TODDLER

Lagi! Anak Dianiaya Ibunya Karena Sulit Belajar Online



Ironis, pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang seharusnya bisa 'menyelamatkan' anak-anak dari risiko infeksi virus corona justru memicu masalah baru di rumah. Dalam kurun waktu kurang dari sebulan, sudah ada setidaknya dua kasus pemukulan anak di rumah yang berkaitan dengan pembelajaran jarak jauh.

Baca juga: Gara-gara Tak Mengerti Matematika, Ibu Pukuli Anaknya

Jika dalam kasus pertama sang anak hanya mengalami memar, lain halnya dengan kasus kedua yang terjadi di Kecamatan Larangan, Tangerang, pekan lalu. Seorang anak perempuan berusia 8 tahun tewas di tangan ibunya sendiri karena dianggap sulit diberitahu ketika mengikuti pelajaran secara daring.

Sang ibu, LH (26 tahun), mengakui kepada polisi bahwa dirinya telah menganiaya sang buah hati yang baru duduk di kelas 1 SD. Peristiwa itu terjadi pada 26 Agustus silam. LH mengaku kesal karena anaknya tersebut sulit diajari saat sekolah online sehingga melakukan serangkaian tindakan kasar, mulai dari mencubit, memukul dengan tangan kosong, hingga memukul menggunakan gagang sapu.

"Kami dalami mereka, khususnya kepada almarhum yang merupakan anak kandungnya sendiri. Dia merasa kesal, merasa anaknya ini susah diajarkan, susah dikasih tahu sehingga kesal dan gelap mata," jelas Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Lebak, AKP David Adhi Kusuma, seperti dilansir Kompas.com.

Akibat tindakan tersebut, sang anak sempat tersungkur lemas. Namun rupanya sang ibu belum puas meluapkan kekesalannya sehingga ia kembali memukul korban di bagian kepala sebanyak tiga kali.

Sang ayah, IS (27), mengetahui peristiwa penganiayaan tersebut. Ia sempat kesal terhadap istrinya. Namun kemudian memutuskan untuk membawa anaknya keluar rumah agar mendapatkan udara segar karena bocah tersebut terlihat sulit bernapas. Sayangnya, anak tersebut justru meninggal dunia.

Alih-alih membawanya ke rumah sakit, pasangan suami-istri ini justru membawa sang anak ke TPU Gunung Kendeng, Kecamatan Cijaku, Lebak, menggunakan motor. Mereka lantas menguburkan anaknya yang masih berpakaian lengkap di tanah perkuburan tersebut. Sebelumnya, orang tua korban justru sempat meminta saudara kembar korban untuk mengatakan bahwa korban menghilang saat bermain.

Kecurigaan Warga

Kasus ini baru terungkap pada Sabtu, 12 September 2020. Warga sekitar TPU yang merasa curiga dengan adanya makam baru, membongkar makam tersebut. Mereka langsung melaporkan ke polisi ketika menemukan mayat dengan pakaian yang masih lengkap.

Polisi langsung menangkap kedua orang tua anak tersebut. Dan hingga kini, kasus penganiayaan anak yang berujung kematian ini masih berada dalam penyelidikan pihak yang berwajib.

Lebih Bersabar

Moms dan Dads, memang tidak mudah bagi kita melalui masa pandemi COVID-19 ini. Keterbatasan ruang gerak, plus fakta bahwa Anda juga harus menyisihkan waktu guna membantu anak bersekolah di rumah, semua itu memang bisa membuat emosi Anda mudah tersulut.

Namun hal tersebut bisa dihindari jika Anda belajar untuk mengatur emosi. Sebisa mungkin sisihkan waktu untuk melakukan kegiatan yang membawa efek menenangkan, seperti membaca buku, berolahraga, atau melakukan olah pernapasan agar Anda bisa lebih rileks menghadapi situasi ini.

Yuk, Moms dan Dads, jangan patah semangat. Anda pasti bisa melalui situasi ini! (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)