Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Hampir semua orang tua pernah mengalami masa-masa begadang di awal tumbuh kembang bayi. Moms tentu juga pernah mengalaminya, ya? Tenang, Anda tidak sendirian, kok. Kabar baiknya, ada cara sleep training bayi untuk membantu Si Kecil belajar tidur mandiri dan nyenyak sepanjang malam.
Dengan cara yang tepat, sleep training pada bayi tidak hanya akan membuat Si Kecil tidur lebih nyenyak, tapi juga membantu Moms memiliki waktu istirahat yang berkualitas. Anda pun bisa tidur nyenyak tanpa harus bolak-balik menenangkan bayi yang terus terbangun.
Perlukah sleep training pada bayi?
Sleep training sering dianggap sebagai solusi untuk membantu bayi dan orang tua mendapatkan tidur malam yang lebih tenang. Banyak orang tua merasa kelelahan karena harus terus menenangkan Si Kecil yang sering terbangun di malam hari.
Menurut Sleep Foundation, sleep training bisa membantu bayi belajar tidur lebih mandiri dan meningkatkan kualitas tidur seluruh keluarga. Selain itu, penelitian yang dipublikasikan di PubMed menunjukkan bahwa intervensi perilaku tidur mampu mengurangi gangguan tidur pada bayi sekaligus menurunkan tingkat stres pada orang tua, bahkan membantu mencegah kelelahan dan kecemasan berlebih.
Beberapa studi juga menunjukkan bahwa sleep training memberikan dampak positif jangka pendek bayi menjadi lebih jarang terbangun, memiliki rutinitas tidur yang lebih konsisten, dan tidur lebih lama di malam hari.
Baca juga: Kenapa Bayi Menangis saat Tidur? Ini Penjelasannya, Moms
Beragam metode sleep training bayi
Berikut ini beberapa metode sleep training bayi dengan pendekatan yang berbeda-beda, mulai dari yang tegas hingga yang lembut dan minim tangisan.
1. Cry it out/extinction
Metode ini juga dikenal sebagai unmodified extinction. Inti dari metode ini adalah meletakkan bayi dalam tempat tidurnya saat mengantuk dan membiarkannya menangis sampai ia tertidur sendiri, tanpa intervensi orang tua.
Kelebihan:
- Sering kali menghasilkan hasil yang relatif cepat jika konsisten.
- Tidak banyak “perantara” atau penyesuaian yang diperlukan, langsung ke inti mengajari bayi tidur mandiri.
Kekurangan:
- Emosi orang tua bisa sangat “terluka” karena mendengar tangisan bayi tanpa bisa langsung merespons.
- Perlu konsistensi tinggi dan kesiapan mental dari orang tua.
Beberapa kritikus menyebut bahwa metode cry it out bisa memicu stres hormon, gangguan regulasi emosi, atau risiko ketidaknyamanan emosional jika tidak diterapkan secara hati-hati (meskipun bukti jangka panjang belum konsisten).
2. Ferber/graduated extinction
Metode ini merupakan versi “tertahan” dari cry it out: bayi dibiarkan menangis, tetapi orang tua secara terjadwal masuk ke kamar bayi untuk mengecek dan menenangkan (tanpa menggendong atau terlalu mengintervensi), lalu keluar lagi. Interval waktu antara kunjungan secara bertahap diperpanjang.
Kelebihan:
- Menjadi “jembatan” antara metode lembut dan metode langsung; memberikan kesempatan orang tua untuk memberi intervensi ringan, tetapi tetap mengizinkan bayi belajar menyendiri.
Kekurangan:
- Bayi dan orang tua mungkin mengalami beberapa malam transisi yang berat.
- Harus sangat konsisten dalam menerapkan interval dan pola.
- Tidak semua bayi atau orang tua nyaman dengan menunggu agak lama sambil mendengar tangisan bayi.
3. No-cry/gentle/no tears method
Pendekatan ini lebih lembut dan bertahap: bayi dibantu tidur dengan cara yang minim tangisan, dengan intervensi orang tua yang responsif, contohnya menenangkan bayi sebelum dibaringkan atau mendampingi bayi sampai tertidur, lalu sedikit demi sedikit mengurangi keterlibatan orang tua.
Kelebihan:
- Emosionalnya lebih “ramah” untuk Moms karena meminimalkan tangisan yang berkepanjangan.
- Cocok untuk keluarga yang tidak nyaman membiarkan bayi menangis sendiri terlalu lama.
Kekurangan:
- Prosesnya bisa lebih lama dibandingkan metode yang ekstrem. Banyak review menyebut bahwa metode lembut biasanya butuh konsistensi tinggi dan waktu lebih lama.
- Hasilnya bisa bervariasi tergantung kepada temperamen bayi dan seberapa konsisten orang tua.
4. Pick-up/put down method
Metode ini populer, terutama pada bayi yang lebih muda. Jika bayi menangis, orang tua mengambilnya (pick-up) untuk menenangkannya, lalu setelah bayi lebih tenang, meletakkannya kembali (put-down), dan mengulangi jika bayi kembali menangis.
Kelebihan:
- Memberi kepastian pada bayi bahwa Moms responsif terhadap kebutuhan Si Kecil.
- Bisa menjadi transisi yang lebih lembut sebelum mengurangi intervensi secara bertahap.
Kekurangan:
- Bisa memakan waktu lama jika bayi sering menangis berulang kali.
- Membutuhkan kesabaran dan konsistensi tinggi dari orang tua.
5. Chair/fading/the camping out method
Dalam metode ini, orang tua berada di kamar bayi, tetapi makin menjauh atau mengurangi intervensi sedikit demi sedikit seiring waktu. Misalnya, awalnya duduk dekat ranjang bayi, lalu tiap malam berpindah sedikit ke pintu, hingga akhirnya keluar dari kamar. Pendekatan ini sering disebut fading atau camping out.
Kelebihan:
- Transisi dilakukan secara bertahap. Bayi tidak merasa ditinggal secara tiba-tiba.
- Memberikan rasa aman karena keberadaan fisik orang tua tetap terasa meski tidak aktif intervensi.
Kekurangan:
- Prosesnya bisa panjang hingga beberapa minggu.
- Jika orang tua tidak konsisten (misalnya mundur terlalu cepat atau kembali sering hadir), ini bisa membuat bayi bingung.
6. Bedtime fading/delayed bedtime
Metode ini melibatkan menggeser waktu tidur bayi sedikit demi sedikit agar tidur malam lebih “masuk” ke jam biologisnya, kemudian secara perlahan menyesuaikan agar bayi tidur lebih awal tanpa intervensi yang terlalu drastis. Strategi ini bisa membantu bayi lebih mudah tertidur.
Kelebihan:
- Lebih halus, tidak memaksa bayi segera tidur secara mandiri.
- Bisa membantu bayi cukup lelah agar lebih mudah tidur.
Kekurangan:
- Jika tidak dikontrol dengan baik, bisa membuat jadwal tidur bayi menjadi terlalu malam.
- Membutuhkan pemantauan dan penyesuaian yang terus-menerus.
Baca juga: Menurut Mitos Jawa, Bayi Tidak Boleh Tidur di Tengah, Benarkah?
Cara sleep training bayi
Agar Moms bisa menikmati malam yang lebih tenang dan Si Kecil mendapatkan kualitas tidur yang optimal, berikut ini cara yang bisa diterapkan.
1. Tentukan waktu yang tepat
Sebagian besar ahli menyarankan memulai sleep training ketika bayi sudah cukup usia, biasanya sekitar 4-6 bulan, saat Si Kecil mulai bisa belajar tidur lebih lama dan tidak selalu membutuhkan menyusu di malam hari.
2. Buat rutinitas malam yang konsisten
Mulailah dengan kegiatan menenangkan seperti mandi hangat, membaca cerita, atau menyanyikan Nina Bobo. Hal ini bisa menjadi sinyal ke bayi bahwa sudah waktunya tidur. Rutinitas yang konsisten membantu mengatur jam biologis bayi.
3. Taruh bayi saat mengantuk tetapi belum tertidur sepenuhnya
Letakkan bayi di tempat tidurnya dalam keadaan mengantuk tetapi belum tidur sepenuhnya. Ini membantu bayi belajar tidur mandiri tanpa dibuai atau digendong sampai tertidur.
4. Konsistensi
Apa pun metode yang dipilih, keberhasilan tergantung sejauh mana Moms bisa konsisten. Perubahan kecil atau sering menyerah bisa membuat bayi bingung dan memperlambat proses.
5. Pantau respons bayi dan adaptasi jika perlu
Perhatikan bagaimana bayi merespons: apakah Si Kecil jadi terlalu stres, selalu menangis keras, tidak mau makan, atau menunjukkan tanda-tanda tidak nyaman. Bila metode tidak cocok, Moms bisa menyesuaikan pendekatan.
Itulah cara sleep training bayi. Sleep training memang butuh kesabaran dan konsistensi, tetapi bayi bisa tidur lebih nyenyak, dan Moms bisa beristirahat dengan tenang. Ingat, tak ada satu metode yang cocok untuk semua, jadi pilihlah cara yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan Anda dan Si Kecil. (MB/YE/SW/Foto: Freepik)
