Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Tak sedikit mitos soal seks yang beredar di masyarakat. Salah satunya adalah soal sperma. Apakah menelan sperma bisa hamil? Yuk, simak jawabannya dalam artikel berikut ini!
Ada banyak cara untuk melakukan hubungan seks, salah satunya dengan seks oral. Saat melakukan seks oral, tak jarang sperma ikut tertelan. Namun, sesungguhnya hal ini tidak langsung bisa menyebabkan wanita hamil.
Menelan sperma bisa hamil?
Jawabannya adalah tidak. Menelan sperma tidak bisa menyebabkan kehamilan.
Aktivitas menelan sperma, yang biasanya terjadi saat melakukan seks oral kepada pria (fellatio), sama sekali tidak memiliki jalur biologis yang memungkinkan terjadinya pertemuan antara sel sperma dan sel telur. Kehamilan adalah proses kompleks yang membutuhkan kondisi spesifik agar bisa terjadi, dan sistem pencernaan manusia tidak terhubung dengan sistem reproduksi dengan cara yang memungkinkan pembuahan.
Baca juga: Apa yang Dirasakan Wanita Setelah Sperma Masuk ke Rahim?
Penjelasan biologis soal menelan sperma
Untuk memahami mengapa hal ini tidak mungkin terjadi, Anda perlu melihat bagaimana tubuh kita bekerja. Tubuh manusia memiliki sistem yang sangat terorganisir dengan fungsi yang berbeda-beda.
1. Sistem pencernaan vs sistem reproduksi
Ketika Anda menelan sesuatu, baik itu makanan, minuman, atau cairan tubuh lainnya, benda tersebut masuk ke saluran pencernaan. Perjalannya dimulai dari mulut, turun ke kerongkongan, dan berakhir di lambung.
Di sisi lain, kehamilan terjadi di dalam sistem reproduksi wanita. Agar pembuahan terjadi, sperma harus masuk melalui vagina, berenang melewati leher rahim (serviks), menuju rahim, dan akhirnya bertemu sel telur di saluran tuba (tuba falopi).
Antara lambung dan rahim tidak ada "pintu penghubung". Jadi, sperma yang masuk ke lambung akan terperangkap di sana dan diproses sebagai materi organik biasa.
2. Peran asam lambung
Sperma adalah sel yang cukup rapuh. Agar bisa bertahan hidup dan membuahi sel telur, ia membutuhkan lingkungan dengan suhu dan tingkat keasaman (pH) tertentu. Vagina dan rahim memiliki lingkungan yang mendukung (terutama saat masa subur), tetapi lambung adalah cerita yang sangat berbeda.
Lambung manusia dipenuhi dengan asam yang kuat, yang tugas utamanya adalah mencerna makanan dan membunuh bakteri. Ketika sperma masuk ke lingkungan asam ini, maka sperma akan mati dan terurai dalam waktu yang sangat singkat. Tubuh kemudian akan menyerap nutrisi apa pun yang tersisa (seperti protein dan air) dan membuang sisanya melalui sistem ekskresi.
Kapan risiko kehamilan bisa terjadi?
Meskipun menelan sperma aman dari risiko kehamilan, bukan berarti aktivitas seksual lainnya bebas risiko 100%. Sangat penting untuk memahami situasi mana yang benar-benar bisa memicu kehamilan.
Kehamilan bisa terjadi jika:
1. Penetrasi vagina: Sperma dikeluarkan langsung di dalam atau di dekat liang vagina.
2. Kontak jari: Jika jari yang terkena cairan ejakulasi (sperma) atau cairan praejakulasi segera dimasukkan ke dalam vagina. Meskipun kemungkinannya lebih kecil dibandingkan penetrasi langsung, risikonya tetap ada karena sperma yang masih basah bisa berenang mencari sel telur.
3. Aktivitas seksual tanpa pakaian: Gesekan antar alat kelamin tanpa pakaian, di mana terjadi ejakulasi di dekat bukaan vagina, juga memiliki risiko kecil terjadinya kehamilan jika sperma mengalir masuk.
Karena itu, jika sperma hanya berada di mulut atau tertelan, tidak ada jalan bagi sel sperma tersebut untuk "bermigrasi" ke rahim.
Baca juga: Ciri-Ciri Sperma Tidak Masuk ke Rahim dan Solusinya
Risiko kesehatan yang perlu diwaspadai
Walaupun menelan sperma tidak akan membuat hamil, bukan berarti aktivitas ini sepenuhnya tanpa risiko kesehatan. Fokus utama yang perlu diperhatikan bukanlah kehamilan, melainkan infeksi menular seksual (IMS).
Mukosa atau lapisan kulit tipis di dalam mulut dan tenggorokan cukup rentan. Penularan penyakit bisa terjadi jika pasangan memiliki infeksi. Beberapa penyakit yang bisa menular melalui seks oral meliputi:
1. Gonore (kencing nanah): Bakteri ini bisa menginfeksi tenggorokan.
2. Sifilis: Luka akibat sifilis bisa muncul di area mulut.
3. Herpes genital: Virus herpes bisa berpindah dari alat kelamin ke mulut, atau sebaliknya.
4. HPV (Human Papillomavirus): Beberapa jenis HPV yang menyebabkan kutil kelamin juga bisa menginfeksi tenggorokan dan mulut.
5. HIV dan hepatitis: Meskipun risikonya lebih rendah dibandingkan seks anal atau vaginal, penularan tetap mungkin terjadi, terutama jika terdapat luka terbuka atau gusi berdarah di dalam mulut.
Salah satu cara untuk melindungi diri dan pasangan adalah dengan menggunakan pelindung seperti kondom (untuk pria) atau dental dam (untuk wanita) saat melakukan seks oral.
Fakta nutrisi: apa yang sebenarnya tertelan?
Sering muncul pertanyaan sampingan: apakah sperma itu bergizi? Atau sebaliknya, apakah berbahaya bagi pencernaan?
Secara komposisi, cairan mani (semen) yang membawa sperma sebagian besar terdiri dari air. Selain itu, cairan ini mengandung sejumlah kecil nutrisi yang berfungsi memberi energi pada sperma, seperti: fruktosa (gula), sodium, protein, vitamin C, dan zinc.
Namun, jumlah nutrisi ini sangatlah kecil dalam satu kali ejakulasi (rata-rata satu sendok teh), sehingga tidak memberikan dampak signifikan bagi asupan gizi harian Anda. Bagi sebagian kecil orang, protein dalam sperma bisa memicu reaksi alergi, meskipun kasus ini sangat jarang terjadi.
Nah, itulah jawaban dari pertanyaan apakah menelan sperma bisa hamil. Namun lebih dari itu, perlu dipahami adanya aspek risiko kesehatan saat melakukan seks oral. Komunikasikan juga dengan pasangan agar Anda berdua bisa melakukan hubungan seks dengan nyaman dan sehat. (MB/AY/WR/Foto: JComp/Freepik)
