Type Keyword(s) to Search
FAMILY & LIFESTYLE

Penyebab Tiba-Tiba Keluar Darah saat Berhubungan Tapi Tidak Sakit

Penyebab Tiba-Tiba Keluar Darah saat Berhubungan Tapi Tidak Sakit

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Ada momen ketika Moms merasa semuanya berjalan baik-baik saja saat berhubungan intim, tapi kemudian menemukan bercak darah di seprai. Panik? Wajar. Namun, jika tiba-tiba keluar darah saat berhubungan tapi tidak sakit, maka kebingungan itu makin besar. Banyak Moms bertanya-tanya, Ini normal atau tanda bahaya? Tenang, fenomena ini lebih umum daripada yang dibayangkan, dan sebagian besar penyebabnya tidak berbahaya. Yang penting adalah mengenali polanya, mencari tahu pemicunya, dan memahami kapan harus memeriksakan diri.

Dalam dunia kesehatan reproduksi, keluarnya darah setelah hubungan intim tanpa rasa sakit dikenal sebagai postcoital bleeding. Meski terdengar menegangkan, kondisi ini bisa disebabkan oleh faktor-faktor ringan yang kerap tidak disadari, terutama bila Moms sedang mengalami perubahan hormonal, stres, atau aktivitas seksual yang lebih intens dari biasanya.

Baca juga: 7 Penyebab Vagina Berdarah Usai Berhubungan Intim

Tiba-tiba keluar darah saat berhubungan tapi tidak sakit

Perdarahan setelah hubungan intim dapat berasal dari berbagai kondisi yang sebagian besar bersifat jinak. Menurut Mayo Clinic, itu termasuk perubahan hormonal, servisitis, hingga polip. Simak penjelasannya berikut ini: 

1. Perubahan hormon

Fluktuasi hormon (terutama estrogen) dapat memengaruhi kelembapan dan elastisitas jaringan vagina. Pada masa menyusui, menjelang menstruasi, atau ketika Moms menggunakan metode kontrasepsi tertentu, dinding vagina bisa menjadi lebih tipis dan mudah iritasi. Akibatnya, gesekan ringan saja dapat memunculkan bercak darah tanpa menimbulkan rasa sakit. Bagi banyak perempuan, kondisi ini bersifat sementara dan biasanya hilang setelah siklus hormon kembali stabil.

2. Ectropion

Ini adalah erosi serviks, suatu kondisi ketika sel-sel di dalam leher rahim “mengarah keluar” dan lebih mudah berdarah saat terkena gesekan. Meski namanya terdengar menakutkan, kondisi ini bukan luka dan sangat umum terjadi pada perempuan usia reproduksi, terutama yang sedang hamil atau menggunakan pil KB. Karena area serviks menjadi lebih sensitif, bercak darah setelah berhubungan bisa muncul tanpa disertai rasa nyeri.

3. Polip serviks atau rahim

Polip adalah pertumbuhan jaringan kecil yang sering kali jinak. Polip serviks mudah berdarah saat tersentuh, termasuk saat berhubungan. Karena ukurannya kecil dan tidak menimbulkan rasa sakit, Moms biasanya tidak menyadarinya sampai keluar bercak darah. Dokter kandungan bisa melakukan pemeriksaan sederhana untuk memastikan apakah polip menjadi penyebabnya.

Baca juga: Rasa Nyeri saat Berhubungan Intim, Waspada Dispareunia!

4. Infeksi ringan

Beberapa infeksi seperti vaginitis atau servisitis (peradangan serviks) kadang tidak menimbulkan gejala nyeri, tetapi tetap dapat memicu perdarahan setelah berhubungan. Gejala lain yang mungkin menyertai adalah keputihan berubah warna atau bau. Pemeriksaan laboratorium biasanya membantu memastikan diagnosis dan menentukan pengobatan yang tepat.

5. Friksi

Kadang penyebabnya sesederhana kurangnya pelumasan. Ketika tubuh tidak cukup terangsang atau sedang stres, produksi pelumas alami bisa menurun. Gesekan yang lebih keras dari biasanya dapat menimbulkan iritasi ringan pada dinding vagina, dan inilah yang memicu keluarnya darah meski Moms tidak merasa sakit. Menggunakan pelumas berbasis air sering kali membantu mencegah kondisi ini berulang.

Gejala vagina berdarah setelah berhubungan seksual

Selain munculnya bercak atau tetesan darah, kondisi ini kadang disertai perubahan halus yang sering luput disadari. Beberapa wanita mungkin melihat darah hanya saat mengelap, adanya flek kecokelatan beberapa jam setelah berhubungan, atau keluarnya lendir bercampur sedikit darah. Walau umumnya tidak menimbulkan nyeri, sebagian wanita bisa merasakan sensasi hangat atau sedikit perih yang cepat hilang. Jika bercaknya makin sering muncul atau warnanya makin pekat, Anda disarankan memperhatikan pola ini dan berkonsultasi lebih lanjut.

Baca juga: Hati-Hati, Ini Bahayanya Jika Terlalu Sering Berhubungan Intim

Apa yang harus dilakukan jika berdarah saat berhubungan atau setelahnya?

Langkah pertama adalah tetap tenang dan amati jumlah darah yang keluar. Jika hanya berupa bercak ringan, Moms bisa membersihkan area vagina dengan air hangat dan memastikan tidak ada iritasi tambahan. Istirahatkan aktivitas seksual selama satu hingga dua hari untuk memberi waktu jaringan vagina pulih.

Perhatikan apakah ada faktor pemicu seperti kurangnya pelumasan atau posisi terlalu dalam saat berhubungan, karena menurut Mayo Clinic, friksi saat kegiatan seksual yang kurang lubrikasi atau kurang foreplay bisa menyebabkan tiba-tiba keluar darah. Bila Moms menggunakan pelumas, pastikan Anda memilih jenis yang aman dan tidak mengiritasi, seperti pelumas berbasis air.

Jika perdarahan terus berulang, keluar lebih banyak dari biasanya, atau disertai gejala lain seperti bau tidak sedap, keputihan berubah warna, demam, atau nyeri perut bawah, segera lakukan pemeriksaan ke dokter kandungan.

Itulah penjelasan mengenai tiba-tiba keluar darah saat berhubungan tapi tidak sakit. Pemeriksaan sederhana seperti pap smear, USG, atau tes infeksi bisa membantu menemukan penyebabnya lebih cepat. Tindakan cepat akan memudahkan penanganan dan mencegah kondisi makin mengganggu kenyamanan Moms. (MB/AY/TW/Foto: Karola G/Pexels)