Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Musim hujan sering kali bikin para orang tua lebih waspada. Saat Si Kecil tiba-tiba demam tinggi, wajar kalau Moms langsung kepikiran DBD, apalagi penyakit ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup sering terjadi di Indonesia. Karena itu, kabar tentang perkembangan vaksin dengue tentu menjadi angin segar untuk menjawab kekhawatiran para orang tua.
Baru-baru ini, pemerintah Indonesia resmi meluncurkan prototipe vaksin DBD berbasis teknologi mRNA. Meski masih berada pada tahap penelitian dan belum bisa digunakan oleh masyarakat, langkah ini menjadi pencapaian penting karena berpotensi melahirkan vaksin dengue berbasis mRNA pertama di dunia.
Apa itu vaksin mRNA?
Moms mungkin pernah mendengar istilah vaksin mRNA saat pandemi Covid-19. Nah, teknologi yang sama kini sedang dikembangkan untuk membantu melawan virus dengue penyebab DBD.
Kalau disederhanakan, vaksin mRNA bekerja dengan memberi "petunjuk" kepada sel tubuh untuk membuat potongan kecil protein yang menyerupai virus. Dari situ, sistem imun akan belajar mengenali protein tersebut dan mulai membentuk antibodi. Jadi, tubuh bisa berlatih mengenali virus tanpa harus terinfeksi virus dengue itu sendiri. Setelah selesai menjalankan tugasnya, materi mRNA juga akan terurai secara alami di dalam tubuh.
Prototipe vaksin ini merupakan hasil kerja sama Kementerian Kesehatan RI, Universitas Indonesia, Tsinghua University dari Tiongkok, PT Etana Biotechnologies Indonesia, serta didukung oleh LPDP. Penelitiannya sendiri sudah dimulai sejak 2023.
Meski terdengar menjanjikan, Moms belum bisa mendapatkan vaksin ini dalam waktu dekat, ya. Saat ini, vaksin tersebut masih berada pada tahap pra klinis, yaitu tahap penelitian sebelum diuji pada manusia. Artinya, masih ada beberapa tahapan yang harus dilalui untuk memastikan vaksin ini benar-benar aman dan efektif sebelum nantinya bisa digunakan oleh masyarakat.
Kenapa harus "Tetravalen"?
Moms mungkin bertanya-tanya, apa sih maksud dari istilah tetravalen? Sederhananya, vaksin ini dirancang untuk melindungi tubuh dari empat jenis (serotipe) virus dengue sekaligus, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.
Hal ini penting karena virus dengue memang memiliki empat serotipe yang berbeda. Jadi, seseorang yang sudah pernah terkena DBD tetap bisa terinfeksi lagi jika terpapar serotipe lainnya. Bahkan, pada beberapa kasus, infeksi kedua dapat menimbulkan gejala yang lebih berat.
Nah, di sinilah teknologi mRNA dinilai punya keunggulan. Wadah ini memungkinkan peneliti merancang vaksin yang dapat menargetkan keempat serotipe tersebut dalam satu formulasi. Sejumlah peneliti yang terlibat juga menyebut hasil awal pembentukan antibodinya cukup menjanjikan dibandingkan vaksin yang sudah tersedia. Namun, temuan ini masih perlu dibuktikan melalui uji klinis untuk memastikan vaksin benar-benar aman dan efektif sebelum nantinya bisa digunakan oleh masyarakat.
Kapan vaksin ini bisa digunakan?
Saat ini, vaksin masih berada pada tahap pra klinis, yaitu tahap penelitian sebelum diuji pada manusia. Setelah itu, masih ada beberapa fase uji klinis yang harus dilalui untuk memastikan vaksin benar-benar aman, efektif, dan memiliki dosis yang tepat. Jika seluruh tahapan tersebut berjalan dengan baik, barulah vaksin dapat diajukan ke BPOM untuk mendapatkan izin edar.
Dalam pengembangannya BPOM sudah ikut terlibat sejak awal proses penelitian, bukan hanya saat vaksin akan dipasarkan. Hal ini dilakukan agar aspek keamanan, kualitas, dan mutu vaksin dapat dipantau sejak proses pengembangannya.
Di sisi lain, Indonesia juga dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung penelitian vaksin dengue karena masih mencatat jumlah kasus DBD yang cukup tinggi setiap tahunnya. Kondisi ini membuat para peneliti lebih mudah melakukan uji klinis pada populasi yang memang membutuhkan perlindungan terhadap penyakit tersebut.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, juga berharap pengembangan vaksin ini dapat berlangsung lebih cepat dibandingkan pengembangan vaksin pada umumnya. Pengalaman kolaborasi internasional saat pandemi Covid-19 menjadi bekal penting untuk mempercepat proses riset tanpa mengabaikan aspek keamanan dan kualitas vaksin.
Meski masih ada proses yang harus dilalui agar manfaat dan keamanannya benar-benar terbukti, peluncuran prototipe ini tetap menjadi langkah awal yang patut diapresiasi karena menunjukkan komitmen Indonesia dalam mengembangkan vaksin dengue sendiri dengan teknologi mRNA.
Sambil menunggu seluruh proses penelitian selesai, jangan lupa tetap melakukan langkah pencegahan DBD di rumah. Rutin menerapkan 3M Plus, menguras dan menutup tempat penampungan air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, serta menggunakan perlindungan dari gigitan nyamuk tetap menjadi cara terbaik untuk menjaga kesehatan keluarga. Dengan begitu, Moms dan Si Kecil bisa tetap terlindungi dari penyakit DBD sambil menantikan perkembangan vaksin ini di masa mendatang. (MB/RA/RF/Foto: Freepik)
- Tag:
- vaksin
- dbd
- demam berdarah
