Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Momen ketika anak tidak mau atau menjauh dari ibunya sendiri bisa terasa begitu menyakitkan. Perasaan bingung, sedih, dan bahkan bersalah mungkin langsung menyelimuti hati. Moms, jika Anda sedang mengalaminya, ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian. Banyak ibu di luar sana yang pernah atau sedang menghadapi situasi serupa.
Perilaku anak yang seolah tidak mau dengan ibunya ini sering kali bukanlah cerminan dari kurangnya cinta sang ibu. Sebaliknya, ini bisa menjadi sinyal adanya kebutuhan atau perasaan yang belum tersampaikan. Berikut ini penjelasan mengenai penyebab anak tidak mau dengan
Penyebab anak tidak mau dengan ibunya
Setiap anak dan setiap keluarga itu unik. Alasan di balik penolakan seorang anak bisa sangat beragam, mulai dari fase perkembangan yang normal hingga masalah yang lebih dalam. Ini beberapa penyebab umumnya.
1. Fase perkembangan anak
Pada usia tertentu, terutama saat balita, anak mulai menyadari bahwa ia adalah individu yang terpisah dari ibunya. Si Kecil mulai mengembangkan kemandirian dan keinginan untuk membuat pilihan sendiri. Penolakan seperti “Tidak mau sama Mama” bisa jadi merupakan caranya untuk menunjukkan kemandirian tersebut. Ini adalah bagian yang sehat dari proses tumbuh kembang anak, Moms.
Baca juga: 7 Perubahan Psikis yang Dialami Anak Remaja di Masa Pubertas
2. Terlalu banyak menghabiskan waktu bersama
Kedekatan yang konstan terkadang bisa membuat anak merasa jenuh. Sama seperti orang dewasa yang butuh me time, anak juga bisa merasakan hal yang sama. Jika Moms menghabiskan waktu 24/7 dengan anak, Si Kecil mungkin hanya ingin merasakan suasana baru dengan orang lain, misalnya ayahnya, neneknya, atau kakaknya.
3. Merasa kurang nyaman secara fisik
Terkadang, alasannya bisa sangat sederhana. Mungkin aroma parfum Anda terlalu kuat baginya, atau ia merasa tidak nyaman dengan cara Anda menggendongnya pada saat itu. Anak-anak, terutama yang masih kecil, sangat peka terhadap rangsangan fisik dan belum bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.
4. Perubahan besar dalam keluarga
Kelahiran adik baru, pindah rumah, atau ibu yang kembali bekerja setelah cuti melahirkan adalah perubahan besar yang bisa memengaruhi emosi anak. Si Kecil mungkin merasa cemburu atau cemas karena perhatian ibu terbagi. Penolakan bisa menjadi caranya untuk mengekspresikan perasaan kehilangan atau ketidaknyamanan akibat perubahan tersebut.
Baca juga: Begini Cara Membantu Anak Mengatasi Perubahan Rumah Tangga
5. Moms terlalu sering melarang
Sebagai orang tua, wajar jika Moms sering mengatakan “Tidak” demi keselamatan anak. Namun, jika larangan dirasa terlalu banyak dan tanpa penjelasan yang memadai, anak bisa merasa terkekang. Ia mungkin akan mencari figur lain (seperti ayah atau nenek) yang dianggap lebih memperbolehkan banyak hal, sehingga ia menolak saat bersama ibunya.
6. Adanya pengalaman negatif
Anak mungkin pernah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan saat bersama ibunya, misalnya dimarahi dengan suara keras atau dipaksa melakukan sesuatu yang tidak ia sukai. Meskipun mungkin tampak sepele bagi orang dewasa, pengalaman ini bisa membekas di benak anak dan membuatnya merasa waspada atau enggan berdekatan untuk sementara waktu.
Dampak jangka panjang anak tidak dekat dengan ibu
Meskipun beberapa penyebab di atas bersifat sementara, kerenggangan hubungan antara ibu dan anak yang dibiarkan berlarut-larut dapat membawa dampak jangka panjang. Ikatan emosional yang kuat dengan figur ibu merupakan fondasi penting bagi perkembangan anak. Beberapa dampak yang mungkin timbul antara lain:
1. Masalah kepercayaan: Anak mungkin kesulitan untuk membangun rasa percaya pada orang lain di kemudian hari.
2. Kesulitan mengatur emosi: Ibu adalah “pelabuhan” pertama bagi anak untuk belajar tentang emosi. Tanpa kedekatan ini, anak mungkin kesulitan mengenali dan mengelola perasaannya.
3. Rasa tidak aman: Ikatan yang aman dengan ibu memberikan rasa percaya diri pada anak untuk menjelajahi dunia. Kurangnya kedekatan bisa membuat anak merasa cemas dan tidak aman.
4. Tantangan dalam hubungan sosial: Fondasi hubungan yang sehat dibangun di rumah. Anak yang tidak memiliki ikatan kuat dengan ibunya bisa jadi akan menghadapi tantangan saat menjalin pertemanan.
Bagaimana cara agar anak lebih dekat dengan ibunya?
1. Luangkan waktu berkualitas (quality time)
Sisihkan waktu khusus setiap hari, meski hanya 15-30 menit, untuk berinteraksi dengan anak tanpa gangguan gawai atau pekerjaan lain. Biarkan anak memilih aktivitas yang ia sukai, entah itu bermain balok, membaca buku, atau sekadar bercerita.
2. Validasi perasaan anak
Saat anak menolak Anda, cobalah untuk tidak langsung bereaksi negatif. Ambil napas, lalu coba validasi perasaannya. Anda bisa berkata, “Oh, Adik maunya sama Papa, ya? Boleh. Nanti kalau sudah selesai main sama Papa, kita gambar bareng, ya.” Ini menunjukkan bahwa Anda mengerti dan menghargai perasaannya.
3. Berikan banyak sentuhan fisik yang hangat
Pelukan, usapan lembut di kepala, atau sekadar genggaman tangan dapat memperkuat ikatan emosional. Lakukan sentuhan ini secara alami sepanjang hari, bukan hanya saat anak memintanya. Ini akan membantunya merasa aman dan dicintai.
4. Libatkan diri dalam rutinitas menyenangkan
Jadikan diri Anda sebagai sosok yang menyenangkan buat anak. Mungkin Anda bisa menjadi “teman mandi” yang seru dengan mainan busa, atau menjadi “pembaca dongeng” dengan suara-suara lucu sebelum tidur. Ketika anak mengasosiasikan Anda dengan kegiatan yang menyenangkan, ia akan lebih sering mencari Anda.
5. Jangan terbawa perasaan
Ingatlah bahwa perilaku anak sering kali bukan serangan pribadi terhadap Anda. Ini adalah bagian dari perjalanan Si Kecil dalam memahami dunia dan emosinya sendiri. Tetaplah tenang dan konsisten dalam menunjukkan cinta Anda, bahkan saat Anda merasa ditolak, Moms.
Itulah penjelasan mengenai penyebab anak tidak mau dengan ibunya dan cara mengatasinya. Menghadapi penolakan dari buah hati memang tidak mudah. Namun, dengan kesabaran, pemahaman, dan pendekatan yang tepat, Anda bisa melewati fase ini dan justru keluar dengan ikatan yang lebih kuat dari sebelumnya. Anggaplah ini sebagai kesempatan untuk lebih memahami Si Kecil dan apa yang sebenarnya ia butuhkan dari Anda, Moms. (MB/AY/SW/Foto: Freepik)
