Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Moms, apakah bayi Anda sering rewel dan terlihat tak nyaman tanpa sebab tertentu? Gejala-gejala tersebut mungkin saja menjadi gejala gangguan sensorik pada bayi.
Gangguan sensorik atau biasa disebut sensory processing disorder (SPD) adalah suatu kondisi di mana otak kesulitan menerima dan merespons informasi yang masuk melalui panca indra.
Beberapa anak dengan gangguan sensorik sangat sensitif terhadap hal-hal di sekitar mereka. Suara yang biasa saja atau umum akan terasa berlebihan dan mungkin menyakitkan buat mereka. Sentuhan ringan dari pakaian juga berpotensi melukai kulit Si Kecil yang memiliki gangguan sensorik.
Baca juga: Mainan Sensorik Bayi 8 Bulan untuk Menstimulasi Indra Tubuhnya
Gejala gangguan sensorik pada bayi
Gangguan sensorik bisa terjadi pada orang dewasa. Namun, sering kali tanda-tandanya sudah mulai terlihat sejak balita atau bahkan ketika masih bayi. Gangguan sensorik bisa terjadi dalam bentuk hipersensitif (anak terlalu sensitif terhadap sesuatu rangsangan) atau hiposensitif (tidak responsif terhadap stimulasi pada indra tertentu).
Biasanya, masalah ini terjadi pada bayi yang memiliki gangguan spektrum autisme. Gejala gangguan sensorik pada bayi adalah sebagai berikut.
- Bayi sering rewel meski sudah kenyang atau diganti popoknya.
- Terlalu sensitif terhadap suara, sentuhan, bau, cahaya, dan lain sebagainya pada kasus hipersensitif, atau sebaliknya, justru tak merespons stimulasi pada kasus hiposensitif.
- Si Kecil selalu bergerak, tapi gerakannya tak terkoordinasi dengan baik.
- Menghindari stimulasi visual.
- Sering terjatuh saat bayi mulai belajar merangkak atau berjalan sebagai efek dari pergerakan yang tidak terkontrol.
- Tanpa disadari, Si Kecil menggunakan tenaga besar saat memegang sesuatu.
- Mengalami kolik, GERD, dan nyeri kembung saat bayi.
- Sering mengalami sembelit dan masalah pencernaan.
- Sering mengalami infeksi telinga dan sinus.
- Mengalami tortikolis (gangguan pada leher otot yang mengakibatkan kepala miring) dan plagiocephaly (sindrom kepala peyang pada bayi).
Penyebab gangguan sensorik pada bayi
Hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab gangguan sensorik pada bayi. Namun, penelitian menunjukkan bahwa anak yang lahir dari orang tua dengan spektrum autis memiliki risiko gangguan sensorik yang lebih tinggi. Begitu pula dengan bayi yang lahir prematur atau mengalami malnutrisi (kekurangan gizi) sehingga berpotensi memicu adanya gangguan sensorik.
Selain itu, cedera lahir traumatis pada bagian leher atas dan area batang otak juga disinyalir bisa memicu terjadinya gangguan sensorik pada bayi. Cedera yang dimaksud bisa diakibatkan karena bayi terjatuh, perkembangan yang kurang sempurna karena penggunaan baby walker, jumper, atau car seat yang tidak sesuai dengan anjuran.
Jangan dibiarkan
Jika bayi menunjukkan gejala-gejala gangguan sensorik, Anda sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter atau ahlinya. Gangguan sensorik memang tidak bisa diobati. Namun, dengan terapi khusus yang disesuaikan dengan masalah yang muncul, Si Kecil akan bisa mengatasi masalah tersebut seiring dengan bertambahnya usia. Tujuan utama dari terapi tersebut adalah untuk:
- Mengembangkan intelektual, kemampuan sosial, dan emosi anak
- Meningkatkan kepercayaan diri ketika anak mulai besar
- Mempersiapkan badan dan pikiran Si Kecil agar lebih siap untuk belajar
- Membantu Si Kecil untuk berinteraksi dengan positif terhadap lingkungan sekitar.
Itulah penjelasan mengenai gejala gangguan sensorik pada bayi dan beberapa hal yang menjadi penyebabnya. Segera atasi permasalahan ini agar tidak mengganggu tumbuh kembang bayi Anda selanjutnya. (M&B/Wieta Rachmatia/SW/Foto: Freepik)