Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Sebagai orang tua, Moms dan Dads sesungguhnya memiliki tanggung jawab yang sama dalam mengurus serta membesarkan Si Kecil. Namun yang sering terjadi, anak lebih dekat dengan ibu. Apa yang menyebabkan kondisi ini serta bagaimana efeknya terhadap karakter Si Kecil?
Moms mungkin sering menyadari satu pola yang sangat umum terjadi, Si Kecil rasanya tidak ingin lepas dari pelukan ibunya. Ke mana pun Anda pergi, dari dapur hingga ke kamar mandi, selalu ada bayangan kecil yang setia mengikuti.
Fenomena ini sering kali memunculkan senyum sekaligus rasa lelah. Di satu sisi, Moms merasa sangat dicintai dan dibutuhkan. Namun di sisi lain, Dads mungkin merasa sedikit tersisih atau bingung bagaimana cara mendapatkan perhatian yang sama dari buah hatinya. Rasa penasaran pun muncul mengenai apa sebenarnya yang membuat ikatan ini begitu kuat dan seolah tak tergantikan.
Kenapa anak lebih dekat dengan ibu?
Kedekatan antara ibu dan anak bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Sejak masa kehamilan, anak sudah terbiasa dengan suara, detak jantung, dan aroma tubuh ibunya. Rahim adalah rumah pertama yang memberikan rasa aman mutlak bagi seorang anak. Saat lahir ke dunia, insting alami bayi akan mencari sosok yang paling familiar baginya untuk mendapatkan kenyamanan.
Selain faktor biologis, interaksi sehari-hari memainkan peran yang sangat besar. Di banyak keluarga, ibu masih memegang peran sebagai pengasuh utama, mulai dari menyusui, memandikan, hingga menenangkan anak saat menangis tengah malam. Rutinitas ini membangun kepercayaan yang mendalam antara ibu dan anak.
Si Kecil belajar bahwa ketika ia lapar, takut, atau sakit, ibu adalah sosok yang selalu hadir memberikan solusi dan pelukan hangat. Konsistensi inilah yang menumbuhkan rasa aman (secure attachment) yang membuat anak cenderung mencari ibunya dalam setiap situasi.
Watak anak diturunkan dari siapa?
Banyak orang tua sering menebak-nebak dari mana datangnya sifat keras kepala atau sisi lembut Si Kecil. Apakah dari Moms atau dari Dads? Secara genetika, anak mewarisi DNA dari kedua orang tuanya dengan porsi yang sama. Sifat-sifat dasar dan temperamen bawaan merupakan perpaduan kompleks dari genetik ibu dan ayah.
Namun, pembentukan karakter tidak berhenti pada faktor genetik saja. Lingkungan dan pola asuh memberikan pengaruh yang luar biasa besar. Karena anak sering menghabiskan sebagian besar waktunya dengan ibu, maka ia menjadi pengamat yang sangat jeli terhadap perilaku ibunya. Cara ibu merespons stres, mengekspresikan kegembiraan, dan berinteraksi dengan orang lain akan ditiru oleh anak. Jadi, meskipun watak dasar mungkin merupakan warisan genetik dari ayah dan ibu, ekspresi karakter anak sehari-hari sering kali merupakan hasil meniru sosok yang paling dekat dengannya.
Baca juga: 7 Cara Efektif untuk Bonding dengan Anak
Apakah ibu dan anak punya ikatan batin?
Anda mungkin sering mendengar cerita tentang seorang ibu yang tiba-tiba merasa cemas tanpa alasan yang jelas, dan tak lama kemudian mengetahui bahwa anaknya sedang sakit atau terjatuh. Ikatan batin antara ibu dan anak memang benar adanya dan bahkan memiliki penjelasan ilmiah.
Selama masa kehamilan dan menyusui, tubuh ibu memproduksi hormon oksitosin dalam jumlah besar. Oksitosin sering disebut sebagai "hormon cinta" yang berfungsi memperkuat ikatan emosional dan rasa empati. Hormon ini membuat otak ibu menjadi sangat peka terhadap kebutuhan dan sinyal-sinyal yang diberikan oleh anaknya, bahkan melalui tangisan yang terdengar sama bagi orang lain. Secara psikologis, kepekaan ini menciptakan resonansi emosional. Ibu dan anak bisa saling merasakan perubahan suasana hati masing-masing, membentuk ikatan batin yang tak terlihat namun sangat kuat.
Apa dampak bila anak terlalu dekat dengan ibunya?
Kedekatan dengan ibu membawa banyak dampak positif bagi perkembangan psikologis anak. Anak yang memiliki rasa aman dengan ibunya cenderung tumbuh menjadi individu yang lebih percaya diri, memiliki empati yang tinggi, dan mampu meregulasi emosinya dengan baik saat menghadapi tekanan. Si Kecil tahu bahwa ia memiliki "tempat bersandar" yang aman saat dunia terasa menakutkan.
Meski begitu, kedekatan yang tidak diseimbangkan dengan kemandirian bisa memunculkan tantangan tersendiri. Jika anak terlalu bergantung pada ibu untuk setiap hal kecil, ia mungkin akan kesulitan saat harus berpisah, seperti hari pertama masuk sekolah atau saat ibu harus kembali bekerja. Kecemasan akan perpisahan (separation anxiety) bisa menjadi sangat intens. Oleh karena itu, penting bagi ibu untuk secara bertahap memberikan ruang bagi anak untuk mengeksplorasi dunianya sendiri dan berinteraksi dengan orang lain, sambil tetap menjadi pengawas yang penuh kasih.
Bagaimana agar anak juga dekat dengan ayahnya?
Ayah memiliki peran yang sama pentingnya dalam perkembangan anak. Anak yang dekat dengan sosok ayah terbukti memiliki kemampuan kognitif yang baik dan lebih berani mengambil risiko yang sehat. Agar anak tidak hanya menempel pada ibu, ayah bisa mulai membangun ikatan melalui langkah-langkah berikut:
Baca juga: Penting! Ini Peran Ayah dalam Tumbuh Kembang Anak
1. Buat rutinitas khusus ayah dan anak
Anak-anak sangat menyukai rutinitas yang bisa diprediksi. Ayah bisa mengambil alih beberapa tugas harian tertentu agar menjadi momen eksklusif bersama Si Kecil. Misalnya, rutinitas membacakan buku cerita sebelum tidur, memandikan anak di akhir pekan, atau mengajak anak jalan-jalan pagi berdua saja. Momen-momen ini akan membuat anak mengasosiasikan ayah dengan kenyamanan dan kesenangan.
2. Terlibat penuh saat bermain
Berbeda dengan ibu yang sering kali lebih berhati-hati, ayah biasanya memiliki gaya bermain yang lebih aktif dan mengandalkan fisik. Hal ini sangat baik untuk perkembangan motorik dan keberanian anak. Matikan televisi, jauhkan ponsel, dan bermainlah di lantai bersama anak. Kehadiran utuh dari Ayah saat bermain akan membuat anak merasa dihargai dan dicintai.
3. Ibu perlu memberi ruang
Terkadang, tanpa disadari, ibu sering mengambil alih ketika melihat anak menangis bersama ayahnya atau saat ayah terlihat canggung memakaikan baju. Moms, cobalah untuk mundur sejenak dan biarkan ayah menemukan caranya sendiri dalam menenangkan dan merawat Si Kecil. Kepercayaan dari ibu akan membuat ayah lebih percaya diri, dan anak pun akan belajar bahwa ayah adalah sosok yang sama amannya dengan ibu.
Melihat anak tumbuh dengan cinta yang melimpah dari kedua orang tuanya adalah kebahagiaan sejati. Sangat wajar jika pada fase tertentu anak lebih dekat dengan ibunya. Hal tersebut adalah bagian dari proses perkembangan alami mereka. Dengan pengertian yang mendalam dan kerja sama tim antara Moms dan Dads, keluarga dapat menciptakan lingkungan di mana anak merasa aman, dicintai, dan berani menjelajahi dunia. (MB/WR/RF/Foto: Freepik)
