Type Keyword(s) to Search
BUMP TO BIRTH

Efek Samping Steril pada Wanita, Apa Saja yang Perlu Diketahui?

Efek Samping Steril pada Wanita, Apa Saja yang Perlu Diketahui?

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Bagi sebagian wanita, steril bisa memberikan ketenangan karena tidak perlu lagi khawatir tentang kehamilan yang tidak direncanakan. Namun, karena metode ini ditujukan untuk mencegah kehamilan secara permanen, efek samping steril pada wanita perlu dipertimbangkan dengan matang.

Lantas, apa saja efek samping steril pada wanita? Apakah tubektomi bisa mengganggu hormon, mengubah siklus menstruasi, atau memengaruhi kondisi psikologis? Yuk, pahami penjelasannya berikut ini.

Apa itu steril pada wanita?

Sterilisasi wanita adalah metode kontrasepsi permanen yang dilakukan dengan menutup, memotong, atau mengangkat tuba falopi, yaitu saluran yang menghubungkan ovarium dengan rahim. Prosedur ini bertujuan mencegah sperma bertemu dengan sel telur sehingga kehamilan tidak terjadi.

Tubektomi dapat dilakukan melalui operasi laparoskopi dengan sayatan kecil atau minilaparotomi, bergantung pada kondisi pasien dan waktu pelaksanaannya. Pada sebagian wanita, prosedur ini juga bisa dilakukan setelah melahirkan atau bersamaan dengan operasi caesar jika sudah direncanakan dan dinilai sesuai oleh dokter.

Menurut National Health Service (NHS), layanan kesehatan publik Inggris, sterilisasi wanita memiliki efektivitas lebih dari 99% dalam mencegah kehamilan. Meski begitu, tidak ada metode yang sepenuhnya bebas dari kemungkinan kegagalan.

Efek samping jangka pendek steril pada wanita setelah prosedur

1. Nyeri perut dan kram

Moms mungkin merasakan nyeri atau kram di bagian perut setelah prosedur. Keluhan ini dapat berkaitan dengan luka operasi dan biasanya berangsur membaik selama masa pemulihan. Dokter dapat memberikan obat pereda nyeri yang sesuai untuk membantu mengurangi ketidaknyamanan.

2. Perut kembung atau nyeri di bahu

Pada operasi laparoskopi, dokter memasukkan gas ke dalam rongga perut agar organ lebih mudah terlihat selama prosedur. Gas tersebut dapat menimbulkan sensasi kembung atau nyeri yang menjalar hingga bahu setelah operasi. Keluhan ini umumnya membaik seiring proses pemulihan.

3. Mual dan pusing

Sebagian wanita mengalami mual atau pusing setelah operasi, terutama sebagai efek anestesi atau obat yang digunakan selama prosedur. Keluhan biasanya berkurang setelah beberapa waktu, tetapi Moms sebaiknya memberi tahu tenaga medis jika mual berlangsung lama atau disertai muntah berulang.

4. Perdarahan ringan atau bercak darah

Bercak darah dari vagina dapat muncul pada sebagian wanita setelah prosedur, terutama jika sterilisasi dilakukan berdekatan dengan persalinan atau tindakan ginekologis lainnya. Namun, perdarahan yang banyak, semakin berat, atau disertai nyeri hebat bukan sesuatu yang sebaiknya diabaikan. Segera hubungi dokter jika kondisi tersebut terjadi.

5. Luka operasi terasa nyeri

Area sayatan mungkin terasa nyeri, sedikit bengkak, atau memar selama masa pemulihan. Moms perlu menjaga luka tetap bersih dan mengikuti petunjuk perawatan dari dokter. Luka yang semakin merah, membengkak, terasa sangat nyeri, atau mengeluarkan nanah perlu diperiksakan karena dapat menandakan infeksi.

Tidak semua wanita mengalami keluhan di atas. Sebagian besar prosedur sterilisasi berjalan tanpa komplikasi serius, tetapi risiko seperti infeksi, perdarahan, cedera organ di sekitar area operasi, dan pembekuan darah tetap perlu dipahami.

Efek jangka pendek & efek jangka panjang steril

Efek jangka pendek umumnya berkaitan dengan proses operasi dan pemulihan tubuh. Sementara itu, hal yang perlu diperhatikan dalam jangka panjang adalah sifat permanen kontrasepsi, kemungkinan kegagalan prosedur, serta bagaimana keputusan tersebut sesuai dengan rencana hidup dan keinginan reproduksi Moms.

Dampak psikologis setelah steril 

Efek samping steril pada wanita tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Keputusan untuk mengakhiri kemungkinan kehamilan secara permanen juga dapat berkaitan dengan perasaan, pengalaman hidup, dan harapan seseorang terhadap masa depannya.

Respons setiap wanita tentu berbeda. Ada yang merasa lebih tenang karena tidak lagi khawatir mengalami kehamilan yang tidak direncanakan, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan keputusan tersebut.

1. Merasa lega setelah tidak lagi khawatir tentang kehamilan

Bagi wanita yang sudah yakin tidak ingin hamil lagi, tubektomi dapat memberikan rasa lega. Mereka tidak perlu mengandalkan metode kontrasepsi yang harus digunakan secara rutin untuk mencegah kehamilan. Perasaan ini merupakan salah satu alasan seseorang memilih kontrasepsi permanen.

2. Mengalami penyesalan di kemudian hari

Sebagian wanita mungkin mengubah pandangan tentang keinginan memiliki anak setelah menjalani sterilisasi. Perubahan situasi keluarga, hubungan, atau prioritas hidup dapat memengaruhi perasaan terhadap keputusan yang sudah dibuat.

3. Merasa cemas atau memiliki perasaan campur aduk

Moms mungkin merasa cemas menjelang operasi atau memiliki perasaan yang berbeda-beda setelah prosedur. Perasaan tersebut tidak selalu berarti keputusan yang diambil keliru, tetapi tetap layak diperhatikan jika mengganggu aktivitas sehari-hari.

Tanda komplikasi steril yang harus segera diperiksakan ke dokter

Sebagian keluhan setelah tubektomi merupakan bagian dari pemulihan. Namun, Moms perlu mengenali tanda yang dapat menunjukkan infeksi, perdarahan, pembekuan darah, atau komplikasi lainnya.

1. Nyeri perut hebat atau semakin parah

Nyeri yang tidak membaik, semakin berat, atau disertai muntah berulang perlu segera dievaluasi. Jangan menganggapnya sebagai keluhan biasa setelah operasi, terutama jika kondisi tubuh juga terasa semakin lemah.

2. Demam atau tanda infeksi pada luka

Demam, menggigil, luka yang semakin merah atau bengkak, serta keluarnya nanah dapat menandakan infeksi. Hubungi dokter segera untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.

3. Perdarahan yang banyak atau tidak biasa

Perdarahan yang semakin deras atau disertai pusing berat dan lemas perlu mendapat pertolongan medis. Jangan menunggu sampai keluhan memburuk sebelum mencari bantuan.

4. Sesak napas atau nyeri dada

Sesak napas yang muncul tiba-tiba, nyeri dada, batuk berdarah, atau jantung berdebar sangat cepat dapat menandakan komplikasi serius, termasuk pembekuan darah. Kondisi ini membutuhkan pertolongan darurat.

5. Salah satu kaki membengkak dan terasa nyeri

Pembengkakan, rasa hangat, dan nyeri pada satu kaki setelah operasi dapat menjadi tanda pembekuan darah. Jangan memijat area tersebut atau menunda pemeriksaan; segera cari pertolongan medis.

6. Terlambat menstruasi atau muncul gejala kehamilan setelah tubektomi

Walaupun jarang, kehamilan masih mungkin terjadi setelah sterilisasi. Jika disertai nyeri perut bagian bawah, perdarahan vagina, nyeri bahu, pusing berat, atau pingsan, segera ke IGD untuk menyingkirkan kemungkinan kehamilan ektopik.

Tanda-tanda tersebut perlu diperhatikan meskipun komplikasi serius setelah sterilisasi tergolong jarang. Moms juga sebaiknya mengikuti jadwal kontrol dan petunjuk pemulihan yang diberikan oleh dokter setelah prosedur.

Hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan steril

Sebelum menjalani tubektomi, ada beberapa hal yang dapat Moms diskusikan dengan dokter agar keputusan dibuat dengan informasi yang cukup.

1. Keinginan memiliki anak di masa depan

Pertimbangkan apakah Moms benar-benar ingin mengakhiri kemungkinan kehamilan secara permanen. Ingat, perubahan keadaan hidup dapat mengubah keinginan seseorang, sedangkan pembalikan tubektomi tidak selalu memungkinkan atau berhasil.

2. Pilihan kontrasepsi lain

Tanyakan mengenai IUD, implan, dan metode kontrasepsi lain yang sesuai dengan kebutuhan serta kondisi kesehatan Moms. Memahami alternatif membantu Moms membandingkan manfaat, risiko, dan tingkat kenyamanan setiap metode.

3. Risiko operasi dan kondisi kesehatan

Sampaikan riwayat penyakit, alergi obat, penggunaan obat rutin, serta pengalaman operasi sebelumnya kepada dokter. Informasi tersebut membantu tim medis menilai risiko dan menentukan pendekatan yang sesuai.

4. Alasan memilih sterilisasi

Pastikan keputusan dibuat atas keinginan sendiri dan bukaan karena tekanan pasangan, keluarga, atau keadaan yang membuat Moms merasa tidak punya pilihan. Jika masih ragu, Moms berhak meminta waktu untuk mempertimbangkan keputusan tersebut.

5. Dukungan selama pemulihan

Diskusikan berapa lama waktu pemulihan yang mungkin diperlukan, kapan dapat kembali bekerja atau beraktivitas, serta bantuan yang dibutuhkan di rumah. Persiapan ini dapat membantu proses pemulihan terasa lebih nyaman.

Keputusan menjalani tubektomi sebaiknya dibuat secara sukarela setelah berkonsultasi dengan dokter, memahami alternatif yang tersedia, dan mempertimbangkan rencana reproduksi pribadi. Dengan informasi yang memadai, Moms dapat memilih metode kontrasepsi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan keinginan sendiri. (MB/RA/RF/Foto: Magnific)