Type Keyword(s) to Search
FAMILY & LIFESTYLE

Revitalisasi Keraton Nusantara, Upaya Melestarikan Warisan Budaya untuk Generasi Masa Depan

Revitalisasi Keraton Nusantara, Upaya Melestarikan Warisan Budaya untuk Generasi Masa Depan

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Di tengah keseharian yang serba cepat, mengurus keluarga, mengejar pekerjaan, hingga membagi waktu untuk diri sendiri, sering kali kita lupa bahwa ada akar budaya yang diam-diam membentuk siapa kita hari ini.

Padahal, mengenalkan warisan budaya kepada anak sejak dini bisa menjadi salah satu cara sederhana menanamkan identitas, nilai, sekaligus rasa bangga sebagai bangsa Indonesia. Karena itulah, upaya menjaga warisan leluhur bukan hanya tugas sejarawan atau budayawan, tetapi juga menjadi bagian dari peran kita sebagai orang tua.

Semangat itulah yang terasa dalam Seminar Nasional dan Pameran Lukisan bertajuk Revitalisasi Keraton Nusantara (FSKN) yang digelar oleh Forum Silaturahmi Keraton Nusantara berkolaborasi dengan Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI), Himpunan Pelukis Jakarta (Hipta), dan Asosiasi Pelukis Nusantara (Aspen).

Acara ini berlangsung di Gedung Kantor Pusat Berita Antara, Jakarta Pusat, dengan pembukaan resmi pada Jumat (24/4/2026) dan pameran lukisan yang berlangsung hingga 28 April 2026.

Lukisan Revitalisasi Keraton Nusantara

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Teuku Riefky Harsya selaku Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Kepala Badan Ekonomi Kreatif. Kehadirannya menjadi sinyal bahwa revitalisasi budaya bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan bagian penting dari pembangunan identitas bangsa di masa depan.

Ketua Umum FSKN, AA Mapparessa, menyampaikan bahwa acara ini merupakan bentuk komitmen bersama untuk menjaga warisan leluhur yang menjadi pilar identitas bangsa. Menurutnya, revitalisasi keraton tidak berhenti pada pemugaran bangunan fisik, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai luhur seperti kearifan lokal, toleransi, dan kebersamaan, nilai yang sejak lama menjadi fondasi kuat bangsa Indonesia.

Senada dengan itu, Ketua Panitia Pelaksana, Dedi Yusmen, menilai kegiatan ini sebagai kolaborasi strategis antara penjaga tradisi dan insan seni. Lewat dialog kebijakan yang dipadukan dengan ekspresi seni rupa, acara ini diharapkan dapat melahirkan langkah konkret dalam pelestarian sekaligus pengembangan nilai budaya bangsa.

Yang membuat pameran ini semakin istimewa, sebanyak 44 seniman turut ambil bagian menghadirkan karya-karya yang merefleksikan makna keraton di era modern. Nama-nama seperti Yahya TS, Deden Hamdani, Susi Necklin, Ni Made Sri Andani, hingga Nadia Iskandar menjadi bagian dari gerakan budaya ini.

Sekretaris Jenderal Hipta, Semut Prasidha, menyebut momentum ini sebagai langkah strategis untuk mendukung revitalisasi keraton Nusantara sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah bangsa dan cagar budaya yang layak dijaga lintas generasi.

Acara ini turut menegaskan bahwa seni rupa selalu menjadi medium kuat untuk merekam, merawat, sekaligus menafsirkan kembali identitas budaya. Dalam konteks Indonesia, keraton bukan hanya bangunan bersejarah, melainkan simbol peradaban, pusat nilai, dan jejak sejarah yang masih hidup hingga hari ini.

Melalui pameran ini, para seniman tidak sekadar menampilkan keindahan visual keraton. Mereka juga mengajak masyarakat memaknai revitalisasi secara lebih luas, mulai dari pelestarian nilai luhur, reinterpretasi simbol budaya, hingga refleksi atas posisi keraton yang perlahan terpinggirkan oleh modernitas.

Bagi Moms, ini menjadi pengingat bahwa budaya bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Cerita tentang akar tradisi, sejarah, dan identitas bangsa justru bisa dimulai dari rumah, melalui obrolan sederhana dengan Si Kecil, mengenalkan kisah kerajaan Nusantara, atau mengajak anak melihat langsung karya seni yang menghidupkan kembali warisan leluhur.

Sebab ketika budaya tetap hidup di hati generasi berikutnya, warisan itu tak akan pernah benar-benar hilang. (MB/TW/Foto: Dok. Hipta)