Type Keyword(s) to Search

Mom of the Month: Marshanda

Mom of the Month: Marshanda

Tidak semua orang berani mengakui bahwa dirinya memiliki masalah mental health. Diperlukan nyali yang besar untuk meminta bantuan dan membuka diri kepada orang lain. Tetapi artis Andriani Marshanda (32) yang juga ibu dari seorang putri ini mampu melakukannya!

Marshanda ingin menjadi sosok yang lebih baik, bukan hanya bagi dirinya sendiri tapi juga untuk sang buah hati, Sienna Ameerah Kasyafani (8), serta orang-orang terpenting dalam hidupnya. Melalui proses panjang, ia belajar untuk menerima kondisi yang dialaminya. Perlahan tapi pasti, wanita yang akrab dipanggil Chacha ini bangkit untuk memulihkan luka di hatinya.

Yuk, simak perjuangan Marshanda yang menjadi Mom of the Month Januari 2022 ini untuk bisa mengatasi pergulatan hidupnya dan bagaimana proses tersebut membuatnya menjadi ibu terbaik bagi Sienna dalam wawancara eksklusif bersama Mother & Beyond berikut ini.

Sebagai seorang artis dan seorang ibu, Anda pernah melalui masa-masa sulit. Apa yang membuat Anda terlihat bahagia dan penuh energi seperti saat ini?

Memang diperlukan proses untuk bisa heal. Tapi sebenarnya dari dulu sejak masa-masa sulit itu terjadi, saya sudah tahu bahwa semuanya akan jadi lebih baik. Pada momen itu pun saya tahu bahwa hari-hari lebih cerah akan datang.

Namun tentunya, kita memang harus melewati segalanya terlebih dahulu, masa-masa kejatuhan kita atau saat orang-orang meragukan kita, orang-orang tidak percaya terhadap kita, dan tidak setuju. Akan tetapi bukan berarti sesuatu yang kita percayai itu salah! Hanya memang terkadang dibutuhkan waktu. Tidak perlu selalu memaksa orang untuk setuju dengan kita. I just be me. Mungkin istilahnya, just be you and world will adjust.

 

Kepada publik, Anda berani mengakui masalah mental health yang dialami. Boleh diceritakan bagaimana awalnya Anda menyadari punya masalah mental? Bagaimana menerima kondisi tersebut dan kapan memutuskan untuk menjalani pengobatan?

Jadi proses pertamanya, saya tahu saya punya sebuah masalah yang harus diperbaiki itu saat masih berusia 17 atau 18 tahun. Saya sempat ke psikolog dan konselor untuk melakukan proses healing, terapi, dan lain sebagainya. Lalu saat saya terdiagnosis mengalami beberapa disorder, bipolar disorder dan lain-lain, saya membutuhkan waktu 4 tahun untuk bisa menerima. Faktanya tidak mudah bagi kita untuk menerima kenyataan diagnosis tertentu. Berat banget. Saya seperti, “What? Enggak mungkin!” Saya enggak mau terima. Pokoknya denial, lah.

Setelah saya perlahan-lahan membuka hati, saya belajar apa sih bipolar itu? Apa sih psikologi diri itu? Dan bagaimana kita bisa melihat diri kita lebih dalam, mempelajari diri untuk healing, untuk bisa be OK terhadap masa lalu yang menyakitkan, dan segala macam? Akhirnya, saya bisa menerima bahwa saya memang punya masalah, saya punya luka, dan bagaimana bisa sembuh. Dan saya pikir, inilah momentum bagi saya untuk bisa berbagi karena di luar sana pasti banyak orang yang juga memiliki “luka”.

Sebelumnya, pernah enggak sih, punya rasa malu atau takut kalau kondisi ini diketahui publik?

Hmm… sebenarnya lebih ke kagok, ya. Kalau saya bilang ke teman-teman, kira-kira bagaimana ya, reaksinya? Sempat sih, ada momen seperti itu.

Namun saya berpikir, tujuan saya lebih besar dari apa pun ketakutan saya. Jadi saya ingin bisa menolong orang-orang yang tidak berani ngomong tentang kondisinya. Orang-orang yang struggling. Orang-orang yang malu untuk mengakui ke orang di sekitarnya karena mungkin takut pekerjaannya akan tidak dianggap atau malah mungkin dikeluarkan dari perusahaannya karena memiliki mental illness. Kan banyak sekali kondisi-kondisi yang tidak adil bagi orang yang memiliki mental illness seakan-akan mereka tak punya kapabilitas untuk bekerja, untuk menjadi orang tua, dan sebagainya.

Padahal jika seseorang punya masalah tapi tetap memiliki rasa tanggung jawab atau care pada diri sendiri, kita masih bisa berfungsi. Jadi itulah yang ingin saya sampaikan, kita masih bisa berfungsi, lho! Kita masih bisa menjadi seperti orang lain yang tidak memiliki masalah mental illness. 


Bagaimana reaksi teman-teman saat Anda memutuskan untuk terbuka ke publik?

Nah, yang lebih shock justru masyarakat yang enggak kenal. Sebaliknya, orang-orang yang dekat dengan saya justru jadi lebih terbuka. Yang tadinya saya tidak tahu cerita mereka, mereka justru jadi open up. Banyak banget yang cerita bahwa sesungguhnya mereka juga struggling. Cerita panjang lebar. Mungkin karena mereka merasa, “Wah kalau cerita sama elo kayanya safe deh.” Atau mereka merasa “Loe ngertiin apa yang gue alami.”

Apa harapan Anda saat memutuskan untuk membuka diri tentang kondisi yang dialami kepada publik?

Harapannya ya, bisa ikut healing orang-orang yang lost, tidak tahu caranya untuk survive atau untuk merasa tidak apa-apa walau punya luka, dan bagaimana agar mereka tetap bisa mengapresiasi diri sendiri walau terkadang kita hanya fokus pada kekurangan yang kita miliki. Jadi mereka tetap merasa, “Saya bisa hidup. Saya ini kuat, lho!” dan bagaimana untuk menghargai hal itu.


Apakah dukungan support system juga punya andil dalam proses Anda mengatasi masalah mental?

Pastinya besar sekali. Tapi saya juga sadar bahwa penting bagi saya untuk terbuka, berkomunikasi lebih banyak dengan setiap anggota keluarga saya tentang kondisi saya dan kekurangan saya. Selain itu, saya juga memberitahu mereka saat saya overwhelmed. Saya tidak bisa nih, menghadapi kondisi seperti ini.

Saya juga harus cerita kepada keluarga, saya nih, A, B, C, D, E, sampai Z. Saya memberitahu mereka apa yang membuat saya nyaman dan tidak nyaman, bagaimana memberi support, serta hal-hal yang mungkin membuat saya tidak dihargai.

Nah, kadang-kadang, kita sering beranggapan ke anggota keluarga kita, “Loe kan keluarga gue. Harusnya loe ngerti gue dong!” Dan ketika mereka memperlakukan kita salah, kita akan menganggap diri kita sebagai korban dan mereka jahat. Padahal kesalahannya justru terletak pada diri kita sendiri yang belum bercerita banyak tentang kondisi kita. Bercerita bahwa sebenarnya kita lagi struggling. Di sinilah saya sadar bahwa salah satu tanggung jawab saya adalah untuk membuat orang lain bersikap atau memperlakukan saya dengan benar. Jadi saya masih harus banyak memberitahu kalau saya tuh begini, begini, dan begini.


Sebagai seorang ibu, apakah masalah mental health yang Anda alami pernah memengaruhi hubungan Anda dengan Sienna?

Alhamdulillah, tidak pernah. Karena dari sebelum menikah, saya sudah banyak melalui proses healing dan sebagainya dari trauma masa kecil. Tujuan saya hanya satu, saya tidak ingin memutar hal itu kepada anak saya. Saya tahu, jika saya tidak healing segala luka di masa lalu, nanti jadinya akan terulang dan terlampiaskannya pada orang terdekat, entah pasangan atau anak.

Apakah pernah membicarakan masalah mental illness dengan Sienna?

Pernah dan Sienna juga pernah bertanya, “Ibu luka batinnya apa?” Dalam hati saya berpikir, banyak banget sih. Mana duluan yang akan saya ceritakan dan mana yang sesuai dengan usia Sienna? Tapi saya cerita kepadanya, saya dulu waktu sekolah pernah di-bully. Dan saat itu, saya tidak tahu bagaimana caranya untuk stand up for myself.

Makanya, saya senang banget sekarang Sienna banyak diajarkan bagaimana caranya saat menghadapi bullying. Karena sangat penting untuk tahu bagaimana cara agar orang lain tidak menindas kita. Faktanya, banyak orang yang tidak tahu bagaimana bersikap ketika ditindas atau dipermalukan. Ada yang hanya bisa diam dan tidak bisa stand up untuk diri mereka sendiri.


Boleh di-share bagaimana Anda menjalani pola hidup “sehat” saat ini tanpa harus tergantung pada obat-obatan yang membuat kurus?

Yang pastinya kombinasi antara pengaturan makanan, suplemen, dan tidur yang cukup. Setiap pagi, saya selalu mengonsumsi jus seledri tanpa gula, tanpa madu, atau lemon. Lalu saya juga minum suplemen herbal. Dan saat ini saya lagi mencoba membatasi konsumsi nasi putih. Sebagai gantinya, saya makan beras shirataki.

Tidur cukup juga sangat penting bagi saya. Pastinya banyak orang yang kurang tidur jadinya cranky. Apalagi bagi orang yang mengalami bipolar, menjaga waktu tidur sangat penting. Kalau olahraga, ada kalanya rajin banget. Tapi pastinya olahraga harus dilakukan.

Jika bisa mengubah satu hal di masa lalu, apakah ada yang ingin Anda ubah?

Tidak ada. Tapi sempat sih, ada penyesalan karena ketika saya bercerai dengan mantan suami. Ketika hak asuh Sienna jatuh ke tangan mantan suami, saya memutuskan untuk tidak naik banding atau keep fighting untuk bisa mendapatkan hak asuhnya. Dan saya sempat menyesal karena seharusnya saya harus tetap berjuang agar Sienna bisa hidup bersama saya. Hal itu cukup membuat saya menderita untuk waktu yang lama.

Namun saat ini saya melihat Sienna tumbuh semakin besar dengan saya yang hanya bertemu dengannya dua atau tiga kali dalam seminggu. Dan Sienna tidak melihat kedua orang tuanya berperang yang mungkin akan dia alami kalau dahulu saya tetap fight untuk memperebutkan hak asuh. Jadi saat ini, saya bersyukur telah mengambil keputusan yang tepat. 

Saat ini Sienna masih bisa bertemu dengan saya dan memiliki quality time. Kami memiliki bonding yang kuat. Pastinya, dia tidak mengalami trauma.

Sering kali hati seorang anak terluka bukan karena orang tuanya bercerai, melainkan karena melihat kedua orang tuanya saling menjatuhkan, atau saling marah, atau saling membenci, atau bahkan memengaruhi anaknya untuk membenci satu dengan yang lainnya. Hal itulah yang akan membuat hati anak terluka. Intinya bukan bagaimana orang tua berpisah atau masih bersama, melainkan bagaimana mereka saling respect antara yang satu dengan yang lain.


Sebutkan 3 hal yang menjadi prioritas dalam kehidupan Marshanda saat ini dan kenapa?

Pertama, kesehatan karena saya tidak bisa berpikir jernih jika tidak sehat. Saya tidak bisa melihat suatu masalah dengan bijak. Saya juga bisa menjadi orang yang tidak baik bagi orang-orang penting di kehidupan saya. Hal itulah yang akan terjadi jika saya tidak sehat secara fisik maupun mental. Saya ingin menjadi orang yang bermanfaat, menjadi orang yang sesungguhnya. Walk the talk. Tidak hanya ingin bisa memberikan motivasi bagi orang lain, tapi di kehidupan nyata saya tidak sebagus omongan saya.

Kedua adalah belajar. Untuk terus belajar dan tidak merasa cukup pintar. Jangan pernah ada momen saya merasa seperti itu.

Dan yang ketiga adalah terus berkarya. Berkarya tapi dengan jujur dan di bidang yang kreatif. Sebagai seniman, berkarya merupakan suatu kebutuhan. Bukan sekadar karena profesi, tapi saya juga butuh untuk berekspresi dalam bentuk art, entah dalam bentuk film atau musik.


Pesan bagi orang-orang juga mengalami masalah mental health?

Mulailah lebih banyak menghitung kebaikan dalam diri kita. Sering kali kita hanya fokus pada hal-hal buruk yang pernah kita lakukan atau kita rasakan. Dan ketika kita melakukan hal yang baik, kita tidak terlalu memikirkannya. Padahal sesungguhnya, jika kita juga fokus pada hal-hal baik dalam diri kita, maka hal itu juga akan menguatkan diri sendiri.

Bukan bermaksud sombong, tapi kenapa kita hanya bisa mengkritik diri sendiri tanpa menyebutkan hal-hal bagus dalam diri kita? Menurut saya, saat kita lebih bisa melihat hal-hal baik dalam diri kita, maka kita bisa lebih kuat untuk diri sendiri.

Satu lagi, jangan pernah merasa takut atau merasa lemah jika memang membutuhkan bantuan. Jika kita berani meminta bantuan dari orang yang tepat, sesungguhnya hal itu merupakan sebuah bentuk keberanian untuk bisa menjadi orang yang lebih baik. (M&B/Wieta Rachmatia/SW/Foto dan Digital Imaging: Saeffie Adjie Badas)


Read Next

More Fromfamily & lifestyle