BABY

Solusi Melindungi Bayi Prematur dari Infeksi Virus RSV


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Respiratory Syncytial Virus (RSV) merupakan salah satu penyakit pernapasan yang rentan dialami anak-anak, tak terkecuali bayi berisiko tinggi, termasuk bayi prematur. RSV menjadi virus penyebab utama infeksi saluran pernapasan bawah dengan kontribusi sekitar 60-80% pada bronkiolitis dan 30% pneumonia pada bayi dan anak-anak di dunia.

Gejala awal RSV sering kali disalahartikan sebagai flu biasa karena gejalanya yang serupa, seperti pilek, bersin, dan batuk ringan. Padahal infeksi RSV dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan berat dan bahkan meninggalkan dampak jangka panjang, termasuk peningkatan risiko asma, wheezing (mengi) kronis, serta penurunan fungsi paru di kemudian hari.

Waspada, RSV juga bisa dialami bayi prematur!

Setiap tahun, lebih dari 675.000 bayi lahir prematur di Indonesia, sehingga menempatkan Indonesia pada peringkat ke-5 di dunia dengan jumlah kelahiran prematur tertinggi. RSV masih menjadi ancaman serius bagi bayi prematur di Indonesia. Dengan sistem kekebalan dan fungsi paru-paru yang belum sempurna, bayi prematur memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi berat.

Hal ini senada dengan yang dikatakan Prof. Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A, Subsp. Neo., Dokter Spesialis Anak Subspesialis Neonatologi. “Bayi prematur memiliki risiko lebih tinggi karena paru-parunya belum berkembang sempurna. Selain itu, bayi prematur belum sempat menerima transfer antibodi pelindung dari ibunya secara optimal selama masa kehamilan, sehingga sistem kekebalan tubuh mereka masih sangat lemah dan rentan terhadap berbagai infeksi,” ujarnya saat acara bertajuk “Kenali RSV, Selamatkan Bayi Berisiko Tinggi” persembahan AstraZeneca.

Prof. Rina juga mengatakan bahwa dibandingkan bayi cukup bulan, bayi prematur memiliki kemungkinan dua hingga tiga kali lebih besar untuk dirawat di rumah sakit akibat infeksi RSV pada tahun pertama kehidupannya. Infeksi ini sering kali berkembang dengan cepat dan dapat memerlukan perawatan yang lebih lama serta intensif.

Baca juga: Bayi Prematur dan Masalah Kesehatan yang Kerap Dialami

Pencegahan dini infeksi RSV pada bayi prematur

Mencegah infeksi RSV pada bayi terutama yang risiko tinggi bisa dengan melakukan vaksinasi pada ibu hamil atau memberikan antibodi monoklonal pada bayi segera setelah lahir (imunisasi pasif). Monoklonal antibodi ini bukan vaksin, tetapi antibodi terhadap virus RSV.

Nah, salah satu monoklonal antibodi adalah Palivizumab. Cara kerja dari Palivizumab adalah dengan memblokir protein F, protein di permukaan RSV, sehingga mencegah virus memasuki sel dan menyebabkan infeksi.

Prof. dr Cissy Rachiana Sudjana Prawira, Sp.A(K), MSc, Ph.D., Dokter Spesialis Anak Konsultan Respirologi Anak mengatakan Palivizumab direkomendasikan bagi bayi dengan risiko tinggi. Kelompok ini termasuk bayi prematur, bayi dengan kondisi bronchopulmonary dysplasia (BPD), serta bayi yang memiliki penyakit jantung bawaan (congenital heart disease (CHD).“Palivizumab sendiri telah terbukti menurunkan angka rawat inap akibat RSV hingga lebih dari 50% pada bayi berisiko tinggi.” tambah Prof. Cissy.

Baca juga: Mengenal RSV, Virus Pernapasan yang Menyerang Bayi

Selain imunisasi pasif dengan pemberian antibodi monoklonal seperti Palivizumab, Moms dan Dads sebagai orang tua juga harus melakukan langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari untuk mencegah bayi prematur terpapar RSV.

“Upaya tersebut di antaranya dengan rajin mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit, memastikan sirkulasi udara di rumah tetap baik, serta membatasi aktivitas di tempat ramai,” tutup Prof. Rina. (MB/VN/Foto: Jcomp/Freepik, Dok. MB)