Type Keyword(s) to Search
KID

Bukan Hanya Hak, Ini Kewajiban Anak di Masyarakat yang Perlu Diketahui

Bukan Hanya Hak, Ini Kewajiban Anak di Masyarakat yang Perlu Diketahui

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Sebagai orang tua, wajar jika Moms lebih fokus pada hak-hak anak. Faktanya, mengetahui hak anak memang penting guna mendukung tumbuh kembang Si Kecil.  Tapi tahukah Moms bahwa mengajarkan kewajiban anak di masyarakat sejak kecil juga sama pentingnya untuk tumbuh kembang Si Kecil?

Anak yang memahami tanggung jawabnya di masyarakat cenderung tumbuh menjadi pribadi yang empatik, mandiri, dan mudah beradaptasi. Ia belajar bahwa hidup bukan hanya tentang menerima, tapi juga memberi dan berkontribusi.

Apa yang dimaksud kewajiban anak di masyarakat?

Kewajiban anak di masyarakat adalah serangkaian tanggung jawab sosial yang perlu dijalankan anak sebagai bagian dari lingkungan tempat ia tinggal. Sederhananya, ini adalah hal-hal yang seharusnya anak lakukan untuk menjaga keharmonisan dan kenyamanan bersama.

Berbeda dengan hak yang bersifat menerima, kewajiban lebih menekankan pada memberi dan berkontribusi. Misalnya, anak berhak mendapatkan lingkungan yang bersih, maka sebagai imbalannya, ia juga punya kewajiban untuk ikut menjaga kebersihan tersebut.

Mengajarkan konsep ini sejak dini membantu anak memahami bahwa dirinya adalah bagian dari komunitas yang lebih besar. Ia belajar bahwa tindakannya berdampak pada orang lain, dan bahwa hidup bermasyarakat membutuhkan kerja sama.

Baca juga: Bikin Anak kurang Pede, Ini Dampak Lain Strict Parents pada Anak

Contoh kewajiban anak: Menjaga kebersihan, gotong royong, dan fasilitas umum

Kewajiban di masyarakat tidak harus berupa hal yang rumit. Justru, banyak contoh yang bisa anak lakukan dalam kesehariannya. Berikut beberapa di antaranya:

1. Menjaga kebersihan lingkungan

Ajak anak membuang sampah pada tempatnya, tidak mencoret-coret dinding, dan merapikan area bermain setelah digunakan. Kebiasaan kecil ini menanamkan rasa peduli terhadap lingkungan sekitar.

2. Ikut gotong royong

Gotong royong adalah budaya khas Indonesia yang penuh nilai kebersamaan. Libatkan anak dalam kegiatan seperti kerja bakti membersihkan lingkungan atau membantu tetangga sesuai kemampuannya. Ini mengajarkan bahwa pekerjaan berat terasa ringan bila dilakukan bersama.

3. Menjaga fasilitas umum

Taman bermain, halte, tempat ibadah, dan fasilitas umum lainnya adalah milik bersama. Ajarkan anak untuk merawatnya dengan tidak merusak, mengotori, atau menggunakannya secara sembarangan.

Baca juga: Cara Efektif Mengatasi Anak Rewel di Tempat Umum

Mematuhi aturan, menghormati orang lain, dan menyayangi teman

Selain kewajiban yang bersifat fisik, ada juga kewajiban sosial yang berkaitan dengan sikap dan perilaku anak terhadap orang lain:

1. Mematuhi aturan

Setiap lingkungan punya aturan, mulai dari norma sederhana di rumah hingga aturan di ruang publik. Mengajarkan anak menaati aturan membantunya memahami pentingnya ketertiban dan disiplin.

2. Menghormati orang lain

Ajarkan anak untuk bersikap sopan kepada siapa saja, terutama orang yang lebih tua. Menyapa tetangga, mengucapkan terima kasih, dan berbicara dengan santun adalah bentuk penghormatan yang bisa dilatih sejak kecil.

3. Menyayangi teman

Anak perlu belajar berbagi, bekerja sama, dan tidak menyakiti temannya. Sikap saling menyayangi ini menjadi dasar hubungan sosial yang sehat di kemudian hari.

Ketiga hal ini mungkin terlihat sederhana, tapi dampaknya besar. Anak yang terbiasa menghormati dan menyayangi orang lain akan lebih mudah diterima dan dihargai di lingkungannya.

Kewajiban anak menurut UU perlindungan anak yang perlu diketahui

Di Indonesia, hak dan kewajiban anak diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Menurut Pasal 19 dalam undang-undang tersebut, setiap anak berkewajiban untuk:

  • Menghormati orang tua, wali, dan guru.
  • Mencintai keluarga, masyarakat, dan menyayangi teman.
  • Mencintai tanah air, bangsa, dan negara.
  • Menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya.
  • Melaksanakan etika dan akhlak yang mulia.

Aturan ini menegaskan bahwa kewajiban anak bukan sekadar anjuran, melainkan bagian dari nilai yang diakui secara hukum. Dengan memahaminya, Anda sebagai orang tua bisa lebih terarah dalam membimbing anak menjalankan tanggung jawabnya.

Cara orang tua mengajarkan kewajiban sesuai usia tanpa mengabaikan hak anak

Mengajarkan kewajiban bukan berarti memaksa atau membebani anak. Kuncinya adalah menyesuaikan dengan usia dan kemampuannya, sambil tetap menghargai hak-haknya. Berikut beberapa cara yang bisa Moms coba:

1. Untuk anak usia dini (2–5 tahun)

Mulailah dari hal yang paling sederhana. Ajak anak merapikan mainan sendiri, membuang sampah kecil, atau mengucapkan "tolong" dan "terima kasih". Gunakan pendekatan bermain agar terasa menyenangkan, bukan seperti tugas.

2. Untuk anak usia sekolah (6–12 tahun)

Di usia ini, anak sudah bisa memahami konsep tanggung jawab yang lebih luas. Libatkan anak dalam kegiatan gotong royong, ajarkan aturan di lingkungan sekitar, dan beri contoh nyata tentang cara menghormati orang lain.

3. Untuk remaja (13 tahun ke atas)

Remaja bisa diajak berdiskusi tentang peran mereka di masyarakat. Dorong mereka ikut kegiatan sosial, seperti kerja bakti atau kegiatan karang taruna, agar rasa tanggung jawabnya semakin terasah.

Namun satu hal terpenting yang perlu Moms lakukan, jadilah teladan. Anak belajar paling banyak dari apa yang mereka lihat. Ketika Anda ikut menjaga kebersihan atau menyapa tetangga dengan ramah, anak pun akan meniru kebiasaan baik tersebut.

Dan jangan lupa, mengajarkan kewajiban harus tetap seimbang dengan pemenuhan hak anak, seperti hak bermain, beristirahat, dan didengar pendapatnya. Keseimbangan inilah yang membentuk anak menjadi pribadi yang bahagia sekaligus bertanggung jawab.

Mengajarkan kewajiban anak di masyarakat adalah investasi berharga untuk masa depan Si Kecil. Dengan memahami tanggung jawabnya sejak dini, anak tumbuh menjadi pribadi yang peduli, disiplin, dan mampu hidup harmonis bersama orang lain.

Mulailah dari langkah kecil di rumah. Beri contoh, libatkan anak dalam kegiatan sederhana, dan sesuaikan dengan usianya. Ingat, proses ini butuh kesabaran, tapi hasilnya akan sangat berarti. (MB/WR/RF/Foto: Freepik)