Type Keyword(s) to Search
BUMP TO BIRTH

Sakit Tulang Ekor, Gangguan pada Ibu Usai Melahirkan

Sakit Tulang Ekor, Gangguan pada Ibu Usai Melahirkan

Melahirkan seorang bayi dengan lancar dan selamat jadi momen membahagiakan buat seorang wanita. Namun, persalinan lancar bukan berarti tidak ada kendala setelahnya. Salah satu keluhan umum yang sering dialami ibu baru adalah sakit tulang ekor. Bahkan gangguan ini mungkin saja sudah Anda rasakan sejak trimester akhir kehamilan.

Tulang ekor sendiri adalah tulang yang terletak di bagian bawah ruas tulang belakang. Apa fungsinya? Tulang ini bertugas untuk menyangga tulang-tulang di area sekitar panggul dan menjadi titik pertemuan dari beberapa otot kecil. Tanpa adanya tulang ini, kita tidak akan bisa duduk dengan nyaman.

Penyebab sakit tulang ekor usai melahirkan

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan Anda mengalami sakit atau cedera pada tulang ekor, misalnya jatuh dalam posisi duduk. Cedera ini bisa berupa memar, bergeser, atau retak yang bisa menimbulkan rasa sakit pada tulang ekor. Selain itu, terlalu lama duduk di permukaan yang keras juga bisa membuat seseorang berisiko mengalami sakit tulang ekor.

Pada ibu hamil, sakit tulang ekor umumnya dialami di trimester akhir kehamilan. Kondisi ini disebabkan oleh kombinasi beberapa hal, yaitu:

  • Pertambahan berat badan selama masa kehamilan
  • Pembesaran ukuran rahim saat hamil yang menekan struktur di sekitarnya
  • Efek hormon relaksin yang diproduksi selama hamil. Hormon ini mengakibatkan ligamen di sekitar tulang ekor merenggang sebagai cara untuk memberi jalan bayi keluar, tapi di sisi lain menyebabkan tulang ekor terasa sakit.

Baca juga: 10 Cara Mengembalikan Keseimbangan Hormon Setelah Melahirkan

Rasa sakit tulang ekor bisa menjalar ke sejumlah area tubuh lain, contohnya bokong, pinggul, dan kaki. Namun, rasa nyeri ini tidak perlu dicemaskan karena umumnya akan berangsur menghilang seiring waktu. Kendati demikian, pada beberapa ibu hamil, sakit tulang ekor mungkin saja akan bertahan hingga beberapa bulan setelah melahirkan.

Memang, pada beberapa kasus, proses melahirkan bisa mengakibatkan cedera pada tulang ekor. Tekanan saat bayi melewati jalan lahir dapat mengakibatkan tulang ekor memar, dislokasi tulang, atau bahkan patah tulang ekor. Namun, kasus tulang ekor yang patah karena melahirkan sangat jarang terjadi.

Di samping itu, sakit tulang ekor usai melahirkan pun bisa disebabkan oleh ukuran bayi yang terlalu besar atau bayi dalam posisi yang kurang ideal saat hendak dilahirkan. Jika bayi bergerak melalui jalan lahir dengan sangat cepat atau posisinya berada pada sudut yang kurang benar, hal ini bisa menyebabkan tulang ekor mengalami memar. Selain itu, sakit tulang ekor juga bisa dialami karena bumil memiliki panggul yang sempit atau bentuk yang tidak normal, sehingga rentan cedera saat persalinan.

Perawatan untuk penderita sakit tulang ekor

Lalu, bagaimana rasa sakit yang diakibatkan oleh cedera tulang ekor ini? Penderita akan merasa nyeri sekali jika area tulang ekor disentuh maupun dipegang. Rasa sakit ini akan bertambah parah jika ia duduk, ketika berdiri setelah duduk atau berdiri dalam waktu lama, ketika mengalami konstipasi, atau ketika jongkok maupun duduk untuk buang air kecil atau buang air besar.

Rasa sakit bisa dialami selama beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan. Untuk itu, Anda perlu tahu bagaimana caranya memperingan atau mengurangi rasa sakit tulang ekor yang diderita, yakni:

1. Beristirahat sebanyak mungkin dan hindari melakukan aktivitas berat.

2. Gunakan bantal khusus yang memiliki lubang atau lekukan di bawah tulang ekor untuk membantu Anda duduk dengan nyaman.

3. Kompres bagian yang nyeri beberapa kali dalam sehari untuk mengurangi rasa sakit dan pembengkakan.

4. Tidurlah dalam posisi miring agar Anda merasa lebih nyaman.

5. Konsumsi obat antiinflamasi atau antiradang (NSAID) seperti ibuprofen untuk mengurangi bengkak dan nyeri. Jika kondisinya parah, dokter mungkin akan memberikan obat dengan dosis yang lebih kuat.

6. Perbanyak minum air putih dan konsumsi makanan berserat untuk menghindari masalah konstipasi. (M&B/SW/Foto: Freepik)