Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
ASI (air susu ibu) adalah asupan terbaik bagi bayi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pun menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan seorang anak. Namun, di balik anjuran itu ada satu hal yang kerap luput dari perhatian orang tua: memastikan jumlah ASI yang diterima bayi benar-benar mencukupi kebutuhannya untuk tumbuh.
Tidak semua ibu langsung memiliki produksi ASI yang cukup. Ada kalanya ASI seret, pelekatan menyusu kurang tepat, atau bayi tidak menyusu secara efektif. Jika kondisi ini tidak terdeteksi, bayi bisa mengalami kekurangan nutrisi tanpa disadari orang tuanya.
Salah satu penanda paling jelas yang dapat menggambarkan status gizi seorang anak adalah berat badan. Bayi baru lahir umumnya memang mengalami sedikit penurunan berat badan di hari-hari pertama kehidupannya, tetapi berat badannya semestinya kembali ke berat lahir dalam satu hingga dua minggu, lalu terus naik mengikuti kurva pertumbuhan. Bila berat badan tidak naik, stagnan, atau justru turun, orang tua perlu waspada.
Kasus semacam ini dipaparkan dokter spesialis anak, dr. Agnes Tri Harjaningrum, Sp.A., dalam video edukasi yang diunggah di akun Instagram @meet.dr_agnes. Ia memeriksa seorang bayi laki-laki berusia satu bulan 21 hari yang lahir dengan berat 3,1 kg. Alih-alih bertambah, berat badannya justru turun menjadi 2,75 kg.
"Nah Ibu, jadi kan ini anaknya nggak tumbuh ya, nah ternyata tuh ASI-nya kurang," ujarnya kepada orang tua pasien.
Pengukuran dengan standar pertumbuhan WHO menunjukkan bayi tersebut masuk kategori berat badan sangat kurang dan mengalami wasting yang nyaris mencapai gizi buruk. Padahal, pada bulan pertama, bayi semestinya mengalami kenaikan berat badan sekitar 800 gram.
Perkembangan otak sangat dipengaruhi nutrisi
Kekurangan nutrisi pada usia dini tidak hanya soal angka di timbangan. Pada awal kehidupan bayi, sekitar 40 persen kebutuhan energi harian digunakan oleh otak. Itulah sebabnya periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) disebut sebagai masa kritis perkembangan otak.
"Kalau nggak tumbuh gini, otaknya nggak berkembang, kasihan," kata dr. Agnes.
Artinya, ketika bayi tidak mendapat asupan yang cukup, memperbaiki status gizinya menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda.
Lalu apa yang bisa dilakukan?
Menurut dr. Agnes, pilihan idealnya adalah ASI donor. Sayangnya, ASI donor tidak mudah didapat. Dalam kondisi seperti itu, susu formula boleh diberikan untuk sementara, asalkan memang ada indikasi medis.
"Jadi mau nggak mau sementara dibantu susu formula," ujarnya.
Namun ia menegaskan, langkah ini bukan untuk seterusnya. "Tapi ini bukan seterusnya ya. Nanti kalau ASI ibu sudah banyak, berat badannya sudah naik, kita akan balik lagi ke ASI ya."
Dengan kata lain, susu formula berperan sebagai jembatan untuk menyelamatkan tumbuh kembang anak, bukan pengganti ASI. Selama masa itu, upaya meningkatkan produksi ASI ibu tetap dijalankan, dan keputusan pemberian susu formula tetap berada di tangan dokter berdasarkan kondisi masing-masing bayi.
Pelajaran terpenting dari kasus-kasus tersebut adalah pentingnya memantau pertumbuhan bayi secara rutin, misalnya dengan menimbang dan mengukur bayi secara berkala di posyandu, puskesmas, atau dokter anak, lalu mencatatnya di kurva pertumbuhan pada buku KIA. Dengan begitu, masalah dapat terdeteksi dan ditangani sejak dini.
Kabar baiknya, kondisi seperti ini umumnya masih bisa diperbaiki bila ditangani dengan cepat dan tepat . Bayi dalam contoh di atas pun segera dirujuk dan mendapat penanganan.
Bagi orang tua yang mendapati berat badan bayinya tidak naik atau justru turun, langkah terbaik adalah segera berkonsultasi dengan dokter anak. Dokter akan menilai penyebabnya dan menentukan penanganan yang sesuai, termasuk apakah bayi memerlukan asupan tambahan. (MB/RF/Foto: Pexels)
