Type Keyword(s) to Search
FAMILY & LIFESTYLE

Mitos dan Fakta Tentang Anak Terakhir Ketemu Anak Terakhir

Mitos dan Fakta Tentang Anak Terakhir Ketemu Anak Terakhir

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Moms & Dads, apakah Anda berdua merupakan anak terakhir dalam keluarga? Atau Moms punya kawan atau keluarga yang sedang dekat dengan seseorang dan sama-sama berstatus sebagai anak bungsu di keluarga? Mungkin saja tebersit pertanyaan: Apakah hubungan anak terakhir ketemu anak terakhir ini punya peluang baik dalam pernikahan? Pertanyaan ini sering muncul karena banyak orang tua atau sesepuh keluarga masih memegang mitos adat Jawa seputar pasangan sesama anak bungsu.

Di sisi lain, ada pandangan psikologi tentang teori urutan kelahiran yang menjelaskan karakter anak bungsu secara lebih objektif. Nah, di artikel ini, MB akan mengupas tuntas apa sebenarnya makna anak terakhir menikah dengan anak terakhir, bagaimana kelebihan dan tantangannya, sampai mitos adat Jawa yang melingkupinya.

Apa maksud anak terakhir ketemu anak terakhir?

Istilah anak terakhir ketemu anak terakhir merujuk pada hubungan atau pernikahan antara dua orang yang sama-sama menyandang posisi anak bungsu di keluarga masing-masing. Istilah "anak terakhir" dan "anak bungsu" di artikel ini digunakan secara bergantian untuk merujuk pada makna yang sama, yaitu anak yang lahir paling akhir dalam urutan saudara kandung.

Fenomena anak terakhir menikah dengan anak terakhir ini cukup sering dibicarakan, terutama di kalangan yang masih memegang kepercayaan adat Jawa. Namun, dari sisi psikologi, kombinasi ini sebenarnya menarik untuk dibahas karena dua anak bungsu biasanya memiliki pola asuh dan pengalaman masa kecil yang mirip, misalnya sama-sama terbiasa dimanjakan atau diperhatikan lebih oleh keluarga.

Karakter anak bungsu menurut teori urutan kelahiran

Teori urutan kelahiran pertama kali dipopulerkan oleh Alfred Adler, seorang psikolog asal Austria. Menurut Adler, yang menentukan kepribadian seseorang bukan sekadar nomor urut kelahirannya, melainkan bagaimana anak tersebut mengalami dan memaknai posisinya dalam keluarga.

Psikolog Kevin Leman, penulis buku The New Birth Order Book, juga kerap membahas karakter anak bungsu berdasarkan pengalaman konselingnya selama bertahun-tahun. Menurut Leman, anak bungsu cenderung berorientasi pada hubungan sosial, hangat, ramah, suka menjadi pusat perhatian, dan cenderung impulsif. Anak bungsu juga sering digambarkan humoris, santai, suka bermain, dan punya jiwa petualang.

Karena sama-sama tumbuh dengan pengalaman "menjadi yang termuda" di rumah, dua anak bungsu yang berpasangan biasanya punya pemahaman mendalam satu sama lain dan saling mendukung secara emosional.

Namun, penting untuk Moms ingat: Teori urutan kelahiran ini sifatnya kecenderungan, bukan aturan baku. Studi Rohrer, Egloff, dan Schmukle yang terbit di jurnal The Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) bahkan menyimpulkan bahwa urutan kelahiran tidak memiliki efek jangka panjang terhadap sifat kepribadian secara luas. Artinya, karakter seseorang tetap dipengaruhi banyak faktor lain, seperti pola asuh, lingkungan, dan pengalaman hidup masing-masing.

Kelebihan dan tantangan pasangan sesama anak terakhir

Setiap kombinasi pasangan tentu punya sisi positif dan tantangannya sendiri, termasuk pasangan anak terakhir menikah dengan anak terakhir. Berikut ini rangkumannya.

Kelebihan pasangan sesama anak bungsu

Menurut beberapa riset, pasangan sesama anak bungsu cenderung kompak, minim konflik besar, serta hangat dan saling mendukung secara emosional. Karena sama-sama fleksibel dan tidak keras kepala, hubungan ini biasanya terasa ringan dan menyenangkan untuk dijalani sehari-hari. Rasa humor yang tinggi juga membuat suasana rumah tangga jadi lebih santai.

Tantangan yang perlu diwaspadai pasangan sesama anak bungsu

Di balik kelebihannya, pasangan anak bungsu juga punya tantangan tersendiri. Karena sama-sama terbiasa diperhatikan dan "dilayani" sejak kecil, keduanya bisa menghadapi ketidakseimbangan dalam pengambilan keputusan rumah tangga. Psikolog Kevin Leman bahkan menyebut potensi "chaos" pada pasangan sesama bungsu, seperti kesulitan mengatur keuangan, saling melempar tanggung jawab (passing the buck), hingga kebiasaan selective listening atau mendengarkan separuh-separuh saat pasangan berbicara.

Selain itu, sifat yang cenderung kekanak-kanakan dan suka bercanda perlu diimbangi dengan kedewasaan dalam menghadapi tantangan rumah tangga yang sesungguhnya, seperti pengelolaan keuangan atau pembagian tugas domestik.

Sebagai perbandingan, Kevin Leman dalam pengalaman konselingnya menyebut kombinasi anak pertama menikah dengan anak terakhir sebagai salah satu pasangan terbaik, setelah kombinasi anak tunggal dengan anak bungsu.

Leman mengutip sebuah studi atas 3.000 keluarga yang menemukan peluang pernikahan bahagia meningkat saat anak sulung berpasangan dengan anak bungsu. Pada kombinasi ini, anak sulung membantu pasangan anak bungsunya lebih teratur dan punya tujuan jelas, sementara anak bungsu membantu pasangan anak sulungnya untuk lebih santai dan tidak terlalu kaku.

Mitos pernikahan anak terakhir dengan anak terakhir dalam adat Jawa

Dalam Primbon Jawa, pernikahan sesama anak bungsu dipercaya dapat membawa kemalangan atau ketidakberuntungan bagi hubungan. Mitos anak terakhir menikah dengan anak terakhir menurut adat Jawa ini umumnya dikaitkan dengan nilai keharmonisan keluarga yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Jawa.

Anak bungsu dalam adat Jawa sering dianggap sebagai sosok penjaga keharmonisan keluarga, termasuk yang diharapkan merawat orang tua di hari tua. Karena itu, pernikahan sesama anak bungsu dikhawatirkan dapat mengganggu kedamaian keluarga besar, mengingat kedua pasangan sama-sama membawa tanggung jawab serupa dari keluarga masing-masing.

Mitos ini juga sering dikaitkan dengan sifat anak bungsu yang dianggap masih manja dan kerap belum terbiasa mengambil keputusan sendiri, sehingga dianggap membutuhkan bimbingan dari sosok yang lebih dewasa atau mandiri dalam pernikahan.

Meski begitu, penting untuk diketahui bahwa mitos ini tidak memiliki dasar ilmiah. Seperti dijelaskan, pernikahan tidak dapat diprediksi hanya dari urutan kelahiran semata. Kenyataannya, tidak semua pernikahan sesama anak bungsu berakhir buruk—semuanya kembali pada kesiapan, komitmen, dan cara kedua pasangan menjalani hubungan mereka.

Baca juga: Jodoh Idaman? Ini Fakta Anak Kedua Menikah dengan Anak Kedua

Tips membangun rumah tangga harmonis sesama anak bungsu

Jika pasangan sama-sama anak bungsu, ada beberapa langkah praktis yang bisa dicoba agar rumah tangga tetap harmonis, yakni:

1. Bagi tugas rumah tangga dengan jelas

Kevin Leman menyarankan pasangan sesama bungsu untuk sejak awal memutuskan siapa yang membayar tagihan, berbelanja, memasak, mengatur jadwal sosial, hingga memimpin pola disiplin anak. Kejelasan peran ini membantu menghindari kebingungan dan saling lempar tanggung jawab.

2. Praktikkan active listening

Karena pasangan sesama bungsu rentan mengalami selective listening, cobalah saling menatap saat berbicara dan mengulangi apa yang disampaikan pasangan sebelum menanggapi. Cara ini membantu komunikasi jadi lebih bermakna.

3. Jadwalkan evaluasi rutin

Buat waktu khusus, misalnya rapat mingguan, untuk membahas anggaran keluarga, tanggal penting, atau hal lain yang perlu diputuskan bersama. Ini membantu kedua pasangan sama-sama bertanggung jawab atas keputusan rumah tangga.

4. Pastikan kebutuhan emosional seimbang

Karena sama-sama terbiasa jadi pusat perhatian sejak kecil, penting bagi Moms dan pasangan untuk saling memberi ruang menjadi sorotan, bukan hanya salah satu pihak saja.

5. Jaga humor, tetapi saling menghargai

Tertawa bersama itu sehat untuk hubungan, asal bukan saling menertawakan. Sikap santai yang jadi ciri khas anak bungsu bisa jadi kekuatan besar, selama tetap diimbangi rasa hormat satu sama lain.

6. Beri ruang untuk berkembang bersama

Ingat bahwa urutan kelahiran hanyalah salah satu faktor yang membentuk kepribadian, bukan penentu mutlak. Fokuslah pada komunikasi terbuka dan komitmen nyata untuk saling mendukung, bukan pada label "anak bungsu" semata.

Baca juga: 5 Bentuk Komitmen dalam Pernikahan yang Bisa Diterapkan

Pada akhirnya, baik anak terakhir ketemu anak terakhir maupun kombinasi urutan kelahiran lainnya, tidak ada jaminan pasti soal keberhasilan sebuah pernikahan. Seperti kata Kevin Leman, semua generalisasi urutan kelahiran hanyalah "indikator, bukan aturan"—penunjuk arah, bukan jawaban pasti.

Keduanya tetap bisa membangun rumah tangga yang hangat dan harmonis, asalkan ada komitmen untuk saling mendukung, komunikasi yang terbuka, dan kemauan untuk terus belajar bersama. (MB/SW/RF/Foto: Pexels/Oneprophoto Photo & Cinema)