FAMILY & LIFESTYLE

Usia Orangtua Pengaruhi Kesehatan Anak



Studi terbaru di Denmark menemukan, usia orangtua saat memiliki anak berkaitan dengan risiko gangguan perkembangan psikis atau kejiwaan anak, termasuk gangguan mood dan skizofrenia.

Penelitian ini mengemukakan fakta bahwa anak-anak yang lahir dari ibu usia di bawah 20 tahun berisiko 51 persen lebih tinggi mengalami masalah psikiatris dibandingkan dengan anak-anak yang lahir dari ibu usia 25-29 tahun. Para ahli juga menemukan bahwa bayi yang lahir dari ibu usia 40-45 dan ibu-ibu muda berisiko lebih tinggi memiliki IQ rendah.

Sementara newborn yang memiliki ayah usia 25-29 tahun berisiko 28 persen lebih tinggi mengalami masalah psikiatris, sedangkan yang memiliki ayah usia di atas 45 tahun berisiko 34 persen lebih tinggi.

Selain itu, Usia orangtua juga memengaruhi risiko anak mengalami gangguan komunikasi seperti autisme. Meskipun autisme selama ini dianggap terkait dengan mutasi sel telur dan sperma, peneliti menduga ada efek lingkungan lainnya seperti infeksi, pengobatan, atau perawatan kesuburan.

Jika ayah atau ibu berusia di atas 35 tahun, anak mereka berisiko lebih tinggi menderita autisme ketimbang orangtua dengan usia lebih muda. Padahal, sejumlah studi yang telah dilakukan sebelumnya menyatakan bahwa ibu yang menunda kelahiran anaklah yang memiliki risiko terbesar. Studi sebelumnya menyatakan jika mutasi dalam sperma meningkatkan risiko, dan yang sekarang menyatakan bahwa sel telur yang tua berisiko bermutasi dan meningkatkan risiko autisme.

Studi tersebut menemukan, jika salah satu orangtua berusia 35-39 tahun, risiko memiliki anak autis sebesar 27 persen, terlepas dari ayah atau ibu berusia lebih tua. Tapi, jika kedua orangtua berusia 30-an, risiko tidak meningkat dibandingkan jika salah satu pasangan lebih tua. Namun, jika salah satu orangtua berumur di bawah 35-40 tahun, risiko autisme lebih besar terjadi pada ibu usia tua (65 persen) dibandingkan ayah yang berusia tua (44 persen).

Studi yang diterbitkan dalam Journal Annals Of Epidemiology ini melibatkan 1,3 juta anak yang lahir di Denmark. Sekitar 9.000 anak kemudian didiagnosis dengan gangguan pada spektrum autis, sindroma Asperger, dan gangguan lainnya. (M&B/SW/Dok. Freepik)