FAMILY & LIFESTYLE

Mom of the Month: Sarah Deshita


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Sarah Deshita adalah nama yang menjadi sosok di balik megah dan serunya festival musik tahunan We The Fest (WTF) dan Djakarta Warehouse Project (DWP). Kecintaannya pada musik dan hobinya menonton pertunjukan musik mungkin menjadi pondasi dalam menapaki kariernya kini sebagai program director. Sebagai perempuan yang bekerja di industri musik, Sarah mengaku tak memiliki tantangan berarti, melainkan merasa diuntungkan.

Namun, lain halnya ketika menjalani peran sebagai ibu. Bagi istri Sal Priadi, pelantun “Gala Bunga Matahari” ini, menjadi ibu justru lebih menantang. Mengasuh jagoan kecilnya, Sejak Barat, ia mengaku banyak hal yang dipikirkan dan ingin diajarkan untuk membentuk pribadi baik anaknya kelak. Waktu yang berlalu dengan cepat juga membuat Sarah ingin selalu melibatkan kehadiran Barat di hari-harinya.

Menjadi Mom of the Month Mei 2025, Sarah juga bercerita tentang perubahan yang ia alami setelah menjadi seorang ibu, membagi waktunya ketika menjalani multiperan, hingga goals hidupnya tahun ini kepada M&B. Simak ceritanya, Moms!

Sebelum menjadi program director festival musik, Sarah merupakan seorang penyiar radio, bagaimana awal ceritanya?

Aku pertama kali siaran di Radio Mustang FM. Kebetulan kakakku penyiar juga di sana, jadi aku suka main ke tempat siarannya di Wisma Nusantara pada saat itu, yang kebetulan juga dekat dari kampusku, di Atmajaya. Waktu itu pas banget mereka sedang mencari penyiar perempuan yang bisa bahasa Inggris. Singkat cerita, akhirnya aku mulai siaran di sana.

Kalau boleh jujur, kenapa aku mau siaran sebenarnya cuma supaya I can be around music aja. Untuk ngomong atau public speaking-nya sebenarnya kurang suka. Cuma karena siaran itu rasanya seperti satu arah, I don’t have to meet people in person, I can just talk, and I listen to music, dijalanin, deh. Malah sampai 10 tahun siaran, haha.

Selain siaran di Mustang FM, aku juga pernah siaran di Oz Radio. Aku sambi dengan bekerja di MTV saat itu. Lalu pada 2013 aku bergabung dengan Ismaya Live, hingga sekarang menjadi program director We The Fest dan Djakarta Warehouse Project.

Sebagai perempuan, apa tantangan yang dihadapi ketika bekerja di industri musik?

Kebetulan di Ismaya Live banyak pekerja perempuannya. Pas zamanku, untuk posisi heads justru diisi oleh perempuan. Jadi, sebenarnya sudah terbiasa untuk berhubungan dengan perempuan-perempuan yang sukanya “nukang”.

Secara tantangan kayaknya malah tidak ada. Kalau di lini pekerjaanku mungkin everything is solution based, jadi ketika ada tantangan harusnya tahu cara mengatasinya. Justru kelebihannya by being a woman, rasanya lebih disegani oleh laki-laki. Misalnya, kalau kita menawar vendor, kita bisa pakai harga emak-emak kalau lagi nawar, haha. Cuma karena memang sama-sama perempuan, yang mungkin waktu datang bulannya bisa berdekatan, tim laki-lakinya yang harus ekstra sabar, karena pasti ada aja kan kami sesi ngomel-ngomelnya, haha.

Lebih menantang mungkin ketika menjalani peran sebagai ibu, ya, karena tantangan yang ditemui harian, mungkin belum tentu ada solusinya. Banyak juga hal yang tidak berbanding lurus, di mana ekspektasi dan realitanya berbeda.

“Setelah menjadi ibu, tentunya prioritasku berubah, manajemen waktu lebih dipikirkan, dan selalu menimbang-nimbang mana yang bijak, terutama untuk anakku, Barat.”

Sarah menjadi salah satu penggagas terciptanya We The Kids dalam festival musik We The Fest, bagaimana cerita awalnya?

We The Kids ini tentu hadir karena keegoisanku sendiri sebagai ibu ya, haha. Karena pada dasarnya aku selalu suka menghadiri konser atau festival musik yang memungkinkan untuk bisa membawa anak atau keluarga dengan nyaman.

We The Kids dibuat dari sebuah proses untuk mempelajari mana yang nyaman dan tergantung festival musiknya juga, karena ada festival musik yang family friendly sampai tutup, tapi ada juga festival musik yang family friendly hanya sampai jam 10, dan sejatinya di jam tersebut anak-anak sudah harus pulang. Nah, ini kan formula-formula yang setiap tahunnya dipikirkan sesuai karakteristik festival musik dan line up-nya.

Tapi se-family friendly apa pun acaranya dibuat, kembali lagi ke pertanggungjawaban orang tuanya. Meski memang ada area bermain, We The Kids itu konsepnya bukan day care. Jadi, pendamping atau orang tua tetap harus menemani, bukan meninggalkan anaknya terus orang tua bisa happy-happy nonton konser. Kalau pakai konsep day care, tentu tanggung jawabnya akan terlalu besar untuk kita.

Apa perubahan yang dirasakan setelah menjadi ibu?

Dulu mungkin aku lebih egois akan banyak hal, kesenanganku yang utama, ibaratnya. Sebelum jadi ibu, aku mungkin cukup spontan dan impulsif orangnya. Karena terbiasa solo travel, dulu aku bisa tiba-tiba random pergi, misalnya ke luar negeri. Makanya barang yang selalu ada di tasku itu paspor. Jadi, kalau ada yang ngajak pergi dan visaku juga masih berlaku, ya aku berangkat.

Tapi, setelah jadi ibu, tentu aku juga harus mementingkan kesenangan dan kenyamanan Barat. Anakku memang sering ikut aku bekerja, tapi ada kalanya beberapa tempat tidak cocok untuk dia. Nah, hal ini yang coba diminimaliskan. Aku dan suamiku, Sal, juga saling bantu saja. Kalau memang aku sedang heavy di pekerjaan, dan tempat kerjaku tidak Barat-friendly, Sal akan mengosongkan jadwalnya untuk menemani Barat, begitu pun sebaliknya.

Jadi, kalau ditanya apa yang berubah dalam hidupku setelah menjadi ibu, tentunya prioritasku berubah, manajemen waktu lebih dipikirkan, dan selalu menimbang-nimbang mana yang bijak, terutama untuk Barat.

Barat sudah berusia 5 tahun, apa hal yang menjadi concern ketika mengasuh Barat kini?

Memasuki usia Barat yang ke-5, Aku dan Sal mungkin lebih banyak berpikir tentang hal-hal apa saja yang harus kami ajarkan pada Barat dan bagaimana membentuk pribadinya dengan baik. Misalnya, kami ingin mengajarkan Barat untuk bisa berempati, tapi di sisi lain kami juga berharap nantinya dia tidak menjadi people pleaser.

Bagaimana dia tetap tau apa yang dia mau, tapi dia juga tetap memikirkan orang lain. Bagaimana membuat dia paham bahwa menjadi orang baik itu lebih penting daripada menjadi orang pintar, meski sebagai orang tua tentu kami juga ingin Barat jadi anak yang pintar. Lalu, bagaimana agar dia jadi anak yang sopan dan tidak menyakiti perasaan orang lain, tapi dia juga tahu bahwa kebahagiaan orang lain bukan tanggung jawabnya. Semuanya serba di persimpangan memang, tapi itu yang menjadi concern kami sekarang.

Seperti apa gambaran liburan ala keluarga Sarah?

Untuk periode liburan yang lama dan jauh, biasanya kami lakukan satu tahun sekali, misalnya seperti liburan tahun baru kemarin, kami ke Jepang bertiga. Saat berlibur, kami tidak terlalu ambisius, misalnya harus mengunjungi beberapa tempat dalam sehari. Kami juga tidak punya itinerary. Yang penting ketika liburan dengan Sal dan Barat adalah hotelnya harus nyaman, karena pada dasarnya mereka ngantukan. Jadi, mereka bisa tuh, tidur-tidur atau main di hotel aja. Belum lagi, suami dan anakku ini laperan. Akhirnya belajar dari pengalaman, jadi aku menemukan bahwa formula liburan kami yang penting hotelnya enak buat tidur, dan harus dekat dengan tempat makan, haha.

“We were friends first. Banyak hal yang kami diskusikan di rumah, rasanya seperti diskusi dengan teman. Apa pun dikomunikasikan secara lugas. Jadi, memang kunci keharmonisan rumah tangga sudah pasti komunikasi.”

Sama-sama sibuk, bagaimana menjaga keharmonisan dengan suami?

Aku dan Sal kan memang awalnya teman. Dari awal pacaran kami juga bukan tipe yang selalu lovey dovey. Jadi, banyak hal yang kami diskusikan di rumah, rasanya seperti diskusi dengan teman. Dalam hal mengurus Barat, banyak hal yang jadinya bisa di-leverage.

Dari awal, karena sama-sama sibuk, kami juga sudah tahu role masing-masing. Kalau ada hal yang emergency, misalnya Barat sakit, pasti sudah mode komando saja. Kalau dihadapkan dalam keadaan mendesak, yang mungkin bikin kita emosi, kita berdua lumayan tidak gengsi untuk minta maaf. Jadi, memang lumayan cepat forgive and forget, gitu. Dan kami ngobrolnya enak, sih.

Bagaimana mengatur waktu saat menjalani multiperan?

Di usiaku sekarang, kayaknya aku bersyukur bahwa level “keliaranku” dalam bereksplorasi sudah tidak segitunya, sudah enggak seliar dulu, jadi lebih bijaksana dalam membagi waktu. Misalnya, tahun lalu, aku sempat mengambil conference keliling dunia, jadi bolak-balik luar negeri terus. Cuma karena sudah pernah dilalui, sepertinya tahun ini aku memilih untuk istirahat. Kalaupun aku ambil, pasti janjian sama Sal. Misalnya ada tawaran ke Bangkok untuk conference, kalau memungkinkan, mungkin kami bisa sekalian ajak Barat. Jadi, makin ke sini kalau soal time management aku makin strict.

Apa arti keluarga buat Sarah?

Keluarga itu rumah. Kalau mungkin diperjelas lagi arti rumah adalah tempat di mana aku bisa jadi diriku sendiri. Terutama ketika berada di inner circle, circle 1 di rumah. Kayaknya mereka yang paling tahu aku itu seperti apa, waktu aku sedang moody seperti apa, what makes me happy, what triggers me. Dan dua orang yang paling tahu aku ya, pasti Sal dan Barat. So, keluarga itu rumah, artinya bisa dibawa ke mana-mana, tapi perasaannya tetap sama.

Apa goals Sarah tahun ini?

Goals aku kayaknya ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan Barat, paling tidak sampai dia umur 6 tahun ya, sebelum dia masuk masa sekolah. Pokoknya ingin lebih banyak melibatkan dia di banyak kegiatanku, seperti kemarin saat aku ada project dengan Maliq & D'Essentials, di mana kami membuat brand khusus anak, dan saat launching product kolaborasi dengan film Jumbo, Barat aku jadikan model. Pokoknya biar dia bisa lebih sering dekat sama aku. Aku juga ingin ajak Barat menonton festival musik di luar negeri, seperti Fuji Rock.

Kalau soal pekerjaan, karena nanti akan ada banyak hal menarik yang aku lakukan dengan Sal tahun ini, dan pastinya akan banyak hal baru yang lebih menantang, semoga manajemen waktunya bisa dilakukan dengan lebih baik lagi.

“Keluarga itu rumah. Kalau diperjelas lagi rumah adalah tempat di mana aku bisa jadi diriku sendiri.”

(M&B/Vonda Nabilla/SW/Photographer: Lintang Sukmana/Digital Imaging: Raghamanyu Herlambang/Stylist: Gabriela Agmassini/MUA: Inez Febiola (@inezfab)/Hair Stylist: Tita Trisnawati (@t2_titamua))