FAMILY & LIFESTYLE

5 Mitos dan Fakta Seputar Vaksin HPV yang Perlu Anda Ketahui


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Pada perempuan, infeksi virus HPV menyebabkan sekitar 71% kasus kanker leher rahim. Selain itu, HPV juga dapat menimbulkan kanker lainnya, seperti vagina, vulva, penis, orofaring, hingga kutil kelamin, yang 90% dipicu oleh virus ini. Di Indonesia, kanker leher rahim merupakan kanker kedua yang paling sering diderita perempuan, dengan angka kematian 56 orang setiap harinya.

Untungnya, semua risiko tersebut bisa dicegah, salah satunya melalui imunisasi HPV. Vaksin HPV sudah terbukti aman dan bermanfaat sejak pertama kali digunakan pada 2006 dan kini dipakai di lebih dari 130 negara. Ini menjadi langkah nyata untuk melindungi diri dan keluarga.

Meski terbukti efektif mencegah kanker serviks, sayangnya masih banyak misinformasi seputar vaksin HPV yang beredar di kalangan masyarakat. Berdasarkan data Komdigi, tahun 2024 ada 1.900 konten hoaks, dengan 163 di antaranya terkait isu kesehatan, utamanya mengenai vaksinasi dan obat herbal.

Mitos dan fakta seputar kanker serviks

Prof. Dr. dr. Sooedjatmiko, Sp.A(K), M.Si, menyampaikan beberapa mitos dan fakta seputar vaksin HPV yang perlu Moms ketahui, yakni:

1. Vaksin HPV berisi virus HPV yang justru dapat menyebabkan kanker

Ini adalah mitos. Vaksin HPV tidak berisi virus HPV, melainkan protein yang menyerupai kapsul HPV (inaktif). Sehingga tidak bisa berkembang biak dan tidak bisa menyebabkan kanker.

2. Vaksin HPV tidak halal karena ada kandungan babi

Ini juga mitos, Moms. Proses pembuatan vaksin HPV tidak menggunakan bahan yang bersinggungan atau mengandung babi. Vaksin HPV yang saat ini tersedia bahkan telah mendapat sertifikat produk halal IFANCA (Lembaga Sertifikasi Halal di Amerika Serikat). Pada label vaksin NusaGard & Gardasil tidak ada penulisan “mengandung/bersinggungan dengan babi”.

3. Vaksin HPV dapat menyebabkan rahim kering dan mandul

Ini adalah mitos. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa vaksin HPV sangat aman dan tidak menyebabkan rahim kering atau mandul. Vaksin HPV tidak akan berpengaruh apa pun terhadap kesehatan organ reproduksi.

4. Untuk mendapatkan vaksin HPV harus melakukan papsmear, sehingga tidak aman diberikan pada anak atau remaja

Pada anak-anak, tidak diperlukan papsmear dulu sebelum pemberian vaksin HPV, jadi Moms tidak perlu khawatir. Pemeriksaan papsmear sebelum vaksin HPV hanya perlu dilakukan oleh perempuan yang pernah menikah atau sudah berhubungan seks.

5. Efek samping vaksin HPV pada anak sangat berbahaya

Tidak ada efek samping vaksin HPV yang membahayakan. Sama seperti imunisasi lainnya, efek samping vaksin HPV umumnya hanya berupa demam, nyeri, atau bengkak di bekas suntikan dan akan hilang dalam 1-2 hari.

Itulah beberapa mitos fakta seputar vaksin HPV yang perlu Moms ketahui. Urgensi penyebaran informasi yang tepat seputar kanker leher rahim dan imunisasi HPV disampaikan Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan, dr. Prima Yosephine, MKM.

“Dalam upaya menurunkan angka kejadian kanker leher rahim di Indonesia, persebaran informasi yang tepat dan akurat memiliki peran yang sangat krusial. Edukasi yang tepat akan membantu masyarakat memahami bahwa kanker leher rahim adalah penyakit yang dapat dicegah, salah satunya melalui imunisasi HPV. Tak berhenti di edukasi, pemerintah terus berkomitmen memperluas cakupan imunisasi, bukan hanya bagi anak perempuan, tetapi juga anak laki-laki, sebagai bagian dari perlindungan komprehensif terhadap penyakit yang disebabkan oleh virus HPV,” jelas dr. Prima yang ditemui dalam acara press conference peringatan World Cervical Cancer Elimination Day di Jakarta beberapa waktu lalu. (MB/RF/Foto: Freepik)