Type Keyword(s) to Search
KID

Ciri-Ciri Autisme pada Anak: Pentingnya Deteksi Dini untuk Penanganan Tepat

Ciri-Ciri Autisme pada Anak: Pentingnya Deteksi Dini untuk Penanganan Tepat

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Autisme atau autism spectrum disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, berinteraksi sosial, dan berperilaku. Kondisi ini menyebabkan penderitanya sulit berkomunikasi, berhubungan sosial, dan belajar. Lantas bagaimana ciri-ciri anak autis?

Menurut data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada tahun 2023, 1 dari 36 anak di Amerika Serikat terdiagnosis ASD, angka yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran dan kemampuan diagnosis.

Di Indonesia, kesadaran akan tanda-tanda autisme masih perlu terus ditingkatkan. Banyak orang tua yang baru mengetahui kondisi anaknya saat usia sekolah, padahal intervensi dini terbukti memberikan hasil yang jauh lebih baik bagi perkembangan anak. Perlu diketahui intervensi dini idealnya dilakukan sebelum usia 5 tahun.

Ciri-ciri autisme yang dapat terlihat sejak dini

Tanda-tanda autisme tidak selalu mudah dikenali, terutama karena setiap anak dengan ASD memiliki profil yang berbeda-beda. Namun, ada beberapa pola umum yang bisa mulai terlihat sejak bayi hingga usia balita.

Apa saja tanda autisme pada bayi usia 0–12 bulan?

Pada tahap ini, tanda-tanda mungkin tampak halus, namun tetap perlu diperhatikan:

  • Kurang kontak mata: Bayi biasanya mulai merespons wajah orang tua dengan kontak mata sejak usia 2 bulan. Jika bayi jarang atau tidak melakukan kontak mata sama sekali, ini bisa menjadi sinyal awal.
  • Tidak merespons namanya: Pada usia sekitar 6–9 bulan, kebanyakan bayi mulai menoleh saat namanya dipanggil. Bayi dengan risiko autisme mungkin tidak menunjukkan respons ini.
  • Tidak menunjukkan ekspresi sosial: Senyum balasan, ekspresi gembira saat melihat wajah familiar, atau respons terhadap suara orang tua yang biasanya muncul di usia 2–3 bulan mungkin tidak terlihat.

Apa tanda autisme pada anak usia 1–3 tahun?

Memasuki usia toddler, tanda-tanda autisme cenderung lebih terlihat:

  • Belum mengucapkan satu kata pun di usia 16 bulan.
  • Belum mengucapkan dua kata bermakna (bukan sekadar meniru) di usia 24 bulan.
  • Kehilangan kemampuan bicara atau sosial yang sebelumnya sudah dimiliki.
  • Tidak melakukan gestur seperti menunjuk, melambaikan tangan, atau mengangkat tangan minta digendong.

Penting untuk Moms ingat, tidak semua anak yang menunjukkan satu tanda ini berarti mengalami autisme. Namun, kombinasi beberapa tanda, terutama yang berlangsung konsisten, layak untuk dievaluasi lebih lanjut.

Baca juga: Ciri-Ciri Anak Autisme dan Cara Menanganinya Sejak Dini

Tanda autisme pada komunikasi dan interaksi sosial

Moms, salah satu area yang paling terpengaruh pada anak dengan autisme adalah kemampuan komunikasi dan interaksi sosial. Ini bukan sekadar soal terlambat bicara, melainkan cara anak memahami dan merespons dunia sosial di sekitarnya.

Anak dengan autisme mungkin mengalami berbagai tantangan komunikasi, antara lain:

  • Ekolalia: Mengulang kata atau kalimat yang baru saja didengar, baik langsung maupun setelah beberapa waktu. Misalnya, menjawab pertanyaan "Mau makan apa?" dengan mengulang kembali "Mau makan apa?".
  • Berbicara dengan cara yang tidak biasa: Nada suara yang datar, ritme bicara yang kaku, atau menggunakan kata-kata yang terasa "out of place" untuk konteks percakapan.
  • Kesulitan memahami bahasa nonverbal: Ekspresi wajah, gestur, dan intonasi suara yang menjadi bagian penting dari komunikasi seringkali sulit dipahami oleh anak dengan ASD.

Perlu Moms ingat, tidak semua anak autisme menghindari interaksi sosial. Beberapa anak justru ingin bersosialisasi, namun kesulitan memahami "aturan tak tertulis" dalam pergaulan. Tanda-tanda yang umum meliputi:

  • Kesulitan bermain pura-pura (pretend play) atau bermain bersama anak lain.
  • Lebih suka bermain sendiri dan tampak tidak tertarik pada teman sebaya.
  • Tidak memahami konsep giliran dalam percakapan atau permainan.
  • Kesulitan mengekspresikan emosi atau membaca emosi orang lain.

Pola perilaku berulang dan respons sensorik yang perlu diperhatikan

Selain komunikasi dan interaksi sosial, dua area lain yang menjadi ciri khas autisme adalah perilaku berulang dan sensitivitas sensorik. Perilaku berulang, atau disebut juga repetitive behaviors, dapat muncul dalam berbagai bentuk:

  • Stimming: Gerakan tubuh berulang seperti mengepak-ngepakkan tangan (hand flapping), berputar, atau menggoyang-goyangkan tubuh. Stimming seringkali berfungsi sebagai cara anak mengatur emosi atau merespons stimulasi berlebihan.
  • Rutinitas yang sangat kaku: Anak menjadi sangat terganggu jika ada perubahan kecil dalam rutinitas harian, misalnya, jalan pulang yang berbeda atau urutan makan yang berubah.
  • Ketertarikan yang sangat intens pada topik tertentu: Anak bisa menghabiskan waktu berjam-jam mempelajari satu topik, seperti jenis kereta api, planet, atau angka.

Selain itu, banyak anak dengan autisme mengalami perbedaan dalam pemrosesan sensorik, baik hipersensitivitas (terlalu sensitif) maupun hiposensitivitas (kurang sensitif):

  • Hipersensitivitas: Menangis atau panik karena suara keras, menolak tekstur makanan tertentu, atau sangat terganggu dengan label pakaian.
  • Hiposensitivitas: Tidak merespons rasa sakit seperti yang diharapkan, mencari stimulasi sensorik kuat seperti menekan benda keras atau berputar terus-menerus.

Perbedaan tanda autisme dengan keterlambatan bicara biasa

Orang tua sering bertanya: "Apakah ini autisme, atau anak saya memang terlambat bicara?" Pertanyaan ini sangat wajar, karena keterlambatan bicara memang bisa menjadi tanda keduanya. namun ada perbedaan penting yang perlu dipahami.

Baca juga: Solusi Mencegah Autisme pada Anak Sejak Masa Kehamilan

Keterlambatan bicara biasa

  • Kontak mata: Umumnya baik.
  • Interaksi sosial: Aktif, mau bermain bersama.
  • Gestur: Menunjuk, melambaikan tangan.
  • Respons terhadap nama: Merespons.
  • Minat pada orang lain: Ada, mencari perhatian.
  • Perilaku berulang: Tidak ada atau minimal.

Autisme

  • Kontak mata: Seringkali terbatas atau tidak konsisten.
  • Interaksi sosial: Cenderung menyendiri atau kesulitan bersosialisasi.
  • Gestur: Gestur komunikatif terbatas atau tidak ada.
  • Respons terhadap nama: Sering tidak merespons.
  • Minat pada orang lain: Terbatas, lebih fokus pada benda/minat tertentu.
  • Perilaku berulang: Sering muncul.

Anak dengan keterlambatan bicara biasa umumnya masih menunjukkan keinginan yang kuat untuk berkomunikasi, meski belum menggunakan kata-kata. Ia akan menunjuk, menarik tangan orang dewasa, atau menggunakan ekspresi wajah untuk menyampaikan maksud. Pada anak dengan autisme, dorongan komunikasi sosial inilah yang seringkali berbeda.

Kapan orang tua perlu membawa anak untuk skrining tumbuh kembang?

American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan skrining autisme dilakukan pada usia 18 bulan dan 24 bulan sebagai bagian dari pemeriksaan tumbuh kembang rutin. Skrining ini bukan untuk mendiagnosis, melainkan untuk mengidentifikasi anak-anak yang perlu evaluasi lebih lanjut.

Di Indonesia, skrining dapat dilakukan melalui dokter spesialis anak, psikolog klinis anak, atau pusat tumbuh kembang anak yang tersedia di rumah sakit maupun klinik terpercaya. Nah, Moms perlu segera berkonsultasi mengenai kondisi anak, apabila: 

  • Anak belum mengoceh di usia 12 bulan.
  • Anak belum mengucapkan satu kata di usia 16 bulan.
  • Anak kehilangan kemampuan bahasa atau sosial yang sudah dimiliki sebelumnya, di usia berapa pun
  • Moms merasa "ada yang berbeda" pada cara anak berkomunikasi atau berinteraksi.

Moms, autisme bukan kondisi yang perlu ditakuti. Anak-anak dengan ASD memiliki potensi luar biasa, dan dengan dukungan yang tepat, Si Kecil dapat berkembang dengan cara yang indah dan unik. Mengenali ciri-ciri anak autis sejak dini merupakan cara paling tepat untuk memastikan Si Kecil mendapatkan dukungan yang ia butuhkan sedini mungkin. (MB/WR/RF/Foto: Freepik)