Type Keyword(s) to Search
BABY

9 Tanda Bahaya pada Bayi Baru Lahir yang Wajib Diwaspadai

9 Tanda Bahaya pada Bayi Baru Lahir yang Wajib Diwaspadai

Menyambut kelahiran seorang bayi merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri buat pasangan yang sudah menikah. Moms dan Dads tentunya ingin merawat dan melindungi Si Kecil dari berbagai macam bahaya dan penyakit dengan sepenuh hati. Wajar saja, mengingat bayi baru lahir memang memiliki kondisi kesehatan yang masih rentan.

Ya, di awal masa kelahirannya, tubuh newborn rentan terserang penyakit. Tanda dan gejala sakit berat pada bayi baru lahir pun sering tidak spesifik dan sulit dikenali. Hal ini tentunya membuat kita sebagai orang tua harus lebih ekstra dalam memperhatikan kondisi Si Kecil.

Untuk itu, sangat penting buat Moms dan Dads mengetahui tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir agar Si Kecil bisa cepat mendapat pertolongan dan mencegah kondisinya menjadi lebih buruk yang bahkan bisa menyebabkan kematian. Berikut ini tanda-tanda bahaya tersebut, Moms.

1. Bayi tidak mau menyusu

ASI merupakan asupan dan sumber nutrisi utama buat bayi. Maka, Moms harus curiga jika bayi Anda tidak mau menyusu atau sering memuntahkan ASI. Jika bayi tidak mau menyusu, asupan nutrisinya akan berkurang dan tentunya Si Kecil akan mengalami kekurangan nutrisi. Biasanya, bayi tidak mau menyusu ketika sudah berada dalam kondisi lemah dan mungkin saja dalam kondisi dehidrasi berat. Segera bawa Si Kecil ke petugas medis terdekat untuk memperoleh pertolongan.

2. Bayi kejang

Kejang pada bayi memang kadang terjadi. Yang perlu Moms perhatikan adalah apa yang memicu terjadinya kejang pada Si Kecil. Jika kejang dipicu oleh demam, Moms bisa berikan obat penurun panas yang tentu saja dosisnya harus disesuaikan dengan anjuran dokter. Namun, jika penyebabnya bukan demam, maka Anda perlu mencurigai adanya masalah lain pada bayi. Perhatikan frekuensi dan lamanya kejang, lalu segera konsultasikan ini dengan dokter.

Baca juga: Cortical Dysplasia, Salah Satu Penyebab Umum Bayi Kejang

3. Bayi lemah

Jika bayi terlihat tidak aktif seperti biasanya, maka Moms perlu waspada. Jangan biarkan kondisi ini berlanjut. Kondisi lemah bisa dipicu dari diare, muntah berlebihan, ataupun infeksi berat. Segera cek kondisi kesehatannya, apalagi jika Si Kecil selalu mengantuk, bahkan tidak sadar dan hanya bergerak ketika disentuh.

4. Sesak napas

Frekuensi napas bayi pada umumnya lebih cepat daripada orang dewasa, yakni sekitar 40-60 kali per menit. Jika bayi bernapas kurang dari 40 kali per menit atau lebih dari 60 kali per menit maka Moms mesti waspada. Lihat dinding dadanya, ada tarikan atau tidak. Jika ditemukan masalah, lebih baik segera berkonsultasi dengan dokter.

5. Bayi merintih

Bayi belum bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan. Saat bayi merintih terus-menerus meski Moms sudah memberinya ASI, bisa jadi ada masalah yang terjadi dan membuatnya tidak nyaman. Segeralah konsultasikan ini dengan dokter.

6. Pusar kemerahan

Tali pusar yang berwarna kemerahan menunjukan adanya infeksi. Yang harus Moms perhatikan saat merawat tali pusat adalah jaga tali pusat bayi agar tetap kering dan bersih.

Baca juga: Begini Cara yang Benar untuk Membersihkan Pusar Anda

7. Demam

Suhu normal bayi berkisar 36,5-37,5 derajat Celsius. Saat Si Kecil mengalami demam, berikan ASI sesering mungkin untuk mencegahnya kekurangan cairan, pakaikan baju tipis agar panas cepat menguap, serta berikan kompres hangat di dahi dan ketiak. Jika suhunya lebih dari 38 derajat Celsius, segera bawa bayi ke dokter ya, Moms.

8. Mata bernanah

Nanah berlebihan pada mata bayi menunjukan adanya infeksi yang berasal dari proses persalinan. Bersihkan mata Si Kecil dengan kapas dan air hangat. Jangan lupa juga untuk konsultasikan hal ini pada dokter.

9. Kulit tampak kuning

Kuning pada bayi umumnya terjadi karena bayi kekurangan ASI. Namun, jika kuning pada bayi terjadi pada waktu kurang dari 24 jam setelah lahir atau lebih dari 14 hari setelah lahir, kuning menjalar hingga telapak tangan dan kakinya, maka Moms wajib konsultasikan hal ini ke dokter. Kondisi ini bisa menjadi gejala penyakit kuning. (M&B/SW/Foto: Freepik)