FAMILY & LIFESTYLE

Dukung Perencanaan Keluarga dengan Pilihan KB untuk Pria


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Kalau Anda dan pasangan sedang mencari KB untuk pria selain kondom, mungkin Anda akan merasa kebingungan. Ada yang bilang sudah ada pil KB pria, ada juga yang menyebut suntik atau gel. Padahal, kenyataannya tidak semua metode yang muncul di internet itu benar-benar bisa Anda pakai sekarang. Sebagian masih dalam tahap penelitian dan belum disetujui untuk beredar bebas.

KB apa yang tepat untuk pria?

Sampai saat ini, hanya ada dua metode KB pria yang sudah teruji secara medis dan tersedia secara luas, yaitu kondom dan vasektomi. Kondom adalah salah satu opsi termudah dan fleksibel karena tidak memerlukan prosedur medis. Selain mencegah kehamilan, kondom juga menjadi satu-satunya metode KB pria yang sekaligus melindungi penggunanya dari infeksi menular seksual (IMS).

Sedangkan vasektomi untuk pria merupakan prosedur bedah minor yang memutus atau menutup saluran sperma sehingga sperma tidak lagi ikut keluar bersama air mani setelah ejakulasi. Prosedur ini membutuhkan waktu yang cukup singkat, umumnya hanya 15-30 menit dan cukup dengan bius lokal. Namun, karena sifatnya yang permanen, vasektomi umumnya menjadi pilihan pasangan yang sudah benar-benar yakin tidak ingin menambah momongan lagi di masa depan.

Pandangan ini juga ditegaskan oleh dr. Dimas Sindhu Wibisono, Sp.U, Spesialis Urologi sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Menurutnya, "Vasektomi merupakan pilihan KB pria yang sederhana, aman dan sangat efektif."

Ia menambahkan bahwa para pria tidak perlu ragu untuk turut berperan aktif dalam program keluarga berencana. Pernyataan ini semakin menegaskan bahwa vasektomi bukan sekadar opsi tambahan, melainkan langkah nyata yang dapat diambil pasangan untuk berbagi tanggung jawab dalam merencanakan keluarga.

Baca juga: Apakah Kondom Bisa Bocor? Simak Penyebab dan Tanda-tandanya

Apakah withdrawal bisa diandalkan?

Selain dua metode medis di atas, terdapat pula withdrawal atau yang dikenal dengan senggama terputus. Metode ini dilakukan dengan cara menarik penis keluar dari vagina sebelum ejakulasi terjadi, sehingga air mani yang mengandung sperma tidak sampai masuk ke dalam saluran reproduksi wanita. Cara ini juga masih sangat masif diterapkan oleh banyak pasangan dikarenakan tidak memerlukan alat, biaya, atau persiapan medis apa pun.

Meskipun terdengar sederhana, withdrawal termasuk cara dengan efektivitas yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan kondom atau vasektomi, karena hanya bergantung pada kontrol diri saat bersenggama. Selain itu, cairan pra-ejakulasi tetap berisiko mengandung sperma dalam jumlah kecil, sehingga kegagalan dalam metode ini masih sering terjadi dalam praktiknya.

Metode ini sebenarnya dapat dijadikan pelengkap dalam situasi tertentu, misalnya saat pasangan sedang menunggu masa transisi pasca-vasektomi. Namun, sebaiknya tidak dijadikan andalan utama apabila Moms dan pasangan benar-benar ingin mengatur jarak atau jumlah kehamilan secara maksimal, mengingat risiko kegagalannya jauh lebih tinggi dibandingkan metode yang sudah teruji secara medis.

Bagaimana perbandingan antara metode?

Moms dan pasangan mungkin masih bertanya-tanya metode mana yang paling sesuai dengan kebutuhan keluarga. Agar lebih mudah dipahami, berikut rangkuman perbandingan keempat metode kontrasepsi pria dari segi efektivitas, reversibilitas, perlindungan terhadap IMS, biaya, hingga waktu mulai efektif digunakan.

Kapan pil KB pria bisa digunakan?

Banyak Moms yang mungkin penasaran tentang pil KB pria yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Faktanya, penelitian ini memang telah berjalan selama bertahun-tahun dan mencakup beberapa bentuk, mulai dari pil oral, suntik hormonal, hingga gel.

Pada dasarnya, cara kerja pil KB ini sama, yaitu menekan produksi sperma dengan mengatur kadar hormon testosteron dan progestin dalam tubuh pria, sehingga proses produksi sperma di testis terhambat untuk sementara waktu.

Beberapa uji klinis memang menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan dari sisi penurunan jumlah sperma secara signifikan pada peserta uji coba. Namun, tantangan besar masih terletak pada keamanan jangka panjang dan profil efek samping yang dilaporkan, seperti perubahan suasana hati, penurunan libido, jerawat, hingga kenaikan berat badan. Kondisi ini membuat para peneliti terus menyempurnakan dosis dan formulanya agara rasio manfaat dan risikonya benar-benar aman sebelum dapat diajukan untuk mendapatkan izin edar resmi.

Hingga saat ini, belum ada satu pun metode hormonal tersebut yang disetujui oleh badan regulasi kesehatan mana pun untuk digunakan secara luas oleh masyarakat umum. Jadi, untuk saat ini, penting bagi Moms dan pasangan untuk tidak terburu-buru menjadikan metode-metode ini sebagai solusi jangka pendek.

Kondom dan vasektomi tetap menjadi pilihan paling realistis dan sudah terbukti aman, terutama bagi yang sedang mencari alat kontrasepsi pria selain kondom yang bersifat permanen.

Bagaimana cara menentukan pilihan yang tepat?

Setelah memahami berbagai metode di atas, langkah selanjutnya adalah menyesuaikannya dengan kondisi dan kebutuhan keluarga masing-masing, sebab tidak ada satu metode yang paling tepat untuk semua pasangan. Berikut beberapa hal yang bisa Moms dan pasangan pertimbangkan bersama sebelum menjatuhkan pilihan.

  1. Rencana menambah momongan di masa depan

    Apabila Moms dan pasangan masih mempertimbangkan kemungkinan menambah anak di kemudian hari, sebaiknya pilih metode yang bersifat sementara dan mudah dihentikan kapan saja, seperti kondom atau metode kesadaran kesuburan. Sebaliknya, jika sudah benar-benar yakin tidak ingin memiliki anak lagi, vasektomi bisa menjadi pertimbangan utama karena sifatnya yang permanen dan sangat efektif.
  2. Kebutuhan perlindungan dari IMS

    Bagi pasangan yang masih memiliki risiko terpapar infeksi menular seksual, misalnya karena baru memulai hubungan atau salah satu pihak masih memiliki pasangan seksual lain, kondom tetap menjadi pilihan yang wajib dipertimbangkan, mengingat kondom adalah satu-satunya metode KB pria yang sekaligus memberikan perlindungan terhadap IMS.
  3. Kenyamanan dan kedisiplinan dalam penggunaan

    Setiap metode membutuhkan tingkat kedisiplinan yang berbeda-beda. Kondom perlu digunakan secara konsisten setiap kali berhubungan, sementara metode kesadaran kesuburan menuntut pemantauan siklus menstruasi yang teliti dan rutin. Apabila Moms dan pasangan merasa kesulitan menjaga konsistensi ini, metode yang lebih permanen seperti vasektomi bisa menjadi solusi yang lebih praktis dalam jangka panjang.
  4. Kondisi kesehatan dan riwayat medis

    Sebelum memutuskan, penting untuk memastikan kondisi kesehatan pasangan pria, terutama jika mempertimbangkan vasektomi. Riwayat kesehatan tertentu, seperti gangguan pembekuan darah atau infeksi di area genital, perlu didiskusikan lebih dulu dengan dokter agar prosedur berjalan aman.
  5. Biaya dan akses layanan kesehatan

    Faktor ini juga tidak kalah penting untuk dipertimbangkan. Kondom relatif terjangkau dan mudah didapatkan di mana saja, sementara vasektomi membutuhkan biaya sekali bayar dan akses ke fasilitas kesehatan dengan layanan urologi. Pastikan Moms dan pasangan sudah mempertimbangkan aspek ini agar tidak menjadi kendala di kemudian hari.

Baca juga: Ragam Metode KB Alami dan Efektivitasnya

Itulah beberapa pilihan KB untuk pria. Setelah kelima hal tersebut dipertimbangkan bersama, jangan pernah ragu untuk berkonsultasi langsung dengan dokter urologi atau dokter kandungan sebelum mengambil keputusan sebesar ini. Diskusi terbuka bersama pasangan dan tenaga medis akan membantu Moms menemukan metode yang benar-benar sesuai dengan kondisi kesehatan, gaya hidup, dan rencana keluarga ke depannya.(MB/RA/RF/Foto: Freepik)