FAMILY & LIFESTYLE

Kenapa Vagina Perih? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Munculnya rasa perih di vagina kerap menimbulkan rasa khawatir dan tidak nyaman. Wajar saja Moms, mengingat vagina merupakan area sensitif. Namun, kenapa vagina perih? Apa pemicunya dan bagaimana mengatasinya?

Penyebab vagina perih bisa beragam, mulai dari gesekan hingga iritasi. Penting bagi Anda untuk mengetahui pemicunya sehingga bisa mendapatkan penanganan yang tepat.

Baca juga: Waspada! Ini 7 Penyakit Vagina yang Umum Menyerang Wanita

Kenapa vagina perih?

Rasa perih di vagina bisa muncul tiba-tiba atau berkembang seiring waktu. Penyebabnya pun sangat beragam. Berikut ini beberapa penyebab paling umum yang perlu Moms ketahui.

1. Iritasi akibat produk kewanitaan

Banyak produk yang dijual untuk area kewanitaan justru bisa menjadi pemicu iritasi. Vagina memiliki kemampuan alami untuk membersihkan dirinya sendiri dan menjaga keseimbangan pH. Penggunaan produk yang tidak tepat bisa mengganggu keseimbangan ini. Berikut ini beberapa produk yang bisa memicu iritasi pada vagina.

1. Sabun dan pembersih kewanitaan: Produk dengan kandungan parfum, antiseptik, atau bahan kimia keras bisa menyebabkan kulit di sekitar vagina menjadi kering dan iritasi.

2. Pembalut atau panty liner berparfum: Bahan pewangi di dalamnya dapat memicu reaksi alergi pada sebagian wanita.

3. Pelumas (lubricant): Beberapa jenis pelumas mengandung bahan yang bisa menyebabkan iritasi atau reaksi alergi.

2. Gesekan berlebih

Aktivitas yang menimbulkan gesekan terus-menerus pada area intim juga bisa menyebabkan lecet dan rasa perih.

1. Pakaian dalam yang ketat: Bahan yang tidak menyerap keringat dan terlalu ketat dapat meningkatkan kelembapan dan gesekan, sehingga memicu iritasi pada vagina.

2. Aktivitas fisik: Bersepeda dalam waktu lama dapat menekan dan menggesek area vagina, yang berujung pada rasa nyeri.

3. Hubungan seks: Kurangnya lubrikasi alami saat berhubungan intim bisa menyebabkan gesekan berlebih yang membuat vagina terasa perih atau bahkan lecet.

Baca juga: Vagina Kering, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

3. Infeksi jamur (candidiasis)

Infeksi jamur adalah salah satu penyebab paling umum dari rasa perih dan gatal pada vagina. Infeksi ini disebabkan oleh pertumbuhan jamur Candida albicans yang berlebihan. Gejala yang sering menyertai meliputi:

  • Gatal yang intens
  • Rasa perih, terutama saat buang air kecil atau berhubungan seks
  • Keluarnya keputihan yang kental, putih, dan menggumpal seperti keju
  • Kemerahan dan bengkak pada area vulva.

4. Vaginosis bakterialis (bacterial vaginosis atau BV)

Vaginosis bakterialis terjadi ketika keseimbangan bakteri baik dan jahat di dalam vagina terganggu. Kondisi ini sering kali tidak menyebabkan rasa sakit, tapi bisa menimbulkan rasa perih ringan disertai gejala lain seperti:

  • Keputihan yang encer, berwarna putih keabuan
  • Bau amis yang khas, terutama setelah berhubungan seks
  • Rasa gatal atau perih di sekitar vagina.

5. Infeksi saluran kemih (ISK)

Meskipun ISK terjadi di saluran kemih, gejalanya bisa sangat mirip dengan masalah vagina. Rasa perih atau sensasi terbakar saat buang air kecil adalah gejala utama ISK. Rasa sakit ini bisa terasa di sekitar lubang uretra yang sangat dekat dengan vagina, sehingga sering kali disalahartikan sebagai nyeri vagina.

Baca juga: Jangan Bercinta Jika Punya Infeksi Saluran Kemih, Ini Alasannya

6. Perubahan hormon

Fluktuasi hormon, terutama penurunan kadar estrogen, bisa membuat lapisan vagina menipis, mengering, dan kurang elastis. Kondisi ini disebut atrofi vagina dan sering terjadi pada:

  • Wanita menopause
  • Ibu menyusui
  • Wanita yang sedang menjalani pengobatan kanker tertentu. Rasa perih, terutama saat berhubungan intim, adalah gejala yang sangat umum dari atrofi vagina.

Bagaimana cara menghilangkan rasa perih di miss v?

Penanganan rasa perih pada vagina sangat bergantung pada penyebabnya. Namun, ada beberapa langkah umum yang bisa Moms lakukan di rumah untuk meredakan ketidaknyamanan dan mencegahnya datang kembali.

1. Hindari produk yang memicu iritasi

Hentikan penggunaan sabun berparfum dan pembersih kewanitaan yang keras. Cukup bersihkan area luar vagina (vulva) dengan air hangat. Jika ingin menggunakan sabun, pilihlah yang lembut, tanpa pewangi, dan hipoalergenik.

2. Kenakan pakaian dalam yang nyaman

Gunakan pakaian dalam berbahan katun yang dapat menyerap keringat dengan baik. Hindari celana atau pakaian dalam yang terlalu ketat untuk mengurangi gesekan dan menjaga area intim tetap kering.

3. Jaga kebersihan dengan benar

Setelah buang air kecil atau besar, selalu bersihkan dari arah depan ke belakang. Ini penting untuk mencegah bakteri dari anus berpindah ke vagina dan menyebabkan infeksi.

4. Gunakan pelumas saat berhubungan seks

Jika rasa perih muncul akibat gesekan saat berhubungan intim, jangan ragu untuk menggunakan pelumas berbahan dasar air. Ini akan membantu mengurangi gesekan dan membuat aktivitas seksual lebih nyaman.

5. Kompres dingin

Untuk meredakan rasa perih dan bengkak akibat iritasi, Moms bisa mengompres area vulva dengan kompres dingin yang dibungkus handuk bersih selama beberapa menit.

6. Konsultasi dengan dokter

Jika rasa perih tidak kunjung membaik disertai keputihan yang tidak normal, bau yang menyengat, perdarahan, atau gejala mengkhawatirkan lainnya, segeralah berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan membantu mendiagnosis penyebab pastinya dan memberikan pengobatan yang sesuai, seperti:

  • Obat antijamur untuk infeksi jamur
  • Antibiotik untuk vaginosis bakterialis atau ISK
  • Terapi hormon estrogen (krim atau tablet) untuk mengatasi atrofi vagina.

Rasa perih pada vagina merupakan sinyal bahwa ada gangguan kesehatan di tubuh Anda, khususnya di area sensitif. Dengan mengenali penyebabnya, Anda bisa mencari penanganan yang tepat untuk mengatasi vagina perih. (MB/AY/WR/Foto: Freepik)