Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Moms, pernahkah Anda mendengar nasihat dari orang tua atau kakek nenek Anda bahwa bayi sebaiknya tidak tidur di tengah, di antara ayah dan ibunya? Mitos ini cukup populer di kalangan masyarakat Jawa dan sering kali diwariskan dari generasi ke generasi. Katanya, posisi tidur seperti ini bisa membawa pengaruh buruk bagi Si Kecil.
Sebagai orang tua modern, kita sering dihadapkan pada dilema antara menghormati tradisi dan memercayai logika. Apakah larangan ini hanya sekadar mitos tanpa dasar atau adakah penjelasan logis di baliknya yang perlu kita pertimbangkan demi keselamatan buah hati?
Bagaimana asal-usul mitos tersebut?
Setiap mitos biasanya lahir dari kearifan lokal dan pengamatan nenek moyang kita. Begitu pula dengan larangan bayi tidur di posisi tengah. Meskipun tidak ada bukti ilmiah yang mendukungnya secara langsung, kepercayaan ini diyakini berasal dari beberapa pemahaman tradisional.
1. Bayi bisa menjadi sumber perselisihan orang tua
Menempatkan bayi tidur di tengah bisa menjadi rebutan atau sumber perselisihan antara kedua orang tuanya. Konon, hal ini bisa membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang manja, sulit diatur, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian.
2. Bayi bisa sulit mandiri
Mitos lain yang berkembang adalah bahwa tidur di tengah membuat bayi merasa terlalu nyaman dan terlindungi, sehingga dikhawatirkan bisa menghambat proses kemandiriannya. Anak yang terbiasa tidur diapit ayah dan ibunya dipercaya akan menjadi penakut, tidak percaya diri, dan sangat bergantung pada orang tua bahkan hingga ia dewasa.
Baca juga: Moms, Ini Bisa Jadi Penyebab Bayi Gelisah saat Tidur di Malam Hari
Tinjauan medis dan psikologis tentang bayi tidur di tengah
Berikut ini beberapa poin tinjauan medis dan psikologis yang sejalan dengan kekhawatiran nenek moyang kita dengan penjelasan yang lebih ilmiah, Moms.
Risiko keamanan fisik
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan berbagai organisasi kesehatan dunia sebenarnya lebih menyoroti risiko keamanan fisik saat bayi tidur bersama orang tua di satu ranjang (co-sleeping), terlepas dari posisinya.
Risiko tertindih. Ini adalah kekhawatiran terbesar. Orang tua yang tidur terlalu lelap atau kelelahan berisiko berguling dan secara tidak sengaja menindih bayi. Tubuh orang dewasa bisa menyebabkan bayi kesulitan bernapas atau bahkan sindrom kematian mendadak bayi (Sudden Infant Death Syndrome/SIDS).
Risiko sesak napas. Tempat tidur orang dewasa sering kali dilengkapi dengan selimut tebal dan bantal empuk. Benda-benda ini bisa menutupi wajah bayi dan menghalangi jalan napasnya.
Risiko suhu berlebih. Kehangatan dari tubuh kedua orang tua yang mengapit bayi bisa menyebabkan suhu tubuh bayi meningkat drastis. Overheating juga merupakan salah satu faktor risiko SIDS.
Dampak psikologis pada anak dan orang tua
Dari sisi psikologi, tidur bersama memang bisa memperkuat bonding antara anak dan orang tua. Namun, jika dilakukan tanpa batasan, kebiasaan ini juga bisa menimbulkan beberapa masalah, misalnya:
Kemandirian anak. Mirip dengan mitos yang beredar, beberapa psikolog setuju bahwa anak yang terlalu lama tidur bersama orang tua mungkin akan lebih sulit untuk belajar tidur sendiri, sehingga bisa menghambat kemandiriannya, contohnya mandiri untuk tidur sendiri.
Kualitas tidur orang tua. Orang tua, terutama ibu, sering kali lebih waspada saat tidur bersama bayi. Setiap gerakan kecil atau suara dari bayi bisa membuat Moms terbangun. Akibatnya, kualitas tidur orang tua bisa menurun, menyebabkan kelelahan dan stres.
Hubungan suami istri. Kehadiran anak tempat tidur yang sama bisa mengurangi ruang dan waktu untuk keintiman pasangan. Meskipun prioritas utama adalah anak, menjaga keharmonisan pernikahan juga sama pentingnya.
Baca juga: Tips Mengatasi Anak yang Takut Tidur Sendiri
Kenapa ibu tidak boleh membelakangi bayi saat tidur?
Moms juga tidak boleh membelakangi bayi saat tidur karena bisa meningkatkan risiko bayi kesulitan bernapas, tertindih, atau bahkan menyebabkan SIDS. Posisi tidur yang aman untuk bayi adalah telentang untuk memastikan saluran pernapasannya tetap terbuka dan lancar, serta mencegah tertindih oleh orang tua atau benda lain di sekitarnya.
Bayi sebaiknya tidur di mana?
Bayi sebaiknya tidur di tempat tidurnya sendiri (boks bayi) dalam posisi telentang di kamar yang sama dengan orang tua setidaknya selama 6 bulan pertama, di atas permukaan yang datar, keras, dan rata, tanpa bantal, selimut, atau benda empuk lainnya. Pastikan juga lingkungan tidur Si Kecil nyaman dan tidak terlalu panas ya, Moms.
Tips tidur bersama bayi
1. Perhatikan keamanan. Pastikan bayi tidur di kasur yang aman dan nyaman, bukan di antara orang tua di satu ranjang.
2. Waspada saat menyusui. Jika Moms menyusui sambil tiduran, tetaplah waspada agar tidak menindih bayi.
3. Letakkan bayi setelah tertidur. Anda bisa mencoba memeluk bayi hingga tenang dan tertidur, lalu meletakkannya di kasur yang aman dalam posisi telentang.
Demikianlah penjelasan mengenai mitos Jawa bayi tidak boleh tidur di tengah. Jadi, haruskah kita menghindari posisi bayi tidur di tengah? Jawabannya adalah ya, jika tujuannya adalah untuk meminimalkan risiko keamanan fisik sesuai anjuran medis. Nasihat nenek moyang kita, meskipun dibalut mitos, ternyata memiliki dasar logika keselamatan yang kuat ya, Moms.
Namun, bukan berarti Moms harus berhenti membangun bonding dengan Si Kecil saat tidur. Anda tetap bisa berbagi kamar, bukan berbagi ranjang dengan bayi. Letakkan boks bayi atau di samping tempat tidur Anda. Dengan cara ini, bayi tetap berada dalam jangkauan untuk disusui atau ditenangkan. Jika Anda terpaksa tidur seranjang dengan bayi, misalnya saat bepergian, pastikan untuk mengikuti panduan tidur yang aman buat Si Kecil ya, Moms. (MB/AY/SW/Foto: Jcomp/Freepik)