Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Menangani bayi yang sering terbangun dan menangis tengah malam bisa menjadi tantangan besar di masa awal pengasuhan bagi orang tua baru. Banyak orang tua merasa cemas, lelah, dan akhirnya mencari jawaban dari berbagai sumber, mulai dari nasihat keluarga hingga kepercayaan turun-temurun, mengenai mitos bayi menangis tengah malam.
Di sisi lain, mitos bayi menangis tengah malam sering kali membuat orang tua makin bingung, bahkan khawatir tanpa alasan medis yang jelas. Padahal, dalam dunia medis, menangis adalah salah satu bentuk komunikasi utama bayi. Terutama di malam hari, bayi menggunakan tangisan untuk menyampaikan rasa tidak nyaman, lapar, takut, bosan, atau sekadar ingin ditenangkan.
Penyebab bayi menangis tengah malam
Sebelum membahas mitos bayi menangis tengah malam, Moms perlu memahami alasan ilmiah mengapa bayi kerap terbangun di malam hari.
Para ahli menjelaskan bahwa pola tidur bayi masih berkembang dan sistem pengatur siklus tidur (circadian rhythm) belum matang hingga usia tertentu. Kondisi ini membuat bayi bisa terbangun beberapa kali di malam hari, karena tubuhnya belum mampu mempertahankan fase tidur panjang seperti orang dewasa.
Beberapa penyebab bayi menangis tengah malam yang paling umum antara lain:
1. Lapar atau butuh menyusu
Bayi, terutama yang berusia di bawah 6 bulan, masih membutuhkan asupan berkala karena kapasitas lambungnya kecil dan belum mampu menyimpan energi untuk waktu yang lama. American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa bayi yang disusui bisa terbangun setiap 2-3 jam untuk menyusu, terutama di malam hari. Ketika perut kosong, tangisan menjadi bentuk komunikasi utama untuk meminta makanan. Ini adalah pola yang normal dalam tumbuh kembang bayi dan bukan tanda adanya masalah.
2. Popok basah atau tidak nyaman
Popok yang penuh, lembap, atau menyebabkan iritasi bisa membuat bayi tidur gelisah dan menangis di tengah malam. Bayi belum bisa mengabaikan ketidaknyamanan seperti orang dewasa. Karena itu, Moms disarankan untuk rutin memeriksa popok bayi di malam hari, terutama pada bayi baru lahir yang masih sering buang air.
3. Growth spurt atau lonjakan perkembangan
Pada fase growth spurt, misalnya sekitar usia 6 minggu, 3 bulan, dan 6 bulan, bayi mengalami peningkatan kebutuhan nutrisi dan perubahan pola tidur. Moms mungkin melihat bayi lebih rewel, lebih sering minta menyusu, dan sulit tidur nyenyak. Masa percepatan pertumbuhan ini membuat bayi membutuhkan lebih banyak energi untuk perkembangan otak, tulang, dan sarafnya. Tangisan di malam hari dalam fase ini tergolong wajar.
4. Gas dalam perut atau kolik
Kolik adalah kondisi yang umum terjadi pada 20-25% bayi. Kolik biasanya terjadi pada rentang usia 2 minggu hingga 3-4 bulan. Bayi yang mengalami penumpukan gas di saluran cerna akan menjadi lebih sensitif dan gelisah, terutama di malam hari ketika tubuh lelah. Tangisannya cenderung kuat, sulit ditenangkan, dan bisa berlangsung berjam-jam. Penyebab kolik belum sepenuhnya dipahami, tetapi faktor saluran cerna yang belum optimal, alergi ringan, atau paparan udara saat menyusu sering dikaitkan dengan kondisi ini.
5. Refluks atau ketidaknyamanan pencernaan
Refluks (gastroesophageal reflux) ringan umum terjadi pada bayi karena katup antara lambung dan kerongkongan belum berkembang sempurna. Kondisi ini menyebabkan sebagian bayi gumoh atau merasa tidak nyaman setelah menyusu, terutama saat berbaring. Di malam hari, kondisi ini dapat memicu tangisan mendadak. Meskipun biasanya membaik seiring bertambahnya usia, bayi yang mengalami refluks perlu ditenangkan, misalnya digendong tegak beberapa saat setelah menyusu.
6. Sedang tumbuh gigi (teething)
Proses tumbuh gigi bisa menimbulkan rasa tidak nyaman pada gusi bayi. Tekanan gusi yang meradang biasanya terasa lebih sakit di malam hari karena bayi tidak terdistribusi dengan aktivitas lain. Teething merupakan salah satu penyebab umum bayi sering terbangun di malam hari sambil menangis, terutama pada usia 6-12 bulan. Bayi mungkin memasukkan tangan ke mulut, tampak gelisah, atau menolak tidur karena gigi dan gusinya terasa berdenyut.
7. Butuh kehadiran orang tua
Selain faktor fisik, ada juga kebutuhan emosional yang memengaruhi tidur bayi. Bayi memiliki attachment system yang membuatnya merasa aman saat dekat dengan orang tuanya. Riset menunjukkan bahwa sentuhan, suara lembut, dan kehadiran orang tua membantu menurunkan hormon stres bayi dan menstabilkan detak jantung serta napasnya. Inilah alasan bayi menangis saat terbangun dan berhenti ketika digendong, diusap, atau dibelai. Ini bukan berarti Si Kecil manja, tetapi kebutuhan dasar untuk merasa aman.
Baca juga: Kenapa Bayi Menangis saat Tidur? Ini Penjelasannya, Moms
Cara menenangkan bayi menangis tengah malam
Berikut ini cara menenangkan bayi menangis tengah malam yang direkomendasikan oleh banyak tenaga kesehatan, termasuk American Academy of Pediatrics (AAP).
- Tenangkan dengan kontak fisik. Gendong bayi, lakukan skin to skin, atau ayun perlahan.
- Ciptakan suasana tidur yang nyaman. Kamar sebaiknya gelap, suhu ideal 20-22 derajat Celsius, dan hindari suara berisik.
- Pastikan bayi sudah kenyang sebelum tidur. Bedtime feeding bisa membantu bayi tidur lebih lama.
- Bedong atau gunakan white noise. Kedua metode ini terbukti membantu bayi merasa aman, seperti lingkungan di dalam rahim.
- Pijat lembut area perut atau punggung. Teknik pijatan lembut dipercaya efektif untuk bayi yang menangis karena kembung atau tegang.
- Periksa popok bayi. Moms perlu pastikan popok bayi kering, bersih, dan tidak memicu iritasi.
- Terapkan rutinitas tidur. Rutinitas seperti mandi hangat, pijat, lalu menyusu membantu bayi mengenali jadwal tidur.
Baca juga: Bayi Sering Menangis di Sore Hari? Ini Penyebab dan Cara Menenangkannya
Mitos bayi menangis tengah malam
Sering kali, kelelahan membuat orang tua lebih mudah memercayai cerita atau omongan sekitar, apalagi jika menyangkut kesehatan Si Kecil. Namun, penting bagi Moms untuk memilah mana yang benar dan mana yang sekadar mitos belaka. Berikut ini mitos bayi menangis tengah malam yang perlu diwaspadai beserta fakta medis di baliknya.
Mitos 1: Bayi menangis tengah malam karena diganggu makhluk halus.
Fakta: Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung anggapan ini. Bayi menangis tengah malam karena faktor biologis, perkembangan otak, rasa tidak nyaman, atau kebutuhan emosional.
Mitos 2: Bayi yang sering digendong saat menangis akan menjadi manja.
Fakta: Justru sebaliknya. Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang respons tangisnya dipenuhi dengan cepat akan tumbuh dengan secure attachment dan punya regulasi emosi yang lebih baik. Menenangkan bayi bukan memanjakan, ini adalah bentuk rasa aman yang dibutuhkan bayi pada masa golden age.
Mitos 3: Menangis malam hari membuat paru-paru bayi lebih kuat sehingga tidak apa-apa untuk dibiarkan.
Fakta: Faktanya, membiarkan bayi menangis terlalu lama dapat meningkatkan hormon stres kortisol. Jika berulang, hal ini bisa memengaruhi rasa aman, tidur, dan perkembangan emosinya. Bayi belum bisa menenangkan diri tanpa bantuan orang dewasa, sehingga tetap perlu ditenangkan.
Mitos 4: Bayi menangis malam hari karena “bau tangan ibu” dan harus dikurangi agar mandiri.
Fakta: Bayi membutuhkan kelekatan, sentuhan, dan kenyamanan untuk membangun rasa aman. Bukan “bau tangan” yang membuat bayi menangis, melainkan kebutuhan dasar untuk merasa dilindungi. Kepekaan orang tua dalam merespons justru membantu perkembangan psikologisnya.
Mitos 5: Bayi menangis malam hari karena “ketempelan” atau ada energi negatif di rumah.
Fakta: Penyebab medis dan tumbuh kembang jauh lebih masuk akal, seperti lapar, kembung, popok basah, teething, refluks, growth spurt, atau siklus tidur yang belum matang. Food insecurity, overstimulation, hingga ruangan yang terlalu terang atau bising juga sering menjadi pemicu.
Kesimpulannya, mitos bayi menangis tengah malam sering membuat orang tua cemas, padahal sebagian besar tangisan malam hari memiliki penyebab ilmiah yang bisa dijelaskan.
Dengan memahami penyebab bayi menangis tengah malam dan menyaring berbagai mitos bayi menangis tengah malam, Moms bisa menjadi lebih percaya diri dalam merespons tangisan Si Kecil.
Satu hal yang paling penting, selalu amati pola keseharian bayi Anda. Bila tangisan terasa berlebihan atau disertai gejala lain yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan dengan dokter anak ya, Moms. (MB/AY/SW/Foto: Pvproductions/Freepik)
