tua nanti, mungkin tubuh dan pikiran tidak akan segesit saat ini, maka penting untuk memiliki tujuan hidup yang akan terus menggerakkan kita saat tua nanti. Jadi, jangan takut untuk slowing down. (MB/TW/Foto: Gustama Pandu Pawenang @pandugustama/Digital Imaging: Raghamanyu Herlambang/MUA: Aksis Mipi @aksismipi_mua/Hair Stylist: Ella @hairdowithella)