Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Jika tidak diobati secara tepat, penyakit radang usus (inflammatory bowel disease/IBD)—penyakit autoimun yang juga dikenal dengan peradangan usus kronis—bisa menciptakan komplikasi seperti penggumpalan darah, radang kulit, mata, dan sendi, hingga bisa menyebabkan kematian bagi penderitanya.
Penyakit radang usus sendiri merupakan sekelompok penyakit autoimun yang ditandai dengan peradangan pada usus kecil dan besar, di mana elemen sistem pencernaan diserang oleh sistem kekebalan tubuh sendiri. Penyakit ini ditandai dengan episode peradangan saluran cerna berulang yang disebabkan oleh respons imun yang abnormal terhadap mikroflora usus.
Penyakit radang usus terbagi menjadi 3 tipe, yaitu: Ulcerative Colitis (UC) dan Crohn’s Disease (CD), dan kini terdapat juga tipe yang lain dari IBD, yaitu Colitis Indeterminate (Unclassified). “Pada UC, penderitanya bisa mengalami toxic megalocon (pembengkakan usus besar yang beracun), perforated colon (lubang pada usus besar), dehidrasi berat, dan meningkatkan risiko kanker usus besar,” jelas Prof. dr. Marcellus Simadibrata, SpPD-KGEH, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialisasi Gastroenterologi Hepatologi RS Abdi Waluyo.
“Sementara pada CD, penderitanya bisa mengalami obstruksi saluran usus, malnutrisi, fistula, dan fissura anal (robekan pada jaringan anus). Jika kedua jenis ini dibiarkan, keduanya bisa menciptakan komplikasi seperti: penggumpalan darah, radang kulit, mata, dan sendi, serta komplikasi lainnya,” tambahnya.
Penyakit radang usus umumnya didiagnosis pada usia dewasa muda, yang kemudian bisa berdampak pada produktivitas kerja. Global Burden of Disease, Injuries, and Risk Factor Study (GBD) melibatkan 195 negara dari tahun 1990 hingga 2017 menunjukkan peningkatan jumlah penderita IBD dari 3,7 juta menjadi 6,8 juta orang. Pasien dengan IBD memiliki angka mortalitas 17,1 per 1.000 orang per tahun, dibandingkan dengan kelompok kontrol 12,3 per 1.000 orang per tahun.
RS Abdi Waluyo sendiri memahami bagaimana besarnya dampak penyakit ini terhadap kualitas hidup masyarakat. Hal ini yang mendorong RS Abdi Waluyo untuk menjadikan penyakit ini sebagai fokus utama, dengan membangun IBD Center, pusat perawatan khusus penyakit radang usus (IBD) yang pertama di Indonesia.
Salah satu yang menjadi motivasi RS Abdi Waluyo untuk fokus adalah karena sampai saat ini kesadaran masyarakat masih rendah terhadap penyakit radang usus. Hal ini karena gejala umum dari penyakit tersebut adalah diare, di mana masyarakat masih sulit membedakan diare biasa dengan diare yang mengarah pada radang usus.
Diagnosis penyakit radang usus dibuat berdasarkan keluhan pasien, seperti nyeri perut berulang, perubahan pola buang air besar, buang air besar berdarah, serta penurunan berat badan, ditambah dengan pemeriksaan fisik dan penunjang.
Prof. Marcel menjelaskan, “Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan di antaranya adalah pemeriksaan feses, darah, radiologi (CT scan dan MRI abdomen sesuai indikasi), dan endoskopi saluran cerna. Pasien yang sudah didiagnosis penyakit radang usus akan kemudian dinilai tingkat keparahan penyakitnya menggunakan sistem skoring.”
Tatalaksana penyakit IBD, jelas Prof. Marcel, umumnya menggunakan terapi obat (tablet dan injeksi). Namun, pada beberapa keadaan diperlukan tindakan operasi/pembedahan atau bahkan dilakukan tatalaksana dengan kombinasi obat-obatan dan pembedahan.
Beberapa jenis vaksinasi direkomendasikan juga bagi pasien IBD sebagai bentuk pencegahan infeksi. IBD yang kronis mungkin memerlukan pembedahan untuk mengangkat bagian saluran pencernaan yang rusak. “Pada dasarnya penyakit ini memiliki tingkat kesulitan yang beragam sehingga diperlukan kerjasama multidisiplin. IBD center RS Abdi Waluyo memberikan serangkaian layanan terpadu oleh dokter-dokter spesialis dan subspesialis dari berbagai bidang,” tutup Prof. Marcel. (M&B/SW/Foto: Dok. RS Abdi Waluyo)