Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Moms & Dads, masih ingat sore-sore di halaman rumah, berlari, tertawa, dan bermain permainan tradisional bersama teman-teman tanpa gadget? Bagi banyak orang tua masa kini, kenangan itu terasa begitu berharga—dan sekarang, kita punya alasan kuat untuk mewariskan permainan zaman dulu tersebut kepada anak-anak kita.
Permainan zaman dulu seperti congklak, gobak sodor, dan petak umpet bukan sekadar hiburan—permainan ini terbukti mendukung perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak secara alami. Di tengah dominasi layar digital, mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak adalah salah satu cara paling menyenangkan untuk membangun karakter mereka.
Mengenal permainan zaman dulu yang kaya nilai edukasi dan sosial
Permainan zaman dulu—atau permainan tradisional—adalah aktivitas bermain yang berkembang secara turun-temurun dalam suatu budaya, biasanya tanpa memerlukan alat elektronik atau teknologi canggih. Di Indonesia, permainan ini sangat beragam dan setiap daerah punya permainan khasnya sendiri.
Yang membuat permainan ini istimewa bukan hanya keseruannya, melainkan nilai-nilai yang tertanam di dalamnya, yakni:
Nilai sosial: Anak belajar berinteraksi, bernegosiasi, dan membangun persahabatan secara langsung.
Nilai edukasi: Banyak permainan tradisional yang melatih kemampuan berhitung, strategi, dan konsentrasi.
Nilai budaya: Permainan ini adalah bagian dari identitas bangsa yang perlu dijaga kelestariannya.
Nilai fisik: Sebagian besar permainan tradisional melibatkan gerak tubuh yang mendukung kesehatan motorik anak.
Baca juga: Ide Permainan Kreatif untuk Anak 5 Tahun agar Tumbuh Kembangnya Optimal
Perbedaan permainan zaman dulu dengan permainan digital modern
Banyak orang tua bertanya-tanya, apakah permainan digital benar-benar "lebih buruk" dari permainan tradisional? Jawabannya tidak sesederhana itu, ada perbedaan mendasar yang perlu dipahami.
Interaksi sosial: Langsung vs virtual
Permainan tradisional terjadi di dunia nyata, dengan teman-teman yang bisa dilihat, didengar, dan disentuh. Anak belajar membaca ekspresi wajah, mengelola emosi di tempat, dan menyelesaikan konflik secara langsung. Permainan digital, meskipun ada yang bersifat multiplayer, tetap membatasi interaksi melalui layar—dan interaksi sosial yang penting sering kali tidak ada.
Aktivitas fisik: Bergerak vs diam
Gobak sodor, lompat tali, atau bentengan mengharuskan anak berlari, melompat, dan bergerak aktif. Ini mendukung perkembangan motorik kasar dan kesehatan fisik. Sementara itu, sebagian besar permainan digital dimainkan sambil duduk—dan menurut Organisasi Kesehatan Dunia, anak-anak usia 5–17 tahun membutuhkan setidaknya 60 menit aktivitas fisik setiap harinya.
Baca juga: 7 Manfaat Bermain di Taman untuk Anak
Kreativitas: Terbuka vs terstruktur
Permainan tradisional sering kali fleksibel—aturan bisa disesuaikan, alat bisa diimprovisasi. Ini merangsang kreativitas dan pemikiran mandiri. Permainan digital umumnya memiliki aturan yang sudah ditetapkan oleh pengembang, sehingga ruang kreativitas anak lebih terbatas.
Durasi dan kontrol: Terukur vs adiktif
Permainan tradisional secara alami punya batasan (misalnya, hingga gelap atau pemain lelah). Permainan digital sering kali dirancang untuk membuat pemain terus bermain—dengan sistem reward, notifikasi, dan level yang tak berujung—yang membuat pengelolaan waktu lebih sulit.
Bukan berarti permainan digital harus dihindari sepenuhnya. Namun, menyeimbangkannya dengan permainan tradisional adalah pilihan bijak untuk tumbuh kembang anak.
20 Permainan zaman dulu yang masih seru untuk anak-anak sekarang
Berikut ini daftar permainan tradisional Indonesia yang bisa Anda kenalkan kembali kepada Si Kecil. Dijamin seru!
Permainan fisik dan outdoor
1. Gobak Sodor: Permainan tim yang melatih kelincahan, strategi, dan kerja sama.
2. Bentengan: Dua tim berebut "benteng" lawan; seru sekaligus menguras energi.
3. Petak umpet: Permainan klasik sepanjang masa yang melatih kesabaran dan kemampuan observasi.
4. Lompat tali: Melatih koordinasi dan ritme gerak tubuh.
5. Kelereng: Melatih konsentrasi, bidikan, dan kemampuan berhitung sederhana.
6. Gasing: Membutuhkan keterampilan tangan dan ketekunan untuk memutarnya dengan sempurna.
7. Layang-layang: Mengajarkan fisika dasar secara menyenangkan sambil menikmati udara terbuka.
8. Egrang: Melatih keseimbangan dan keberanian.
9. Balap karung: Cocok untuk acara keluarga; menghadirkan tawa dan semangat kompetisi sehat.
10. Engklek (sondah): Melatih keseimbangan dan koordinasi kaki dengan pola kotak di tanah.
Permainan meja dan strategi
11. Congklak: Permainan strategi dua pemain yang melatih kemampuan berhitung dan perencanaan.
12. Dakon: Mirip congklak, dimainkan dengan biji-bijian atau batu kecil.
13. Ular tangga: Mengajarkan konsep sebab-akibat dan keberuntungan dengan cara yang menyenangkan.
14. Halma: Permainan papan yang melatih strategi dan berpikir ke depan.
Permainan kelompok dan kreatif
15. Ular naga: Permainan melingkar yang mengajarkan kerja sama dan refleks.
16. Cublak-cublak suweng: Melatih konsentrasi dan kemampuan memperhatikan detail.
17. Jamuran: Permainan bernyanyi dan bergerak yang mengembangkan ekspresi diri.
18. Bekel: Melatih ketangkasan tangan dan konsentrasi.
19. Gasing bambu: Versi tradisional yang membutuhkan keterampilan tangan dan kesabaran.
20. Yoyo: Melatih koordinasi tangan dan konsentrasi sambil terus berlatih.
Cara mengajarkan permainan zaman dulu pada anak zaman now
Mengajak anak yang terbiasa dengan gadget untuk bermain congklak atau gobak sodor memang butuh pendekatan tersendiri, tetapi bukan berarti sulit. Ini justru bisa menjadi momen bonding yang luar biasa antara orang tua dan anak.
1. Mulai dari cerita
Anak-anak merespons cerita jauh lebih baik daripada instruksi. Sebelum mengajak bermain, ceritakan kenangan pribadi Anda saat bermain permainan itu dulu. "Dulu Mama suka banget main engklek sama teman-teman di sekolah..." Cerita autentik seperti ini membuat anak penasaran dan tertarik untuk mencoba.
2. Jadikan pengalaman, bukan kewajiban
Jangan bingkai permainan tradisional sebagai "pengganti HP." Sebaliknya, jadikan itu sebagai acara spesial—misalnya, "Game Day Sabtu Sore" atau "Turnamen Kelereng Keluarga." Ketika anak merasakan kegembiraan dan kebersamaan, ia akan sendirinya meminta untuk mengulang.
3. Libatkan nenek, kakek, atau tetangga
Tidak ada guru permainan tradisional yang lebih baik dari generasi yang tumbuh bersamanya. Ajak kakek atau nenek untuk mengajarkan langsung. Ini juga sekaligus memperkuat hubungan lintas generasi dalam keluarga.
4. Adaptasi aturan sesuai usia
Untuk anak yang lebih kecil, sederhanakan aturan. Congklak bisa dimulai dengan lubang yang lebih sedikit; engklek bisa dimulai dengan pola yang lebih pendek. Yang penting adalah pengalaman bermain dan merasakan keseruannya terlebih dahulu—detail aturan bisa datang belakangan.
5. Gabungkan dengan elemen modern
Tidak ada salahnya menambahkan sentuhan modern. Misalnya, foto atau rekam momen bermain untuk dibagikan bersama keluarga besar, atau buat "papan skor keluarga" digital untuk turnamen kelereng mingguan. Ini membuat permainan tradisional terasa relevan tanpa menghilangkan esensinya.
Fakta tentang manfaat permainan tradisional dalam perkembangan sosial anak
1. Meningkatkan kecerdasan emosional
Permainan tradisional yang melibatkan banyak pemain mengajarkan anak untuk mengelola emosi—baik saat menang maupun kalah. Studi dari Journal of Child Psychology menunjukkan bahwa anak-anak yang sering bermain dalam kelompok memiliki skor kecerdasan emosional yang lebih tinggi dibandingkan anak yang lebih banyak bermain sendiri.
2. Mendorong kemampuan komunikasi
Permainan seperti gobak sodor atau bentengan mengharuskan anak untuk berkomunikasi, berstrategi, dan membuat keputusan bersama tim. Ini secara langsung melatih kemampuan verbal dan nonverbal anak sejak dini.
3. Mengurangi risiko kecemasan sosial
Anak yang terbiasa bermain dalam kelompok cenderung lebih percaya diri dalam situasi sosial. Mereka terlatih untuk memulai percakapan, bergabung dengan kelompok baru, dan menangani penolakan—keterampilan yang sangat dibutuhkan sepanjang hidup.
4. Mendukung perkembangan motorik
Permainan fisik seperti lompat tali dan egrang merangsang perkembangan motorik kasar dan halus. Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), aktivitas fisik yang cukup pada masa kanak-kanak berkorelasi positif dengan prestasi akademik dan kesehatan mental jangka panjang.
5. Melestarikan identitas budaya
Di luar manfaat individual, mengajarkan permainan tradisional kepada anak adalah tindakan pelestarian budaya. Ini membangun rasa bangga terhadap warisan leluhur dan memperkuat identitas sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.
Itulah beberapa permainan zaman dulu yang bisa Anda kenalkan kepada anak, Moms & Dads. Mulailah dari yang simpel: Ajak Si Kecil bermain congklak sore ini, atau tantang ia bermain petak umpet di halaman. Anda mungkin akan terkejut betapa cepatnya ia jatuh cinta pada permainan sederhana ini. (MB/SW/RF/Foto: Freepik)