Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Pernahkah Moms merasa bingung karena Si Kecil tidak bisa duduk diam saat belajar, selalu ingin menyentuh segala sesuatu, dan tampak lebih mudah paham setelah mencoba langsung daripada sekadar mendengar penjelasan? Banyak orang tua langsung melabeli anak seperti ini sebagai "susah diatur". Padahal, bisa jadi Si Kecil adalah anak kinestetik, anak yang belajar lewat gerak dan sentuhan.
Memahami cara belajar anak kinestetik memang bukan sekadar soal strategi akademis. Ini tentang melihat perilaku anak Anda, bagaimana otaknya bekerja, dan bagaimana Moms bisa mendukungnya. Yuk, simak penjelasan tentang apa itu anak kinestetik, bagaimana membedakannya dari anak aktif biasa atau anak dengan ADHD, dan seperti apa cara belajarnya!
Apa itu anak kinestetik dan mengapa sebaiknya tidak menjadi label tetap?
Istilah anak kinestetik berasal dari teori gaya belajar VAK (Visual, Auditory, Kinesthetic) yang dipopulerkan oleh Neil Fleming pada 1987. Dalam teori ini, pelajar kinestetik adalah mereka yang menyerap informasi paling baik melalui pengalaman fisik—menyentuh, mencoba, bergerak, dan melakukan.
Namun, penting untuk dipahami sejak awal: gaya belajar bukanlah peraturan yang kaku. Penelitian terkini menunjukkan bahwa hampir semua anak menggunakan kombinasi dari berbagai gaya belajar, tergantung konteks dan jenis materi. Artinya, menyebut seorang anak sebagai "anak kinestetik" sebaiknya dijadikan titik awal untuk memahami preferensinya—bukan label permanen yang membatasi.
Masalah muncul ketika label ini digunakan untuk membenarkan keterbatasan ("dia memang tidak bisa belajar dari buku") atau sebaliknya, untuk mengabaikan kebutuhan dukungan tambahan yang mungkin diperlukannya.
Baca juga: Macam-Macam Gaya Belajar Anak, Kenali Ciri-cirinya!
Ciri anak yang menyukai belajar lewat gerak dan praktik
Mengenali ciri anak kinestetik tidak selalu mudah, terutama karena banyak karakteristiknya yang tumpang tindih dengan perilaku anak-anak pada umumnya. Namun, ada pola-pola tertentu yang bisa Moms perhatikan, yakni:
Ciri-ciri umum anak kinestetik
- Belajar lewat praktik langsung. Anak kinestetik lebih cepat paham cara memakai gunting daripada sekadar melihat demonstrasi. Mereka perlu merasakannya sendiri.
- Sulit diam dalam waktu lama. Duduk mendengarkan selama 30 menit terasa sangat berat. Mereka cenderung menggerakkan kaki, meremas pensil, atau berdiri tanpa sadar.
- Sangat peka terhadap sentuhan dan tekstur. Mereka sering ingin menyentuh benda yang mereka lihat, dan bisa terganggu oleh pakaian yang tidak nyaman atau lingkungan yang terlalu ramai secara sensoris.
- Memiliki koordinasi tubuh yang baik. Banyak anak kinestetik unggul dalam olahraga, tari, atau kegiatan yang melibatkan keterampilan motorik.
- Menggunakan gerakan untuk berpikir. Mereka bisa lebih mudah mengingat sesuatu jika sambil berjalan, menggunakan tangan, atau membuat model fisik.
- Lebih suka mencoba daripada membaca instruksi. Buku petunjuk sering diabaikan—mereka langsung merakit, mencoba, atau bereksperimen.
Bagaimana ciri ini terlihat di rumah dan sekolah?
Di rumah, anak kinestetik mungkin sangat antusias membantu memasak, membangun sesuatu, atau berkebun—tetapi cepat bosan saat diminta mengerjakan lembar kerja. Di sekolah, mereka sering disebut guru sebagai "anak yang tidak bisa fokus" padahal sebenarnya mereka fokus—hanya saja dengan cara yang berbeda.
Perbedaan anak kinestetik, anak aktif, dan ADHD
Ini adalah pertanyaan yang sangat sering muncul di kalangan orang tua, dan wajar sekali untuk merasa bingung. Ketiga kondisi ini memang memiliki tampilan luar yang mirip: anak yang bergerak terus, sulit duduk diam, dan tampak "tidak mendengarkan". Namun, perbedaannya cukup signifikan.
Anak kinestetik vs anak aktif secara umum
Anak yang aktif secara fisik belum tentu memiliki preferensi belajar kinestetik. Seorang anak bisa sangat energik di luar ruangan, tetapi tetap bisa duduk dan fokus membaca buku dengan tenang. Anak kinestetik, sebaliknya, menunjukkan kebutuhan gerak yang terkait langsung dengan proses belajar dan konsentrasinya—bukan semata-mata karena energi yang berlebih.
Anak kinestetik vs ADHD
ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah kondisi neurologis yang didiagnosis secara klinis, ditandai oleh pola impulsivitas, kesulitan mempertahankan perhatian, dan hiperaktivitas yang muncul di berbagai konteks—bukan hanya saat belajar. Gejalanya konsisten, terjadi di rumah, sekolah, dan lingkungan sosial lainnya, serta berdampak nyata pada fungsi sehari-hari anak.
Anak kinestetik, di sisi lain, biasanya mampu fokus dengan baik ketika aktivitasnya melibatkan gerak atau praktik langsung. Mereka tidak mengalami kesulitan di semua situasi—hanya di situasi yang mengharuskan mereka pasif dalam waktu lama.
Jika Moms melihat tanda-tanda yang lebih menetap dan berdampak luas pada kehidupan anak, penting untuk tidak berhenti di asumsi "dia anak kinestetik" saja. Konsultasi dengan psikolog anak atau dokter spesialis anak adalah langkah yang bijak.
Strategi belajar berbasis gerak yang bisa dicoba di rumah dan sekolah
Kabar baiknya: Ada banyak cara belajar anak kinestetik yang bisa Moms terapkan tanpa harus mengubah seluruh sistem belajar anak. Mulailah dari yang kecil dan lihat mana yang paling berpengaruh untuk Si Kecil.
Di rumah
1. Gunakan objek nyata sebagai alat belajar
Belajar penjumlahan? Gunakan kancing, kacang polong, atau mainan kecil. Belajar sistem tata surya? Buat model dari bola plastisin. Saat tangan anak terlibat, informasi lebih mudah melekat.
2. Izinkan gerak saat belajar
Moms tidak perlu memaksa anak duduk tegak di meja. Biarkan ia berjalan sambil mengulang hafalan, bouncing di bola gym kecil saat membaca, atau berdiri di meja yang lebih tinggi. Gerak kecil membantu otak tetap terjaga.
3. Jadikan belajar sebagai pengalaman
Kunjungi museum sains, ikut kegiatan berkebun, atau masak bersama sambil belajar matematika (mengukur bahan) dan sains (reaksi kimia sederhana). Pengalaman langsung adalah guru terbaik untuk anak kinestetik.
4. Manfaatkan waktu bermain sebagai waktu belajar
Permainan peran (role play), membangun dengan balok, atau eksperimen sederhana di dapur bukan sekadar hiburan—ini adalah cara belajar yang sesungguhnya bagi anak kinestetik.
Baca juga: 7 Kegiatan Belajar Sambil Bermain untuk Anak
5. Beri jeda aktif di antara sesi belajar
Setelah 15–20 menit belajar, ajak anak melompat 10 kali, meregangkan tubuh, atau menari sebentar. Jeda ini bukan gangguan—ini adalah reset otak yang ia butuhkan.
Di sekolah
Banyak metode juga bisa diterapkan atau diusulkan kepada guru, seperti:
- Project-based learning: Tugas berbentuk proyek nyata lebih efektif daripada soal di kertas.
- Pembelajaran stasion (station rotation): Anak berpindah dari satu area ke area lain untuk aktivitas berbeda—ini sangat cocok untuk pelajar kinestetik.
- Penggunaan manipulatif matematis: Benda-benda fisik untuk menghitung dan memahami konsep angka.
- Drama dan simulasi: Memerankan tokoh sejarah atau skenario ilmu pengetahuan membuat pelajaran jauh lebih berkesan.
Cara berdiskusi dengan guru dan kapan anak memerlukan evaluasi
Jangan ragu untuk berkomunikasi aktif dengan guru, terutama jika Anda melihat pola yang membuat anak kesulitan belajar di sekolah.
Cara memulai diskusi dengan guru
Mulailah dengan pendekatan kolaboratif, misalnya:
- "Saya perhatikan anak saya belajar lebih baik ketika ada aktivitas fisik yang terlibat. Apakah ada cara kita bisa mencoba pendekatan ini di kelas?"
- "Saya ingin berbagi beberapa strategi yang berhasil di rumah. Mungkin bisa kita coba bersama."
Datanglah dengan informasi konkret: contoh situasi di mana anak berhasil dan situasi di mana ia kesulitan. Guru yang baik akan menghargai masukan ini.
Kapan sebaiknya mencari evaluasi profesional?
Ada beberapa tanda yang menunjukkan bahwa anak mungkin membutuhkan lebih dari sekadar penyesuaian metode belajar, yakni:
- Kesulitan belajar terjadi di semua situasi, bukan hanya saat harus diam
- Anak menunjukkan frustrasi atau kecemasan yang intens terkait sekolah
- Ada keterlambatan perkembangan yang terlihat dibandingkan teman sebaya
- Perilaku impulsif atau sulit dikontrol terjadi secara konsisten di rumah, sekolah, dan lingkungan sosial
- Guru atau konselor sekolah menyarankan evaluasi lebih lanjut.
Dalam situasi ini, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog anak atau dokter tumbuh kembang. Evaluasi merupakan cara untuk memahami kebutuhan spesifik Si Kecil secara lebih mendalam, sehingga dukungan yang diberikan bisa jauh lebih tepat sasaran.
Memahami bahwa Si Kecil adalah anak kinestetik bisa menjadi titik balik yang mengubah cara Moms melihat dan mendukungnya. Bukan sebagai anak yang "susah diatur", tetapi sebagai anak yang membutuhkan pendekatan berbeda. Yang terpenting adalah tetap hadir dan terus mencari cara terbaik untuk mendukung perjalanan belajar anak. (MB/SW/RF/Foto: Freepik)