Type Keyword(s) to Search

8 Hal yang Perlu Moms Pahami Seputar Haid Usai Melahirkan

8 Hal yang Perlu Moms Pahami Seputar Haid Usai Melahirkan

Seiring dengan bertambahnya usia, siklus haid Anda akan terus berubah, apalagi setelah Anda melahirkan. Ada begitu banyak hal yang bisa memengaruhi perubahan ini, mulai dari kondisi tubuh usai melahirkan hingga hormon dan penuaan. Ya, perjalanan siklus menstruasi Anda dapat dipenuhi dengan misteri, Moms.

Namun Anda tak perlu khawatir berlebihan, karena setidaknya ada beberapa informasi yang bisa membantu Anda untuk melewatinya. Berikut ini adalah 8 hal soal haid setelah persalinan yang perlu Anda pahami, seperti dilansir dari Parents.

1. Haid akan kembali dengan sendirinya usai melahirkan

Cairan kemerahan yang keluar setelah melahirkan dan berlangsung selama 2-6 hari bukanlah haid. Hal ini disebut lochia, yakni kumpulan darah, jaringan, dan kotoran lain yang dikeluarkan tubuh usai melahirkan. Kembalinya haid akan tergantung pada proses menyusui Anda. Jika Si Kecil mengonsumsi susu formula, maka haid dapat Anda alami setelah 6 minggu. Jika Moms menyusui eksklusif, maka haid akan muncul setelah beberapa bulan, bahkan setahun. Jika Si Kecil bergantian mengonsumsi susu formula dan ASI, maka haid dapat muncul lebih cepat.

2. Tetap dapat hamil meski haid belum kembali

Ovulasi dapat terjadi setelah 25 hari sejak Anda bersalin jika Anda tidak menyusui Si Kecil. Namun, menyusui juga tak menjamin sebaliknya. Kontrasepsi tetaplah cara utama untuk menunda kehamilan. Tapi pil KB yang mengandung estrogen sebaiknya dihindari, karena bisa meningkatkan risiko penggumpalan darah dan mengurangi produksi ASI Anda.

3. Program KB dapat mengubah siklus haid

Masing-masing metode kontrasepsi dapat memengaruhi siklus haid Anda secara berbeda. Patch kontrasepsi, pil hormon, cincin KB, suntikan, atau IUD yang mengandung estrogen dan progestin dapat meringankan haid. Sedangkan pil, IUD, dan suntikan yang hanya mengandung progestin bisa menghentikan haid selama masa penggunaan kontrasepsi. IUD tembaga tanpa hormon dapat membuat menstruasi makin deras dan berdurasi lebih panjang.

4. Usia juga bisa memengaruhi

Seiring dengan bertambahnya usia, rahim akan membesar dan tubuh Anda memproduksi lebih sedikit estrogen. Rendahnya estrogen menyebabkan haid semakin ringan, tetapi membesarnya rahim bisa berujung pada perdarahan yang lebih deras. Selain itu, berat badan bisa bertambah seiring dengan berkurangnya estrogen, sehingga bisa membuat haid tidak rutin dan deras.

5. Stres dapat memengaruhi haid

Stres bisa membuat siklus haid tidak normal atau perdarahan yang lebih deras. Untuk itu, menjaga pola makan sehat seimbang, rutin berolahraga, dan tidur berkualitas dapat membantu mengurangi stres dan mendorong siklus haid Anda kembali normal.

6. Perimenopause dapat terjadi lebih dini

Menopause bisa terjadi cukup lama bagi Anda. Di AS, menopause biasa muncul di usia 51 tahun. Namun perimenopause, fase sebelum menopause, bisa terjadi sejak usia 30-an dan dapat berlangsung selama 6-10 tahun. Di fase ini kadar estrogen dapat berubah dan menyebabkan gejala yang bervariasi. “Masalah yang umum terjadi adalah perdarahan abnormal, masalah tidur, gangguan kecemasan, dan vagina yang mengering,” kata Stephanie Faubion, M.D., pimpinan medis The North American Menopause Society.

7. Meskipun perubahan termasuk normal, Anda tetap perlu periksa jika curiga

Perubahan tertentu pada siklus haid Anda dapat menjadi tanda serius. Jika haid terlalu deras hingga Anda perlu mengganti pembalut dalam kurun 1 jam, muncul bercak di antara siklus haid, dan telat haid lebih dari 3 bulan, segeralah konsultasikan ini dengan dokter. Andalah yang mengenal tubuh Anda sendiri, sehingga perubahan apa pun yang mencurigakan sangatlah penting.

8. Haid dapat memperburuk penyakit Anda

Jika Anda memiliki anemia, maka haid dapat memperburuk kesehatan Anda. Migrain juga dapat terasa semakin buruk akibat fluktuasi hormon selama menstruasi. Fibroid dapat membuat haid semakin deras dan lama. Meski membaik selama hamil, endometriosis dapat kembali menyiksa Anda ketika Anda mulai kembali haid. (M&B/Gabriela Agmassini/SW/Foto: Freepik)


Read Next

More Frombump to birth