BABY

Bolehkah Bayi Makan Yoghurt untuk MPASI? Ini Penjelasannya!


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Memperkenalkan yoghurt untuk MPASI kadang bikin Moms ragu-ragu, apalagi untuk Anda yang baru pertama kali memulai perjalanan MPASI bersama Si Kecil. Padahal, kalau dipilih dan diperkenalkan dengan cara yang tepat, yoghurt justru bisa jadi salah satu menu favorit yang menyehatkan pencernaan Si Kecil lho, Moms!

Sebelum memberikan yoghurt pada Si Kecil, pastikan terlebih dahulu keamanannya, risiko alerginya, dan porsi yang pas dengan usianya. Yuk, cari tahu informasinya di bawah ini, Moms.

Usia aman memberikan yoghurt

Yoghurt adalah produk fermentasi susu yang mengandung bakteri baik (probiotik), protein, kalsium, dan lemak yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang bayi. Yoghurt umumnya sudah bisa diperkenalkan sejak bayi memulai MPASI di usia 6 bulan, dengan catatan pilih yoghurt plain (tawar), full-fat (lemak penuh), dan sudah dipasteurisasi, serta hindari tambahan madu sebelum usia 1 tahun.

Merujuk pada anjuran umum pemberian MPASI yang dimulai sejak usia 6 bulan, yoghurt termasuk salah satu menu yang bisa diperkenalkan sejak fase awal ini. Yoghurt dan produk olahan susu seperti keju umumnya sudah boleh diperkenalkan lebih awal sebagai bagian dari menu MPASI. Sebab, proses fermentasinya membuat kandungan laktosanya lebih mudah dicerna dibanding susu segar.

Meski begitu, kalau Moms masih merasa ragu, tidak masalah menunda pemberian yoghurt hingga usia 9-10 bulan, saat sistem pencernaannya lebih siap. Tidak ada yang salah dengan menunda sedikit lebih lama, selama Si Kecil tetap mendapat variasi menu MPASI lain yang bergizi seimbang. Yang terpenting, yoghurt tetap berperan sebagai makanan pendamping, bukan pengganti ASI atau susu formula yang masih jadi sumber nutrisi utama Si Kecil di tahun pertama.

Beberapa penelitian bahkan menyebutkan bahwa menunda pengenalan makanan berbahan dasar susu terlalu lama justru berpotensi meningkatkan risiko alergi di kemudian hari. Memperkenalkannya secara bertahap sejak awal MPASI sebenarnya lebih dianjurkan dibanding terus-menerus dihindari. Tentu saja, keputusan akhir sebaiknya tetap dikonsultasikan dengan dokter atau disesuaikan dengan kondisi kesehatan Si Kecil masing-masing.

Baca juga: Tekstur MPASI Bayi 10 Bulan yang Tepat

Rekomendasi jenis dan merek yoghurt

Saat memilih merek yoghurt untuk bayi, pastikan Moms memerhatikan tiga kriteria utama, yaitu plain (tanpa rasa), full-fat (bukan rendah lemak), dan sudah melalui proses pasteurisasi. Berikut beberapa pilihan yang banyak direkomendasikan untuk MPASI:

1. Greenfields Yoghurt Plain

Yoghurt ini tidak mengandung pemanis buatan maupun pewarna sintetis, sehingga cukup aman dijadikan menu MPASI maupun campuran olahan lain untuk Si Kecil.

2. Elle & Vire Yoghurt Plain

Yoghurt asal Prancis ini punya rasa yang tidak terlalu asam dan teksturnya lembut, sehingga relatif mudah diterima bayi yang baru pertama kali mencoba yoghurt.

3. Cimory Squeeze Original atau Greek Style Original

Kemasan squeeze-nya praktis dibawa bepergian, sementara varian Greek style punya kandungan protein yang lebih tinggi dengan tekstur lebih kental.

4. Biokul Yoghurt Plain

Yoghurt lokal ini mudah ditemukan di pasaran dan dikenal kaya bakteri baik yang mendukung kesehatan pencernaan Si Kecil.

5. Yummy Yoghurt Natural Plain

Dibuat dari susu segar pasteurisasi, yoghurt ini punya tekstur cukup kental dan tanpa tambahan pengawet, pewarna, atau pemanis buatan.

Takaran yoghurt untuk bayi sesuai usia, Moms bisa mengacu pada gambaran umum berikut sebagai acuan awal.

Yoghurt plain vs yoghurt rasa

Di rak supermarket, Moms akan menemukan banyak pilihan yoghurt dengan berbagai rasa buah yang terlihat menggoda. Namun, untuk bayi, yoghurt plain tetap jadi pilihan yang direkomendasikan dibanding yoghurt rasa.

Yoghurt rasa pada umumnya mengandung tambahan gula, perisa, atau pemanis lain untuk membuat rasanya lebih menarik. Padahal bayi di bawah usia 2 tahun sebaiknya tidak mendapat tambahan gula sama sekali dalam makanannya. Selain soal gula, yoghurt plain juga memudahkan Moms mendeteksi reaksi alergi, karena hanya terdiri dari bahan dasar susu fermentasi tanpa campuran bahan lain yang bisa membingungkan sumber reaksi jika muncul gejala tertentu.

Kalau Moms ingin memberi variasi rasa, cara yang lebih aman adalah mencampur yoghurt plain dengan buah segar yang dihaluskan sendiri, seperti pisang, alpukat, atau pepaya, dibanding membeli yoghurt rasa kemasan. Dengan begitu, Moms tetap bisa mengontrol penuh bahan yang masuk ke menu MPASI Si Kecil, sekaligus membiasakan lidahnya mengenal rasa alami makanan sejak dini.

Cara memperkenalkan yoghurt pertama kali

Memperkenalkan yoghurt untuk pertama kalinya sebaiknya dilakukan bertahap dan penuh perhatian. Berikut langkah yang bisa Moms ikuti:

1. Mulai dengan porsi kecil

Berikan sekitar satu hingga dua sendok teh di percobaan pertama, lalu amati reaksi tubuh Si Kecil selama beberapa hari sebelum menambah porsinya.

2. Perkenalkan satu jenis makanan baru dalam satu waktu

Beri jeda sekitar 3-4 hari sebelum memperkenalkan makanan baru lainnya, agar lebih mudah mengenali penyebab bila muncul reaksi tidak biasa.

3. Sesuaikan tekstur dengan tahap MPASI Si Kecil

Untuk bayi yang baru mulai MPASI, yoghurt plain biasanya sudah cukup lembut untuk langsung disajikan, sementara untuk metode BLW bisa dicampur dengan buah potong yang mudah digenggam.

4. Sajikan dalam suhu ruang, jangan terlalu dingin

Yoghurt yang langsung diambil dari kulkas sebaiknya didiamkan sebentar di suhu ruang agar tidak membuat Si Kecil kaget atau tidak nyaman saat pertama kali mencicipinya.

5. Selalu dampingi saat Si Kecil makan

Tetap awasi Si Kecil setiap kali mencoba makanan baru, termasuk yoghurt, untuk mengantisipasi bila muncul reaksi yang perlu penanganan segera.

Baca juga: 30 Menu MPASI 1 Tahun Sehat dan Praktis

Tanda alergi yang perlu diwaspadai

Meski yoghurt umumnya aman, Moms tetap perlu mengenali tanda-tanda alergi susu yang mungkin muncul setelah Si Kecil mengonsumsinya untuk pertama kali.

1. Muncul ruam kemerahan atau biduran di kulit

Terutama di area sekitar mulut. Reaksi ini biasanya muncul cukup cepat, dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah Si Kecil mengonsumsi yoghurt. Perhatikan juga apakah ruam ini menyebar ke area tubuh lain, karena penyebaran yang cepat bisa jadi tanda reaksi yang lebih serius.

2. Bibir, wajah, atau area sekitar mata terlihat bengkak

Pembengkakan ini merupakan tanda reaksi alergi yang perlu diwaspadai, apalagi bila muncul bersamaan dengan gejala lain. Bengkak di area wajah juga perlu diperhatikan seberapa cepat perkembangannya, karena pembengkakan yang progresif menandakan reaksi tubuh yang semakin kuat.

3. Muntah atau diare

Gangguan pencernaan mendadak seperti ini bisa jadi tanda tubuh Si Kecil bereaksi terhadap protein susu yang terkandung di dalamnya. Perhatikan pula frekuensinya, karena muntah atau diare berulang dalam waktu singkat berisiko membuat Si Kecil dehidrasi.

4. Si Kecil tampak sangat rewel, kolik, atau tidak nyaman

Meski bisa punya banyak penyebab lain, kerewelan yang muncul spesifik setelah makan yoghurt patut dicurigai sebagai reaksi terhadap makanan tersebut. Coba perhatikan apakah pola ini berulang setiap kali Si Kecil mengonsumsi yoghurt, karena pola yang konsisten lebih kuat mengindikasikan alergi dibanding kejadian sesekali.

5. Batuk terus-menerus atau napas terdengar berbunyi (mengi)

Gejala ini menandakan saluran napas mulai terpengaruh oleh reaksi alergi dan perlu diperiksakan segera ke dokter. Jangan anggap remeh batuk yang muncul tiba-tiba dan tidak kunjung reda, terutama bila sebelumnya Si Kecil tidak menunjukkan gejala pilek atau flu.

6. Sesak napas atau kesulitan bernapas

Ini termasuk tanda darurat yang membutuhkan pertolongan medis sesegera mungkin, karena bisa berkembang jadi reaksi alergi berat (anafilaksis) bila tidak segera ditangani. Jangan menunggu gejala membaik sendiri, segera bawa Si Kecil ke IGD terdekat begitu tanda ini muncul.

Reaksi ringan seperti ruam kecil atau sedikit rewel biasanya bisa diatasi dengan menghentikan pemberian yoghurt dan berkonsultasi ke dokter anak untuk langkah selanjutnya. Namun, bila muncul tanda-tanda berat seperti sesak napas, bengkak yang menyebar cepat, atau Si Kecil terlihat lemas drastis, segera bawa ke IGD terdekat tanpa menunda, karena ini bisa jadi tanda reaksi alergi yang serius.

Dengan memahami usia yang tepat, jenis yoghurt yang aman, cara memperkenalkannya secara bertahap, dan tanda alergi yang perlu diwaspadai, Moms bisa lebih percaya diri menjadikan yoghurt sebagai bagian dari menu MPASI Si Kecil. Kalau masih ragu atau Si Kecil punya riwayat kesehatan tertentu, jangan ragu berkonsultasi dulu dengan dokter anak.(MB/RA/RF/Foto: Magnific)