Type Keyword(s) to Search
KID

Mengenal Sekolah Khusus Perempuan, Panduan untuk Orang Tua

Mengenal Sekolah Khusus Perempuan, Panduan untuk Orang Tua

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Memilih sekolah untuk anak selalu menjadi keputusan besar, ya, Moms. Apalagi ketika pilihannya mengarah ke jenis sekolah tertentu, seperti sekolah khusus perempuan. Mungkin Moms pernah mendengar cerita dari teman atau keluarga tentang pengalaman mereka bersekolah di sekolah putri, atau justru baru pertama kali mempertimbangkannya untuk anak perempuan Anda.

Tidak sedikit orang tua di Indonesia yang mulai melirik sekolah khusus perempuan karena dianggap bisa memberikan lingkungan belajar yang lebih fokus dan suportif bagi anak perempuan untuk berkembang. Berikut ini penjelasan tentang sekolah khusus perempuan di Indonesia, mulai dari model pendidikannya, pilihan sekolah, hingga perbandingannya dengan sekolah campuran.

Mengenal sekolah khusus perempuan dan model pendidikannya

Sekolah khusus perempuan, atau sering disebut juga sekolah putri, adalah lembaga pendidikan yang hanya menerima siswi perempuan di seluruh jenjangnya. Di Indonesia, sekolah negeri umumnya bersifat campuran, sehingga mayoritas sekolah khusus perempuan berstatus swasta dan sering kali berbasis keagamaan, baik Katolik, Kristen, maupun Islam.

Salah satu contoh sekolah putri dengan sejarah panjang adalah SMA Santa Ursula di Jakarta Pusat. Sekolah Katolik putri ini berlokasi di kawasan Lapangan Banteng/Sawah Besar, dan akarnya dapat ditelusuri hingga HBS Princess Juliana yang didirikan pada tahun 1906. Santa Ursula kini juga memiliki jenjang TK hingga SMA, sehingga orang tua bisa memilih untuk menyekolahkan anak perempuannya di sana sejak usia dini hingga lulus SMA.

Di luar sekolah berbasis Katolik dan Kristen, Indonesia juga memiliki tradisi pendidikan Islam khusus perempuan yang kuat. Diniyyah Puteri Padang Panjang di Sumatra Barat, misalnya, didirikan pada 1923 oleh Rahmah El Yunusiyyah, seorang pelopor pendidikan perempuan Muslim di Indonesia. Ada pula pesantren putri seperti Pondok Modern Darussalam Gontor Putri yang menawarkan sistem pendidikan berasrama (boarding) dengan penekanan pada pendidikan agama.

Model pendidikan di sekolah khusus perempuan umumnya tetap mengikuti kerangka kurikulum Nasional, seperti Kurikulum Merdeka yang kini diterapkan di banyak sekolah di Indonesia. Bedanya, sekolah swasta atau berbasis agama biasanya menambahkan muatan khas, misalnya pendidikan karakter, pembelajaran agama, bahasa asing, atau program internasional yang disesuaikan dengan visi sekolah tersebut.

Baca juga: Perbedaan Sekolah Negeri dan Swasta: Mana yang Cocok untuk Si Kecil?

Pilihan sekolah putri di Indonesia berdasarkan jenjang dan lokasi

Bagi Moms yang tinggal di Jakarta, ada beberapa pilihan sekolah putri di Jakarta yang bisa menjadi pertimbangan. SMA Santa Ursula, seperti disebutkan sebelumnya, merupakan salah satu sekolah Katolik putri tertua dan paling dikenal di Jakarta Pusat, dengan jenjang berkelanjutan dari TK hingga SMA.

Contoh lain adalah SMA Tarakanita 1 Jakarta, yang secara eksplisit membuka pendaftaran khusus "siswi" dan menjalin kerja sama sister school dengan Harima High School di Jepang. Program pertukaran internasional semacam ini bisa menjadi nilai tambah bagi Moms yang ingin anak perempuannya memiliki wawasan global sejak di bangku sekolah.

Di luar Jakarta, pesantren putri seperti Diniyyah Puteri Padang Panjang dan Pondok Modern Darussalam Gontor Putri menjadi opsi bagi keluarga yang menginginkan pendidikan berbasis agama dengan sistem asrama. Model boarding school ini biasanya cocok untuk anak yang sudah cukup mandiri dan keluarga yang menginginkan pembinaan karakter yang lebih intensif.

Karena setiap sekolah memiliki kebijakan penerimaan, biaya, dan akreditasi yang bisa berubah dari waktu ke waktu, sebaiknya Moms memastikan status terkini, jenjang yang tersedia, serta jalur penerimaan langsung ke sekolah bersangkutan atau melalui platform resmi Kemendikdasmen seperti Dapodik atau Sekolah Kita.

Perbedaan sekolah khusus perempuan dan sekolah campuran

Apakah sekolah khusus perempuan benar-benar lebih baik dibandingkan sekolah campuran? Jawabannya tidak sesederhana itu, Moms.

Menurut riset yang dipublikasikan di jurnal Psychological Bulletin, perbandingan antara sekolah satu jenis kelamin dan sekolah campuran menunjukkan bahwa keunggulan akademik sekolah khusus perempuan cenderung sangat kecil atau bahkan hilang ketika faktor-faktor seleksi siswa, seperti latar belakang keluarga dan kemampuan akademik awal, dikendalikan secara statistik.

Artinya, kualitas sekolah lebih banyak ditentukan oleh faktor guru, kurikulum, dan kecocokan karakter anak, bukan semata-mata karena status sekolah khusus perempuan dan laki-laki yang dipisah.

Dengan kata lain, sekolah khusus perempuan dan laki-laki yang dipisah bukanlah jaminan hasil akademik yang lebih unggul. Yang lebih menentukan adalah bagaimana sekolah tersebut mengelola proses belajar mengajarnya sehari-hari.

Baca juga: Anak Sulit Beradaptasi di Sekolah? Ini Penyebab dan Solusinya

Pertimbangan kurikulum, lingkungan sosial, dan ekstrakurikuler

Saat mempertimbangkan sekolah khusus perempuan di Indonesia, ada beberapa hal praktis yang sebaiknya Moms cek lebih dulu.

  1. Kurikulum. Pastikan Moms menanyakan kurikulum apa yang digunakan sekolah tersebut dan apakah ada muatan tambahan di luar kurikulum nasional. Beberapa sekolah berbasis agama menambahkan pelajaran tahfiz, bahasa Arab, atau katekese, sementara sekolah dengan program internasional mungkin menawarkan kelas berbahasa Inggris atau sister school seperti yang dilakukan SMA Tarakanita 1 Jakarta.
  2. Lingkungan sosial. Beberapa anak merasa lebih nyaman dan percaya diri berada di lingkungan sesama perempuan, terutama pada masa remaja awal yang penuh perubahan. Namun, ada juga anak yang justru belajar lebih baik dalam interaksi sosial yang beragam. Mengenal karakter anak sendiri bisa menjadi kunci yang Anda butuhkan, Moms.
  3. Ekstrakurikuler. Cek apakah sekolah menawarkan kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai minat anak, mulai dari seni, olahraga, hingga program pertukaran pelajar. Program sister school seperti yang dijalin SMA Tarakanita 1 Jakarta dengan Harima High School di Jepang bisa menjadi contoh ekstrakurikuler bernilai tambah yang memperluas wawasan anak.

Jangan lupa juga untuk menanyakan langsung ke pihak sekolah mengenai biaya pendidikan, akreditasi, serta jalur penerimaan siswa baru, karena informasi ini bisa berbeda dan berubah dari tahun ke tahun.

Tips membantu anak memilih sekolah yang sesuai kebutuhannya

Setiap anak itu unik, dan begitu pula kebutuhan pendidikannya. Berikut ini beberapa tips yang bisa Moms terapkan saat mendampingi anak memilih sekolah.

  1. Ajak anak berdiskusi sejak awal. Tanyakan pada anak bagaimana perasaannya tentang bersekolah di lingkungan khusus perempuan atau campuran. Pendapat anak penting untuk didengar, terutama jika usianya sudah cukup untuk memahami pilihan tersebut.
  2. Kunjungi sekolah secara langsung. Jika memungkinkan, ajak anak mengunjungi sekolah yang menjadi kandidat untuk merasakan suasana belajarnya secara langsung, bertemu guru, dan melihat fasilitas yang tersedia.
  3. Pertimbangkan kecocokan karakter anak. Anak yang cenderung pemalu mungkin akan lebih nyaman di lingkungan yang lebih kecil dan fokus, sementara anak yang extrovert mungkin menikmati keberagaman sosial di sekolah campuran.
  4. Verifikasi informasi resmi. Pastikan Moms mengecek status akreditasi, kurikulum, dan jalur penerimaan langsung melalui situs resmi sekolah atau platform Kemendikdasmen, bukan hanya berdasarkan informasi dari mulut ke mulut.

Memilih antara sekolah khusus perempuan dan sekolah campuran bukanlah sesuatu yang harus diputuskan secara cepat. Setiap keluarga punya pertimbangan masing-masing, dan tidak ada pilihan yang secara otomatis lebih unggul dibandingkan yang lain.

Yang terpenting, Moms sudah melakukan riset, mengajak anak berdiskusi, dan memverifikasi informasi langsung dari sumber tepercaya. Dengan begitu, keputusan yang diambil benar-benar mencerminkan kebutuhan dan karakter unik anak perempuan Anda. (MB/SW/RF/Foto: Pexels/Muhaimin Abdul Aziz)