Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Menjadi ibu baru adalah sebuah kebahagiaan luar biasa, tetapi tidak jarang juga diwarnai dengan kekhawatiran. Salah satu momen yang sering kali membuat detak jantung berdebar adalah ketika Anda sedang mengelus kepala lembut Si Kecil dan menyadari ada sesuatu yang terasa berbeda. Bagian atas kepala bayi, atau yang sering kita sebut sebagai ubun-ubun, terasa cekung. Apa penyebab ubun-ubun bayi cekung dan bagaimana mengatasinya?
Ubun-ubun yang terasa cekung dan lebih turun dari biasanya sering kali memicu rasa cemas bagi para orang tua. Wajar jika Anda merasa khawatir. Namun, sebelum pikiran Anda membayangkan hal-hal yang menakutkan, penting untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi pada kepala Si kecil. Berikut ini penjelasan lengkapnya, Moms.
Ubun-ubun bayi yang normal seperti apa?
Ubun-ubun, atau dalam bahasa medis disebut fontanel, adalah area lembut di kepala bayi di mana tulang-tulang tengkoraknya belum menyatu dengan sempurna. Celah ini berfungsi untuk memudahkan bayi saat melewati jalan lahir dan memberikan ruang bagi otak Si Kecil untuk tumbuh dan berkembang pesat selama tahun-tahun pertama kehidupannya.
Pada kondisi yang normal dan sehat, ubun-ubun bayi biasanya terasa datar atau hanya sedikit melengkung ke dalam jika disentuh dengan lembut. Terkadang, Moms mungkin bisa melihat atau merasakan denyutan halus di area tersebut, yang sebenarnya selaras dengan detak jantung bayi. Hal ini sangat wajar dan menunjukkan aliran darah yang normal.
Seiring berjalannya waktu, ubun-ubun ini akan menutup dengan sendirinya. Ubun-ubun bagian belakang biasanya menutup lebih cepat, yakni sekitar usia 2-3 bulan. Sementara itu, ubun-ubun bagian depan yang lebih besar biasanya baru akan menutup sempurna saat anak mencapai usia 18-24 bulan.
Baca juga: Jangan Panik, Ini Cara Menghilangkan Benjol di Kepala Bayi Akibat Jatuh
Penyebab ubun-ubun bayi cekung
Ketika Anda mendapati ubun-ubun bayi cekung atau tampak lebih melesak ke dalam, penyebab utamanya hampir selalu berkaitan dengan kadar cairan di dalam tubuhnya. Kondisi ini paling sering dipicu oleh dehidrasi atau kekurangan cairan. Bayi sangat rentan terhadap kehilangan cairan karena tubuhnya lebih kecil dan metabolismenya bekerja lebih cepat dibandingkan orang dewasa.
Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan bayi kehilangan banyak cairan secara tiba-tiba. Demam tinggi adalah salah satu pemicu utamanya, karena suhu tubuh yang panas membuat cairan menguap lebih cepat dari kulit melalui keringat. Gangguan pencernaan seperti diare dan muntah-muntah juga menguras cadangan cairan tubuh bayi dalam waktu yang sangat singkat.
Selain faktor penyakit, asupan nutrisi dan cairan yang tidak memadai bisa menjadi penyebab. Hal ini sering terjadi jika bayi mengalami kesulitan menyusui, menolak minum susu formula, atau ketika Moms sedang mengalami kendala dalam memproduksi ASI. Dalam beberapa kasus yang sangat jarang, kondisi ini juga bisa dipicu oleh kekurangan gizi atau malnutrisi kronis.
Baca juga: Pertolongan Pertama buat Anak yang Terbentur Kepalanya
Ubun-ubun cekung pada bayi pertanda apa?
Melihat ubun-ubun bayi cekung adalah cara alami tubuh Si Kecil memberikan sinyal kepada Anda bahwa ia sedang haus dan butuh lebih banyak cairan. Namun, penting untuk tidak berpatokan pada satu tanda ini saja. Ubun-ubun yang cekung biasanya disertai dengan gejala-gejala dehidrasi lainnya yang bisa Anda amati dengan mudah.
Perhatikan kebiasaan buang air kecilnya. Jika popok bayi tetap kering selama lebih dari enam jam atau warna urine tampak sangat pekat dan berbau menyengat, ini adalah tanda jelas bahwa ia kekurangan cairan. Selain itu, Anda mungkin akan memperhatikan bahwa Si Kecil tidak mengeluarkan air mata sama sekali saat ia menangis kencang.
Perubahan perilaku juga menjadi indikator yang sangat penting. Bayi yang mengalami dehidrasi biasanya akan terlihat lebih rewel, sulit ditenangkan, atau justru sebaliknya—tampak sangat lemas, mengantuk terus-menerus, dan kurang responsif terhadap lingkungan sekitarnya. Bibir dan mulut yang tampak kering juga merupakan tanda yang harus segera direspons.
Cara mengatasi ubun-ubun bayi cekung
Langkah paling utama dan krusial yang harus segera Moms lakukan adalah mengembalikan cairan tubuh yang hilang. Jika bayi masih berusia di bawah enam bulan dan mengonsumsi ASI eksklusif, susui Si Kecil lebih sering dari biasanya, sesering yang ia mau, meskipun durasinya sebentar. Jika ia meminum susu formula, berikan porsi tambahan yang disesuaikan dengan kemauannya.
Untuk bayi yang sudah berusia di atas enam bulan dan sudah mulai mengonsumsi MPASI, Anda bisa mulai memberikan sedikit air putih. Jika ia mengalami diare atau muntah, berikan cairan rehidrasi oral (oralit) khusus anak setelah berkonsultasi dengan dokter. Cairan ini sangat efektif untuk menggantikan air dan elektrolit penting yang hilang dari tubuhnya.
Pastikan bayi berada di lingkungan yang nyaman dan sejuk. Kenakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat, terutama jika ia sedang demam. Namun, apabila ubun-ubun Si Kecil tetap cekung meskipun Anda sudah memberikan banyak cairan, atau jika kondisinya disertai dengan muntah hebat, diare berdarah, dan anak tampak sangat lemas, segeralah bawa bayi ke fasilitas kesehatan terdekat. Penanganan medis yang cepat sangat dibutuhkan untuk mencegah komplikasi dehidrasi berat.
Itulah penjelasan tentang ubun-ubun bayi cekung. Dengan memahami penyebab dan cara mengatasi ubun-ubun bayi cekung, Anda kini punya bekal yang cukup untuk merespons kondisi tersebut dengan tenang dan tindakan yang tepat. Kuncinya adalah selalu peka terhadap perubahan kecil pada tubuh dan perilaku bayi, serta memastikan kebutuhan cairan dan nutrisinya selalu terpenuhi, Moms. (MB/SW/RF/Foto: Pvproductions/Freepik)
