Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Melihat kepala Si Kecil tumbuh lebih besar dari bayi-bayi seusianya memang bisa bikin Moms was-was. Wajar, kok. Naluri kita sebagai orang tua memang dirancang untuk peka terhadap hal-hal yang terasa "tidak biasa" pada buah hati.
Salah satu kondisi yang sering membuat orang tua khawatir adalah hidrosefalus. Kabar baiknya, Moms tidak sendirian dalam menghadapi ini. Banyak orang tua lain pernah berada di titik yang sama, mencari jawaban, dan akhirnya menemukan penanganan yang tepat setelah mengenali gejalanya sejak dini.
Apa itu hidrosefalus dan kenapa bisa terjadi pada bayi?
Hidrosefalus adalah kondisi ketika cairan serebrospinal (cairan otak) menumpuk di dalam rongga otak atau ventrikel, sehingga menekan jaringan otak dan menyebabkan kepala bayi membesar. Cairan otak sebenarnya diproduksi dan diserap tubuh secara terus-menerus untuk melindungi otak dari benturan dan menjaga tekanan di dalamnya tetap stabil. Namun, ketika proses produksi dan penyerapannya tidak seimbang, cairan pun menumpuk dan menimbulkan masalah.
Menurut data Kementerian Kesehatan RI, tercatat sekitar 18.000 anak mengalami hidrosefalus kongenital atau bawaan pada tahun 2013, seperti dilansir dari Universitas Gadjah Mada. Angka ini terus meningkat dari tahun ke tahun, salah satunya karena keterlambatan orang tua memeriksakan kondisi anaknya ke dokter.
Pada bayi, hidrosefalus umumnya disebabkan oleh dua faktor utama:
- Bawaan lahir (kongenital): Kelainan pembentukan otak, infeksi selama kehamilan seperti TORCH (Toxoplasma, Rubella, CMV, Herpes), atau gangguan genetik seperti Sindrom Dandy-Walker.
- Didapat (akuisita): Perdarahan otak akibat kelahiran prematur, infeksi seperti meningitis atau ensefalitis, atau tumor yang menghambat aliran cairan otak.
Baca juga: Hidrosefalus pada Bayi, Waspadai Gejala Awalnya, Moms!
Ciri-ciri hidrosefalus pada bayi baru lahir yang perlu dikenali sejak dini
Gejala hidrosefalus bisa bervariasi tergantung seberapa cepat cairan menumpuk. Namun, ada beberapa ciri hidrosefalus pada bayi baru lahir yang paling sering muncul dan patut Anda waspadai, yaitu:
- Lingkar kepala membesar sangat cepat, jauh melebihi grafik pertumbuhan normal untuk usianya.
- Ubun-ubun (fontanel) tampak menonjol dan terasa tegang saat disentuh.
- Kulit kepala tipis dan mengilap, dengan pembuluh darah vena yang mudah terlihat.
- Mata menatap ke bawah terus-menerus, kondisi yang dikenal sebagai "sunset eyes".
- Bayi menjadi rewel atau menangis dengan nada tinggi yang tidak biasa.
- Nafsu makan menurun atau kesulitan menyusu.
- Muntah berulang, kadang muncrat atau menyemprot.
- Mudah mengantuk atau tampak lesu sepanjang hari.
- Perkembangan motorik terlambat, seperti terlambat tengkurap, duduk, atau merangkak.
Jika Moms melihat kombinasi dari beberapa tanda ini, jangan tunggu lama untuk memeriksakannya ke dokter anak.
Ciri di kepala vs ciri perilaku pada hidrosefalus, apa bedanya?
Ciri-ciri hidrosefalus pada bayi sebenarnya bisa dikelompokkan menjadi dua kategori besar: perubahan fisik pada kepala, dan perubahan perilaku atau kondisi tubuh secara umum. Memahami perbedaan keduanya bisa membantu Moms mengenali gejala lebih cepat dan lebih spesifik.
Ciri di kepala berkaitan langsung dengan efek penumpukan cairan pada struktur tengkorak bayi, seperti pembesaran lingkar kepala yang cepat, ubun-ubun yang menonjol, serta kulit kepala yang menipis hingga pembuluh darah terlihat jelas. Perubahan ini biasanya paling mudah diamati karena bersifat visual.
Ciri perilaku, di sisi lain, mencerminkan bagaimana tekanan pada otak memengaruhi fungsi saraf dan aktivitas sehari-hari bayi. Contohnya termasuk mata yang menatap ke bawah, rewel berlebihan, muntah, mudah mengantuk, kejang, hingga penurunan kekuatan otot.
Kabar pentingnya, kedua kategori ciri ini sering kali muncul bersamaan pada bayi dengan hidrosefalus. Jika Moms hanya melihat satu tanda, misalnya bayi rewel tanpa disertai perubahan lingkar kepala, kemungkinan penyebabnya bisa berbeda. Namun, kombinasi antara perubahan fisik kepala dan perubahan perilaku adalah sinyal kuat yang sebaiknya segera dikonsultasikan ke dokter.
Baca juga: 7 Penyebab Bentuk Kepala Bayi Tidak Rata
Lingkar kepala bayi normal vs hidrosefalus, bagaimana membedakannya?
Salah satu cara paling praktis untuk mendeteksi hidrosefalus adalah dengan memantau lingkar kepala bayi secara rutin dan membandingkannya dengan standar pertumbuhan World Health Organization (WHO).
Berikut ini gambaran umum pertumbuhan lingkar kepala bayi normal.
- Saat lahir: sekitar 34,5 cm untuk bayi laki-laki dan 33,9 cm untuk bayi perempuan
- Usia 0–3 bulan: bertambah sekitar 2 cm per bulan
- Usia 3–6 bulan: bertambah sekitar 1 cm per bulan, mencapai rata-rata 42–43 cm
- Usia 7–12 bulan: bertambah sekitar 0,5 cm per bulan, hingga mencapai 45–46 cm di usia satu tahun.
Pada bayi dengan hidrosefalus, kenaikan lingkar kepala jauh melampaui angka-angka tersebut dalam waktu singkat, bahkan bisa melewati batas persentil 97 pada kurva pertumbuhan WHO. Perbedaan inilah yang membuat pengukuran lingkar kepala rutin di posyandu atau saat kontrol ke dokter anak menjadi sangat penting, bukan sekadar formalitas.
Kenapa deteksi dini hidrosefalus sangat penting bagi tumbuh kembang bayi?
Hidrosefalus yang tidak segera ditangani dapat menekan saraf otak dan menimbulkan efek jangka panjang berupa gangguan kecerdasan, gangguan kepribadian, epilepsi, keterlambatan tumbuh kembang, hingga kelemahan anggota tubuh. Pada kasus yang berat dan terlambat ditangani, kondisi ini bahkan bisa berujung pada koma.
Kabar baiknya, deteksi dini membuka jalan bagi penanganan yang jauh lebih efektif. Hidrosefalus umumnya ditangani melalui dua metode operasi:
- Pemasangan VP shunt: Prosedur menanamkan selang khusus untuk mengalirkan cairan otak berlebih ke rongga perut, agar mudah diserap tubuh melalui aliran darah.
- Endoscopic Third Ventriculostomy (ETV): Membuat lubang baru di rongga otak agar cairan bisa mengalir keluar, biasanya diterapkan pada kasus akibat penyumbatan.
Yang menenangkan, tindakan pemasangan shunt bahkan bisa dilakukan pada bayi yang baru berusia beberapa hari, dan selang yang tertanam di bawah kulit kepala tidak mengganggu aktivitas maupun kecerdasan anak di kemudian hari. Artinya, semakin cepat Moms mengenali gejalanya dan membawa Si Kecil ke dokter, semakin besar pula peluang tumbuh kembangnya berjalan optimal.
Cara mendeteksi dini hidrosefalus dan langkah yang harus dilakukan orang tua
Jika Moms mencurigai Si Kecil menunjukkan ciri-ciri hidrosefalus, berikut ini langkah-langkah yang bisa segera diambil.
- Amati dan catat gejala yang muncul. Perhatikan perubahan lingkar kepala, kondisi ubun-ubun, pola makan, hingga perilaku bayi seperti rewel atau muntah berulang.
- Segera konsultasikan ke dokter anak. Semakin cepat diperiksa, semakin cepat pula diagnosis dan penanganan bisa dilakukan.
- Ikuti pemeriksaan penunjang yang direkomendasikan. Dokter biasanya akan melakukan USG kepala (jika ubun-ubun masih terbuka), CT scan, atau MRI untuk memastikan diagnosis dan mengetahui penyebabnya.
- Rutin pantau lingkar kepala bayi. Catat hasil pengukuran di buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) setiap bulan pada usia 0–12 bulan, dan bandingkan dengan kurva pertumbuhan WHO.
Segera cari pertolongan medis darurat jika bayi menangis dengan suara melengking tidak biasa, kesulitan menyusu, muntah berkali-kali, enggan menggerakkan kepala, sesak napas, atau kejang.
Ciri-ciri hidrosefalus pada bayi memang bisa terasa menakutkan untuk dikenali, apalagi ketika menyangkut buah hati tercinta. Namun, semakin awal Moms mengenali tanda-tandanya, dari lingkar kepala yang membesar cepat, ubun-ubun yang menonjol, hingga perubahan perilaku bayi, semakin besar pula peluang Si Kecil mendapat penanganan yang tepat waktu. (MB/SW/RF/Foto: Magnific)
