Type Keyword(s) to Search
TODDLER

Anak Demam Tapi Masih Aktif, Kapan Harus Waspada?

Anak Demam Tapi Masih Aktif, Kapan Harus Waspada?

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Menyentuh tubuh Si Kecil dan mendapati suhunya lebih panas dari biasanya seringkali membuat kita khawatir ya, Moms. Rasa khawatir wajar muncul, apalagi jika termometer sudah menunjukkan angka di atas batas normal. Namun bagaimana bila anak demam tapi masih aktif?

Sebagai orang tua, insting pertama kita saat anak demam biasanya adalah segera menyuruh anak beristirahat di tempat tidur dan memberikan obat penurun panas.

Namun, bagaimana jika Si Kecil tetap aktif? Hal ini tentunya akan membuat Anda bingung. Kenapa badan anak panas tapi masih aktif? Kapan Moms harus waspada? Dan bagaimana perawatan yang tepat untuk anak demam? Untuk penjelasan lengkapnya simak artikel ini, Moms.

Kenapa badan anak panas tapi masih aktif?

Melihat anak demam tapi masih aktif berlarian di ruang tamu mungkin terasa bertolak belakang dengan pemahaman kita tentang orang sakit. Pada orang dewasa, demam ringan saja sering kali sudah cukup untuk membuat tubuh terasa lemas dan ingin berbaring seharian. Lalu, mengapa hal ini berbeda pada anak-anak?

Demam sebenarnya bukanlah sebuah penyakit, melainkan gejala atau respons alami tubuh saat sistem kekebalan sedang melawan infeksi. Infeksi ini bisa berasal dari virus atau bakteri ringan yang sering dijumpai sehari-hari. Saat virus masuk, "termostat" alami di dalam otak anak (hipotalamus) akan menaikkan suhu tubuh. Tujuannya sangat baik, yaitu menciptakan lingkungan bersuhu tinggi yang tidak disukai oleh kuman, sehingga kuman tersebut lebih sulit berkembang biak.

Menariknya, anak-anak memiliki cadangan energi yang luar biasa dan toleransi yang berbeda terhadap rasa tidak nyaman. Jika infeksi yang terjadi tergolong sangat ringan, seperti flu biasa atau radang tenggorokan ringan, tubuh mereka hanya akan merespons dengan kenaikan suhu tanpa memengaruhi tingkat energi secara keseluruhan. Selama mereka tidak merasa nyeri yang hebat atau sesak napas, keinginan alami mereka untuk bermain dan mengeksplorasi lingkungan sekitar akan tetap menang.

Selain itu, bermain merupakan cara alami anak untuk mengalihkan perhatian dari rasa tidak nyaman. Selama suasana hatinya baik, nafsu makannya terjaga, dan ia masih mau minum dengan cukup, Moms tidak perlu terlalu panik. 

Baca juga: 7 Makanan dan Minuman yang Bantu Turunkan Demam Anak

Demam seperti apa yang harus diwaspadai?

Meskipun anak terlihat aktif, Moms tetap harus memantau perkembangannya secara berkala. Kondisi anak bisa berubah dengan cepat. Penting untuk mengetahui kapan demam masih dalam batas aman dan kapan Moms harus segera menghubungi dokter anak. Berikut adalah beberapa kondisi demam yang memerlukan penanganan medis. 

1. Suhu tubuh menembus angka kritis

Pada anak berusia di atas 6 bulan, demam ringan hingga sedang (sekitar 37,5°C hingga 38,5°C) yang disertai aktivitas normal biasanya masih bisa dipantau di rumah. Namun, jika suhu tubuh anak tiba-tiba melonjak hingga mencapai 39°C atau lebih, Moms perlu lebih waspada. Suhu yang terlalu tinggi, meskipun anak masih tampak bisa diajak bercanda, memerlukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada infeksi yang lebih serius tersembunyi di dalam tubuhnya.

2. Muncul gejala dehidrasi

Salah satu risiko terbesar saat anak demam adalah hilangnya cairan tubuh yang mengarah pada dehidrasi. Perhatikan seberapa sering anak buang air kecil. Jika popoknya kering selama lebih dari 6 jam, atau ia menangis tanpa mengeluarkan air mata, ini adalah lampu merah. Tanda lain dari dehidrasi adalah mulut dan bibir yang tampak kering, serta mata yang terlihat cekung. Dehidrasi harus segera ditangani karena sangat memengaruhi fungsi organ tubuh anak.

3. Demam berlangsung lebih dari tiga hari

Tubuh biasanya membutuhkan waktu beberapa hari untuk mengalahkan virus penyebab demam. Wajar jika demam naik-turun selama satu atau dua hari. Namun, jika anak demam terus-menerus selama lebih dari 3 hari tanpa menunjukkan tanda-tanda suhu tubuh kembali normal, sangat disarankan untuk membawanya ke dokter. Demam yang berkepanjangan bisa menjadi indikasi adanya infeksi bakteri yang mungkin memerlukan bantuan antibiotik, atau kondisi kesehatan lain yang lebih spesifik.

Baca juga: Demam Anak Naik Turun Selama 3 Hari, Ini Penyebab dan Cara Penanganannya

4. Perubahan perilaku yang drastis

Anak yang tadinya aktif bisa saja tiba-tiba mengalami penurunan energi yang drastis. Jika Si Kecil mulai terlihat sangat lesu, sulit dibangunkan dari tidur, atau kehilangan ketertarikan sama sekali pada mainan favoritnya, serta keluhan penyerta lain seperti sesak napas, muntah berulang, ruam kemerahan di kulit yang tidak hilang saat ditekan, atau kejang, adalah tanda bahaya medis. Jangan menunda untuk mencari pertolongan medis jika Moms menemukan gejala-gejala ini.

Tips merawat anak demam yang masih aktif di rumah

Saat Si Kecil demam tapi masih ceria, Moms bisa melakukan perawatan suportif di rumah untuk memastikan ia tetap nyaman, seperti berikut: 

  • Pastikan asupan cairannya terpenuhi. Berikan air putih, ASI, kuah sup, atau jus buah segar secara berkala. Cairan sangat penting untuk mencegah dehidrasi dan membantu menurunkan suhu tubuh dari dalam.
  • Pakaikan baju yang tipis dan menyerap keringat. Membungkus anak dengan selimut tebal atau jaket justru akan membuat panas terperangkap di dalam tubuhnya dan membuat suhunya semakin naik. Pastikan juga sirkulasi udara di dalam kamar atau ruang bermain berjalan dengan baik.
  • Tidak harus memaksanya tidur terus-menerus jika ia memang menolak, namun batasi aktivitas fisiknya. Arahkan si kecil pada permainan yang tenang seperti membacakan buku cerita, menyusun balok, atau mewarnai. Hindari aktivitas berlarian atau melompat-lompat yang bisa membuatnya terlalu lelah.

Jadi, jika anak demam tapi masih aktif, itu merupakan respon tubuhnya untuk mengalihkan rasa sakit dan menjadi tanda bahwa infeksi yang dialaminya ringan, Moms. Namun, tetap pantau perkembangan Si Kecil ya, Moms. Jangan ragu untuk menghubungi dokter anak jika terjadi gejala yang mengkhawatirkan. (MB/GP/RF/Foto: prostooleh/Freepik)