Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Menjaga kesehatan bibir anak praremaja tetap sehat kadang terasa lebih rumit daripada kelihatannya. Di usia 12 tahun, anak mulai lebih mandiri memilih produk perawatan diri sendiri, termasuk pelembap bibir anak sekolah yang mereka bawa ke tas. Moms bisa membantunya memilih lip balm untuk anak 12 tahun yang bagus.
Sebagai orang tua, wajar jika Moms ingin tahu bahan apa yang aman, kapan sebenarnya lip balm dibutuhkan, dan bagaimana cara memilihnya tanpa membuat bibir anak justru makin bermasalah.
Kabar baiknya, menemukan lip balm untuk bibir kering anak yang tepat tidak harus rumit. Yang penting adalah memahami kandungan yang disarankan, kandungan yang sebaiknya dihindari, serta kapan sebenarnya kebiasaan menjilat bibir perlu dihentikan dengan cara yang lembut.
Kapan anak usia 12 tahun membutuhkan lip balm?
Bibir anak membutuhkan perlindungan ekstra saat cuaca kering atau dingin, karena menurut Cleveland Clinic, bagian merah bibir tidak memiliki kelenjar minyak sendiri dan hanya mendapat kelembapan dari sumber luar seperti air liur. Artinya, bibir jauh lebih rentan kering dibandingkan kulit wajah pada umumnya.
Tanda-tanda umum anak butuh lip balm antara lain bibir terasa kaku, mulai mengelupas, atau tampak pecah-pecah di sudutnya. American Academy of Dermatology (AAD) juga menyarankan pemakaian lip balm ber-SPF 30 atau lebih sebelum anak beraktivitas di luar ruangan, mengingat paparan sinar matahari bisa memperparah kekeringan bibir.
Selain itu, kebiasaan anak sekolah yang sering berada di ruangan ber-AC atau bermain di luar saat cuaca panas membuat lip balm menjadi perlindungan harian yang praktis. AAD menganjurkan pemakaian beberapa kali sehari dan sebelum tidur agar kelembapan bibir tetap terjaga sepanjang hari.
Baca juga: Rekomendasi Skincare yang Aman untuk Anak 12 Tahun ke Atas
Kandungan lip balm yang perlu diperhatikan untuk anak
Memilih lip balm aman untuk anak 12 tahun dimulai dari membaca daftar bahan pada kemasan. AAD merekomendasikan mencari kandungan seperti petrolatum, mineral oil, dan shea butter karena sifatnya yang melembapkan tanpa mengiritasi bibir.
Di sisi lain, ada beberapa bahan yang sebaiknya dihindari. AAD mencantumkan camphor, menthol, phenol, dan salicylic acid sebagai bahan yang justru bisa memperparah bibir kering dan pecah-pecah. Bahan-bahan ini memang memberi sensasi "segar" di awal, tetapi efeknya bisa membuat bibir semakin kering dalam jangka panjang.
Pewangi dan perisa juga patut diwaspadai. Dr. Caroline Mann dari Washington University School of Medicine, St. Louis, menjelaskan bahwa sebagian orang tidak tahan terhadap pewangi, perisa, dan pengawet dalam lip balm, sehingga bibir bisa terasa perih atau justru memburuk setelah pemakaian.
Bahan lain yang perlu diwaspadai termasuk lanolin (dari bulu domba, kadang tertulis sebagai wool alcohols atau wool wax), formaldehida sebagai pengawet, serta oxybenzone yang merupakan tabir surya kimia—ketiganya berpotensi memicu reaksi alergi. Reaksi alergi ini digerakkan oleh sistem imun tubuh, bisa muncul kapan saja, dan terkadang bertahan hingga berbulan-bulan.
Pilihan jenis lip balm untuk bibir kering dan pecah-pecah
Untuk bibir yang sudah telanjur kering dan pecah-pecah, lip balm berbahan dasar petroleum atau petrolatum murni sering menjadi pilihan paling aman. Dr. Jenna Lester, dermatolog di UCSF Health, menyebutkan bahwa lip balm berfungsi sebagai pelindung terhadap angin dingin sekaligus membantu mengunci kelembapan alami bibir.
Jika anak memiliki bibir sensitif atau pernah mengalami iritasi sebelumnya, pilih lip balm bebas pewangi berbasis petrolatum. Jenis ini merupakan pilihan teraman untuk bibir yang mudah bereaksi terhadap bahan tambahan.
Selain memilih produk yang tepat, ada cara pendukung lain yang bisa dilakukan di rumah: menutup bibir anak dengan syal saat cuaca dingin, menggunakan humidifier di dalam ruangan, dan memastikan anak minum air putih yang cukup sepanjang hari. Kombinasi ini membantu menjaga kelembapan bibir dari luar maupun dalam.
Kriteria memilih: pilih lip balm ber-SPF jika anak sering beraktivitas di luar ruangan pada siang hari; pilih lip balm bebas pewangi berbasis petrolatum jika bibir anak mudah iritasi atau sensitif; dan pertimbangkan humidifier tambahan jika kekeringan bibir terjadi terutama saat musim dingin atau udara kering di dalam rumah.
Baca juga: Cara Mengatasi Bibir Pecah-Pecah Secara Alami
Cara membandingkan pelembap bibir berwarna dan tanpa pewarna
Banyak anak usia 12 tahun tertarik pada lip balm berwarna karena tampilannya yang lucu dan terasa seperti produk "anak besar". Namun, dari sisi kandungan, lip balm berwarna umumnya memiliki lebih banyak komponen tambahan dibandingkan lip balm tanpa pewarna—termasuk kemungkinan pewangi, perisa, atau pengawet tambahan.
Semakin banyak komponen dalam suatu produk, semakin besar pula kemungkinan munculnya bahan yang memicu reaksi pada bibir sensitif. Sebaliknya, lip balm tanpa pewarna dan tanpa pewangi cenderung lebih sederhana komposisinya, sehingga risiko iritasinya pun lebih kecil.
Pilih lip balm tanpa pewarna jika anak baru pertama kali mencoba produk tertentu atau memiliki riwayat bibir sensitif. Pilih lip balm berwarna hanya jika anak sudah terbiasa memakai produk serupa tanpa keluhan, dan pastikan tetap memeriksa daftar bahannya terlebih dahulu.
Sebagai langkah tambahan, lakukan "open application test"—mengoleskan produk pada area kulit kecil seperti lipatan siku bagian dalam, dua kali sehari selama seminggu. Jika muncul kemerahan atau kekeringan di area tersebut, kemungkinan ada reaksi alergi dan pemakaian sebaiknya dihentikan.
Cara memakai lip balm serta kapan perlu berkonsultasi dengan dokter
Cara memakai lip balm sebenarnya sederhana: Oleskan tipis dan merata beberapa kali sehari, terutama sebelum anak keluar rumah dan sebelum tidur malam. Pemakaian rutin ini membantu menjaga kelembapan bibir sepanjang hari, sesuai anjuran AAD.
Satu kebiasaan yang perlu diperhatikan adalah menjilat bibir. AAD menjelaskan bahwa menjilat bibir memang terasa melegakan sesaat, tetapi justru memperparah kekeringan karena air liur yang menguap akan menarik lebih banyak kelembapan dari bibir.
Kapan sebaiknya Moms membawa anak ke dokter? Anda disarankan berkonsultasi dengan dokter anak jika bibir anak sampai retak atau berdarah meski sudah rutin memakai lip balm. Begitu pula jika bibir anak tetap terasa perih setelah mengurangi pemakaian lip balm atau mengganti produk, sebaiknya segera periksakan ke dokter kulit untuk memastikan tidak ada reaksi alergi yang lebih serius.
Merawat bibir anak usia 12 tahun sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan, asal Moms tahu apa yang harus dicari dan apa yang harus dihindari pada kemasan produk. Mulai dari memilih lip balm aman untuk anak 12 tahun dengan kandungan sederhana, menghindari bahan pemicu iritasi, hingga mengenali kapan saatnya berkonsultasi ke dokter.
Yang terpenting, jadikan momen memilih lip balm bersama anak sebagai kesempatan untuk mengajarkan kebiasaan membaca label produk sejak dini. Kebiasaan sederhana ini akan terus berguna seiring anak tumbuh semakin mandiri dalam merawat dirinya sendiri. (MB/SW/RF/Foto: Magnific)
