Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Moms, menjelang Lebaran, tingkat kecemasan masyarakat cenderung meningkat. Bahkan kenaikannya mencapai hingga 27% di minggu ketiga Ramadan lho, Moms! Berbagai persiapan mudik, kebutuhan keluarga, hingga aktivitas sosial yang padat bisa memicu stres. Akibatnya, banyak masyarakat yang mengalami keluhan seperti gangguan tidur, jantung berdebar, hingga rasa sesak di dada.
Stres dan perubahan pola makan saat Lebaran
Stres menjelang Lebaran dapat memengaruhi kondisi fisik. Saat hormon stres meningkat, daya tahan tubuh bisa menurun sehingga tubuh lebih rentan mengalami keluhan seperti radang tenggorokan bahkan terasa jadi mudah lelah. Karena itu, menjaga kualitas tidur dan waktu istirahat menjadi hal yang penting, terutama di tengah aktivitas Ramadan yang cukup padat.
Tidak hanya stres, setelah sebulan menjalani puasa, tubuh juga membutuhkan waktu untuk kembali beradaptasi dengan pola makan normal. Pada momen Lebaran, perubahan ini sering kali terasa cukup drastis karena banyaknya hidangan khas yang disajikan. Terutama makanan yang memiliki kadar lemak dan gula tinggi, yang mana makanan ini dapat memicu berbagai keluhan kesehatan, terutama pada sistem pencernaan dan metabolisme tubuh.
Keluhan yang sering muncul setelah Lebaran
Perubahan pola makan selama Ramadan hingga Idulfitri juga sering kali memicu beberapa gangguan pencernaan. Salah satu yang cukup sering terjadi adalah sembelit, kondisi ini biasanya dipengaruhi oleh kurangnya asupan serat selama puasa.
Keluhan diare juga kerap meningkat setelah masa Hari Raya. Gejala yang sering dikeluhkan seperti sakit perut, mual, muntah, hingga rasa lemas. Kondisi ini bisa dipicu oleh konsumsi makanan berlemak tinggi atau pola makan yang berubah secara tiba-tiba setelah berpuasa.
Tips menikmati Lebaran tanpa mengorbankan kesehatan
Dokter Spesialis Penyakit Dalam mitra Halodoc dr. Waluyo Dwi Cahyono, SpPD- KEMD, FINASIM menyampaikan, menjaga kesehatan selama Lebaran bukan berarti mengurangi kesenangan dan suka cita momen tersebut. Dengan menyesuaikan cara mengolah dan mengonsumsi makanan bisa mengurangi risiko gangguan pencernaan.
“Menjaga kesehatan di Hari Raya bukan berarti membatasi kesenangan dan perayaan. Dengan sedikit penyesuaian pada cara kita mengolah dan mengonsumsi makanan, kita bisa menjaga kesehatan pencernaan dan metabolisme tetap stabil, sehingga momen Idulfitri bisa dinikmati secara maksimal bersama keluarga,” ujar dr. Waluyo.
Agar silaturahmi tetap berjalan lancar tanpa gangguan kesehatan seperti diare atau rasa lemas dr. Waluyo juga membagikan tips praktis:
1. Perhatikan porsi makan
Tetap nikmati hidangan khas Lebaran, namun seimbangkan dengan sayur dan buah agar kebutuhan serat tetap terpenuhi.
2. Lakukan transisi pola makan secara perlahan
Setelah sebulan berpuasa, hindari langsung mengonsumsi makanan yang terlalu pedas atau berat dalam jumlah besar.
3. Pilih metode masak yang lebih sehat
Mengolah makanan dengan cara memanggang, mengukus, atau menumis dengan sedikit minyak dapat menjadi cara alternatif yang lebih sehat.
4. Cukupi cairan dan waktu istirahat
Di tengah jadwal silaturahmi yang padat, jangan lupa untuk tetap minum air agar tubuh tetap terhidrasi dan atur waktu untuk beristirahat.
Merayakan Idulfitri bukan hanya sekadar menikmati hidangan khas atau berkumpul bersama keluarga, tetapi juga menjaga keseimbangan tubuh dan mental. Dengan pola makan yang lebih bijak, istirahat yang cukup, serta kesadaran untuk memantau kondisi kesehatan, momen Lebaran dapat dinikmati dengan penuh makna bersama orang-orang tercinta. (MB/RA/RF/Foto: Canva Ai)