Type Keyword(s) to Search
TODDLER

Penyebab Anak Suka Memukul Orang Tua dan Cara Mengatasinya

Penyebab Anak Suka Memukul Orang Tua dan Cara Mengatasinya

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Moms, pernahkah Si Kecil memukul Anda tiba-tiba? Rasa kaget mungkin menghampiri saat hal ini terjadi, ditambah rasa malu apabila Si Kecil melakukannya di tempat umum. Tapi tenang, Anda tak sendiri. Banyak anak suka memukul orang tua. Namun saat ini terjadi, mungkin Anda bertanya-tanya, "Apa yang salah dengan pola asuh saya?".

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), perilaku agresif seperti memukul atau menggigit sering muncul pada usia balita (1–3 tahun). Hal ini dikarenakan anak masih belajar mengenali emosi dan belum memiliki kemampuan bahasa yang cukup untuk mengungkapkan rasa marah atau frustrasi, sehingga terkadang melampiaskannya melalui tindakan fisik. 

Untuk menghentikan kebiasaannya ini, mari kita pahami lebih lanjut penyebab dibalik perilaku anak suka memukul orang tua berikut. 

Penyebab anak suka memukul dari perspektif perkembangan

Ketika anak memukul, terutama usia balita, hal ini bukan karena Si Kecil adalah anak yang nakal, apalagi niatnya untuk menyakiti Moms atau Dads. Sering kali ini berkaitan erat dengan tahap perkembangannya. Berikut beberapa penyebab umum dari sisi perkembangan:

1. Keterbatasan bahasa

Anak balita sering kali belum punya cukup kosakata untuk mengungkapkan rasa marah, kecewa, atau lelah. Memukul menjadi "jalan pintas" untuk menyampaikan perasaan yang sulit ia ungkapkan.

2. Regulasi emosi masih belum matang

Bagian otak yang berperan dalam mengendalikan emosi dan impuls, yaitu korteks prefrontal, masih berkembang hingga usia dewasa muda. Karena itu, balita cenderung bereaksi secara spontan, yaitu dengan memukul, ketika merasa kesal atau frustrasi.

Baca juga: Kenali Perkembangan Emosi Anak Balita Usia 1-2 Tahun

3. Mencari perhatian

Bagi anak, perhatian negatif tetaplah perhatian. Jika memukul membuat orang tua langsung bereaksi, ia bisa mengulanginya untuk mendapatkan respons.

4. Meniru lingkungan

Anak adalah peniru ulung. Jika ia melihat kekerasan di rumah, tayangan, atau teman sebaya, ia bisa menirunya tanpa memahami dampaknya.

5. Mengeksplorasi sebab-akibat

Pada masa balita, anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka sering mencoba berbagai perilaku untuk melihat respons orang lain. Misalnya, "Kalau aku memukul Mama, apa yang akan terjadi?". Ini bukan berarti anak berniat menyakiti, tetapi ia sedang belajar tentang hubungan sebab-akibat dan batasan sosial.

6. Sedang mengembangkan kemandirian

Menurut teori perkembangan psikososial Erik Erikson, anak usia sekitar 1–3 tahun berada pada tahap Autonomy vs. Shame and Doubt. Mereka ingin melakukan banyak hal sendiri.

Ketika keinginannya dibatasi, misalnya tidak boleh bermain atau diminta berhenti melakukan sesuatu, rasa frustrasi bisa muncul dan diekspresikan dengan memukul.

7. Kelelahan dan kelaparan

Kondisi fisik seperti mengantuk, lapar, atau terlalu lelah bisa membuat anak lebih mudah meledak secara emosional.

Perbedaan anak memukul karena emosi dengan gangguan perilaku

Sebagian besar perilaku memukul yang dilakukan oleh anak adalah bagian normal dari tumbuh kembangnya. Namun, ada kalanya perilaku memukul perlu mendapat perhatian khusus, terlebih bila ini merupakan bagian dari gangguan perilaku yang dialami Si Kecil. Berikut cara membedakannya, Moms. 

  • Ciri anak memukul karena emosi sesaat
    Saat Si Kecil memukul karena emosi, biasanya perilaku ini bersifat sementara dan dipicu oleh situasi tertentu. Tanda-tandanya antara lain:
    • Memukul hanya saat marah, frustrasi, atau lelah.
    • Frekuensinya berkurang seiring bertambahnya usia dan kemampuan bicara.
    • Anak menunjukkan rasa menyesal setelah memukul.
    • Masih bisa diajak berinteraksi dan menyayangi orang lain dengan hangat.

Baca juga: 7 Perilaku Anak yang Buruk, Moms Wajib Tahu Cara Menghadapinya 

  • Ciri anak memukul karena gangguan perilaku
    Jika pola memukul terus berlanjut dan disertai tanda-tanda berikut, ada baiknya berkonsultasi dengan psikolog anak:
    • Perilaku agresif yang sangat sering dan sulit dikendalikan, bahkan tanpa pemicu jelas.
    • Tidak menunjukkan empati atau rasa bersalah setelah menyakiti orang lain.
    • Agresi yang membahayakan diri sendiri atau orang lain.
    • Disertai kesulitan lain, seperti masalah tidur, kemunduran perkembangan, atau kesulitan bersosialisasi yang menetap.

Nah, jika perilaku memukul tidak kunjung membaik setelah usia 4–5 tahun, semakin intens, atau membuat Anda merasa kewalahan, jangan ragu meminta dukungan ahli. 

Cara mengatasi anak yang suka memukul

Meski perilaku memukul pada anak balita merupakan bagian dari perkembangannya, namun memukul bukanlah perilaku yang harus dimaklumi begitu saja. Karenanya, berikut beberapa cara yang bisa Moms terapkan untuk mengatasi anak yang suka memukul: 

1. Tetap tenang

Reaksi Anda adalah cermin bagi anak. Jika Moms membalas dengan marah atau berteriak, anak justru belajar bahwa kemarahan dilampiaskan dengan kekerasan. Tarik napas dalam-dalam, lalu tanggapi dengan suara yang tenang namun tegas.

2. Tetapkan batasan yang jelas dan konsisten

Sampaikan dengan kalimat sederhana, "Memukul itu sakit. Mama tidak izinkan memukul." Konsistensi sangat penting. Aturan yang berubah-ubah akan membuat anak bingung.

3. Beri nama pada emosi anak

Bantu anak mengenali perasaannya dengan berkata, "Sepertinya kamu marah karena mainanmu diambil, ya?" Dengan begini, anak belajar bahwa perasaannya valid, sekaligus belajar kosakata untuk mengungkapkannya.

4. Alihkan dan tawarkan pilihan lain

Tunjukkan cara yang aman untuk menyalurkan emosi. Misalnya, "Kalau marah, kamu boleh memeluk bantal atau menghentakkan kaki, tapi tidak boleh memukul."

5. Puji perilaku baik

Berikan perhatian dan pujian saat anak berhasil mengendalikan diri. "Tadi kamu bilang 'aku marah' tanpa memukul. Hebat sekali!" Penguatan positif jauh lebih efektif daripada hukuman.

6. Pastikan kebutuhan dasar terpenuhi

Anak yang cukup tidur, kenyang, dan merasa diperhatikan cenderung lebih stabil secara emosional. Perhatikan pola istirahat dan makannya.

Dengan memahami penyebab perilaku anak memukul sering kali merupakan bentuk komunikasi yang belum matang diharapkan dapat membantu Moms merespons dan mengatasi perilaku Si Kecil ini dengan lebih tenang, bukan dengan kemarahan. (MB/RA/RF/Foto: Cookie_studio/Dok.Freepik)